Sosok Suryadharma Ali di Mata Kader PPP: Orang Baik dan Berintegritas

Suryadharma Ali, yang wafat di RS Mayapada, Kuningan, Jakarta Selatan pada Kamis, 31 Juli 2025 pukul 04.30 WIB, memiliki peran penting dalam perjalanan politik kader PPP.

Diperbarui 31 Juli 2025, 11:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta- Wakil Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Amir Uskara, menyimpan kenangan mendalam tentang sosok Suryadharma Ali (SDA), tokoh yang tidak hanya menjadi senior politiknya, tapi juga pembuka jalan dalam kariernya di partai berlambang Kabah itu.

SDA, yang wafat di RS Mayapada, Kuningan, Jakarta Selatan pada Kamis, 31 Juli 2025 pukul 04.30 WIB, memiliki peran penting dalam perjalanan politik Amir. Di tengah tekanan internal partai, saat sebagian besar pengurus DPP PPP menginginkan sosok lain untuk memimpin DPW PPP Sulawesi Selatan, Suryadharma justru berdiri di belakang Amir.

“Almarhum Pak SDA sangat berkesan secara pribadi, karena beliaulah yang mempertahankan saya untuk menjadi Ketua DPW PPP Sulsel, saat sebagian besar pengurus menginginkan kandidat lain,” kata Amir, Kamis (31/7).

Tak hanya membela, SDA juga menunjukkan kepercayaan besar. Setelah Amir resmi menjabat sebagai Ketua DPW, dia diberi kewenangan penuh untuk menyusun daftar calon legislatif (caleg) DPR RI dari Sulawesi Selatan. Suatu mandat strategis yang jarang diberikan secara utuh di level partai.

Amir juga mengenang SDA sebagai pemimpin yang berani, konsisten, dan penuh integritas. Semasa menjabat sebagai Ketua Umum PPP periode 2007–2014, SDA memperlihatkan gaya kepemimpinan yang tegas, namun tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman yang moderat dan membumi.

“Beliau adalah sosok pemimpin yang tegas, berdedikasi, berintegritas, dan bersemangat dalam memperjuangkan nilai-nilai keislaman untuk diakomodir dalam aturan perundang-undangan,” ungkap Amir.

"Utamanya ketika beliau menjadi Ketua Umum PPP. Pengabdiannya dalam dunia politik dan keagamaan telah meninggalkan jejak berharga bagi bangsa Indonesia," sambungnya.

Rendah Hati dan Dekat dengan Kader

Komisaris Utama PT ASDP Indonesia Ferry sekaligus kader PPP, Achmad Baidowi atau Awiek, mengenang SDA sebagai sosok pemimpin yang rendah hati dan mudah dijangkau, meskipun saat itu menjabat sebagai Menteri Koperasi.

"Beliau mudah sekali diajak komunikasi, mudah dihubungi, meski posisinya sebagai menteri. Bahkan ketika diundang, sebisa mungkin beliau hadir," ujar Awiek, Kamis (31/7).

Awiek pun membagikan kenangan saat dua kali mengundang SDA ke pondok pesantren di pelosok Madura, Jawa Timur. Jarak dari Kota Pamekasan ke pondok sekitar 15 kilometer, namun hal itu tak menghalangi kehadiran SDA.

"Beliau datang dan mau. Itu padahal pondok kami itu jauh dari Kota Pamekasan masih 15 kilo (meter)," kenang Awiek.

Tak hanya sebagai pemimpin, SDA bagi Awiek juga adalah sosok guru. "Saya pun sekarang meskipun di BUMN banyak belajar dari beliau," sambungnya.

Di mata Awiek, SDA bukan sekadar tokoh senior di PPP, tetapi sosok yang berpengaruh besar dan menjadi panutan bagi para kader muda.

"Pak SDA itu orang baik, sangat berpengaruh. Saya pribadi mengenal beliau sejak masih di media, waktu beliau menjabat sebagai Menteri Koperasi," ujar Awiek.

Menurutnya, SDA adalah figur yang teguh memegang prinsip dan tidak mudah goyah dalam mengambil keputusan.

"Dia tidak bimbang apa yang dia ya beliau yakini benar ya udah itu dilaksanakan gitu. Saya kira menjadi dampak ya panutan dan petinggi politik bagi tokoh-tokoh muda di Indonesia," pungkasnya.

Selalu Berprasangka Baik

Hakim Konstitusi, Arsul Sani mengaku sangat kehilangan atas berpulangnya SDA. Sebagai mantan anak buahnya di PPP, Arsul mengenang sosok SDA sebagai pribadi yang baik.

"Pak SDA orang baik, selalu berprasangka baik (khusnudzon) dan mudah percaya sama orang," kata Arsul.

Arsul mengatakan, kebaikan SDA kerap disalah artikan dan dimanfaatkan untuk kepentingan yang tidak baik oleh orang lain. Dampaknya, membawa bencana hukum bagi SDA kala itu.

"Meski kemudian ada saja yang memanfaatkan sifat khusnudzonnya dan mudah percayanya itu sehingga membawa musibah hukum bagi beliau," kenang Arsul.

Sebagai rekan separtai pada saat itu, Arsul melihat SDA selalu perhatian terhadap para jajarannya. Momen paling diingat Arsul, khususnya saat pertama bergabung bersama partai berlambang Ka'bah tersebut adalah ketika dipercaya menjabat sebagai ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) DPP PPP.

"Pak SDA juga perhatian terhadap anak buah dan orang lain. Ketika saya bersedia diajak Pak Lukman Hakim Saifuddin & Pak Soleh Amin, SH masuk PPP, beliau menempatkan saya sebagai Ketua LBH DPP PPP meski baru saling kenal," kenang Arsul.

Arsul menambahkan, sebagai ketua umum PPP, kala itu SDA sering berdiskusi tentang persoalan hukum. Bukan sebagai atasan dan anak buah, melainkan rekan yang saling mengisi.

"Selama menjadi pengurus PPP dibawah beliau sebagai ketua umum, setiap diskusi isu hukum dengan beliau, maka itu sebagai obrolan antar teman, tidak model percakapan pimpinan dan ank buah," ungkap Arsul.

Sumber: Merdeka.com

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6