Liputan6.com, Jakarta Satu per satu misteri kematian Diplomat Muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Arya Daru Pangayunan yang tewas di kos-kosan dengan wajah terlilit lakban mulai terungkap.
Â
Penemuan tas yang dibawa Arya Daru ke Rooftop lantai 12 Gedung Kemlu sebelum ditemukan tewas menjadi petunjuk berharga. Tas itu berisi laptop, obat, hingga pakaian.
Advertisement
Â
Akan tetapi, fakta baru penemuan barang Arya Daru masih menyimpan kejanggalan. Salah satunya, handphone yang hilang dan belum ditemukan. Padahal, ponsel bisa menjadi kunci untuk membongkar komunikasi terakhir Arya Daru dengan pihak lain.
Â
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi mengungkapkan, ponsel milik Arya Daru hingga kini belum ditemukan. Dia tak mengungkap alasan pencarian ponsel ini membutuhkan waktu cukup lama.
Â
"Belum ditemukan," kata dia di Jakarta, Kamis (25/7).
Â
Meski ponsel tak kunjung ditemukan, Ade Ary mengklaim tak ada hambatan dalam mengungkap kasus kematian misterius Arya Daru.
Â
"Kami tidak menemui hambatan dalam proses ini," tegasnya.
Â
Polisi berjanji terus mencari ponsel Daru meski penyelidikan kasus ini nyaris tiga pekan.
Â
"Ponsel sampai dengan kapan pun akan tetap dicari ya, pasti akan tetap ini, akan dibutuhkan," kata Kasubbid Penmas Polda Metro Jaya, AKBP Reonald Simanjuntak kepada awak media di Jakarta, Senin (28/7/2025).
Â
Salinan Percakapan WA ADP Sebelum Tewas
Meski secara fisik ponsel tersebut belum ditemukan, tim siber Polri sudah mendapatkan salinan WhatsApp (WA) dan email dari device lain milik ADP sebelum dia ditemukan tewas.
Â
"Penyelidik menyatakan walaupun handphone hilang, tidak menghambat dalam pengungkapan dan untuk menemukan fakta apa yang terjadi, karena ada bukti digital. (Tim) cyber dapat mengandalkan email yang ada di koneksi laptopnya yang kebetulan terisi (data) handphone korban, WA dan emailnya," kata dia.
Â
Saat ini, penyidik sedang mencocokkan data yang sudah didapat dengan rekam jejak percakapan WhatsApp dengan istri korban dan temannya. Hasilnya, ada kecocokan.
Â
"Dikombinasikan dengan WA istri, WA teman, WA yang orang-orang yang sebelum beliau yang bersangkutan itu ditemukan sudah tidak bernyawa, itu handphone-nya kan semua sudah disinkronkan dengan apa yang terjadi," jelas Reonald.
Â
Bahkan, menurut Reonald, tidak sebatas chat dan email, pihak kepolisian sudah mendapatkan data taksi yang mengantar ADP. Sopir taksi itu pun sudah dimintai keterangannya.
Â
"Sopir taksi itu juga, sopir taksi yang mendapatkan orderan yang untuk mengantarkan orderan itu juga sudah diambil keterangan," ujar Reonald menandasi.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5297374/original/043244200_1753683655-WhatsApp_Image_2025-07-28_at_12.38.12.jpeg)
Advertisement
Ada Obat-Obatan, ADP Punya Riwayat Penyakit?
Selain obat-obatan, Reonald menambahkan, ada juga rekam medis yang bersangkutan pada Juni 2025 dari salah satu rumah sakit di Jakarta.
Â
"Ada ditemukan surat rawat jalan beliau dari salah satu rumah sakit umum di Jakarta, tanggalnya saya lupa, tapi di catatan bulan Juni 2025," jelas dia.
Â
Saat ditanya soal jenis obat dan hasil rekam medis, Reonald menegaskan informasi tersebut adalah ranah privasi dari yang bersangkutan.
Â
"Enggak bisa saya kasih tahu ya, karena itu masuk ke privasi," kata Reonald.
ADP Sempat ke Mal untuk Belanja
Rekaman CCTV terbaru soal kematian diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemlu) berinsial ADP, memperlihatkan sosoknya berada di rooftop kantornya, Minggu 7 Juli 2025 pada malam hari.
Â
Polisi mengungkap, sebelum berada di rooftop ternyata ADP baru selesai berbelanja di salah satu mal besar kawasan Jakarta Pusat.
Â
"Jadi (ADP) sempat belanja di salah satu tempat perbelanjaan di Jakarta Pusat, lalu ke ya terakhir di rooftop itu," kata Reonald.
Â
Saat ditanya lebih jauh, sedang apa ADP di mal tersebut, Reonald mengatakan yang bersangkutan baru saja selesai berbelanja.
Â
"Iya, kan dari belanja dia," ucap dia.
Â
Reonald memastikan, bukti berbelanja dari ADP diketahui dari kantong belanja yang ditemukan bersamaan dengan tas yang ditinggalkan di lantai 12 gedung Kemlu dekat rooftop tempat ADP terlihat.
Advertisement
Asal Usul Lakban Kuning
Asal usul lakban kuning yang melilit kepala diplomat muda Kemlu juga mulai terungkap. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi menuturkan, lakban kuning terebut dibeli di Yogyakarta.
Â
"Terkait dengan Lakban kuning, berdasarkan keterangan istri korban, bahwa lakban tersebut dibeli pada akhir bulan Juni di Toko Merah, Gedong Kuning, Yogyakarta," kata Ade.
Â
Selain ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP), indekos kawasan Gondangdia Kecil, Menteng, Jakarta Pusat, lakban juga ada di rumah korban di Yogyakarta.
Â
"Segera akan diserahkan ke penyidik sebagai pembanding," lanjut Ade.
Â
Berdasarkan hasil penelusuran polisi dari pemeriksaan rekan kerja korban, bahwa lakban kuning tersebut biasa digunakan pegawai Kemlu yang berpergian keluar negeri.
Â
"Guna mempermudah mencari barang saat di bandara, mengingat fungsinya sebagai penanda karena warna mencolok," pungkasnya.
Â
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5496891/original/097309800_1770608635-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T103958.761.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710243/original/038928400_1782790135-IMG_3966.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715404/original/084148600_1782803575-Cek_fakta_bsu_25_juta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8714532/original/000144500_1782797436-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-30T122233.633.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3884475/original/ACg8ocLPzfWW6auvgQa_dor5DOxbSAFvt9Q8dzlB97XYclrNTo6hFg%3Ds200.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5294053/original/097845400_1753349376-Screenshot_2025-07-24_153541.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715414/original/056650500_1782804083-AP26180851266408.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711445/original/003693600_1782792455-000_B8QK6YV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715315/original/077601700_1782799662-Netherlands__Jan_Paul_van_Hecke.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8714917/original/028527700_1782798194-Brazil_s_Gabriel_Martinelli.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625301/original/096522400_1782619158-000_B8K37NR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8713141/original/058795600_1782795003-Germany_players_are_dejected.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513256/original/026711200_1782437004-AP26176799194484.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710893/original/011996500_1782791219-WhatsApp_Image_2026-06-30_at_10.43.26__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8709002/original/001727100_1782787701-000_B8QH9N2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711341/original/045734100_1782792164-IMG-20260630-WA0021.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263744/original/028849200_1781996788-AP26171656106233.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309790/original/022314100_1782176318-000_B7XQ8ZR.jpg)