Cerita Karyawan Minimarket Dikomplain Gara-Gara Kasus Beras Oplosan

Di balik rak-rak minimarket yang tertata rapi, ada wajah-wajah lelah para karyawan yang kini dihujani pertanyaan hingga amarah dari pelanggan.

Diterbitkan 25 Juli 2025, 06:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Karyawan minimarket hadapi amarah pelanggan terkait skandal beras oplosan.
  • Instruksi berubah, beras Sania ditarik lalu dijual lagi setelah diuji.
  • Penjualan beras turun, pelanggan beralih merek meski ada diskon.

Liputan6.com, Jakarta- Di balik rak-rak minimarket yang tertata rapi, ada wajah-wajah lelah para karyawan yang kini dihujani pertanyaan hingga amarah dari pelanggan. Semua berawal dari skandal beras oplosan yang bikin publik rugi Rp99 triliun per tahun.

Resa (24), Asisten Kepala Toko Alfamidi di Cikahuripan, Klapanunggal, Bogor, menjadi salah satu karyawan yang terkena imbas. Beberapa hari lalu, dia ditegur langsung oleh sejumlah pelanggan karena beras merek Sania yang masuk daftar beras oplosan masih terpajang di rak.

“Waktu ditegur dan dimarahi pelanggan, saya diam saja. Saya kan cuma karyawan, jalankan perintah atasan,” ujar Resa sambil tersenyum pahit, Kamis (25/7/2025) malam.

Dia mengaku, instruksi dari atas sudah jelas. Dua pekan lalu, semua beras Sania lima kilogram harus ditarik dari rak. Tapi hanya berselang tiga hari, perintah berubah. Beras itu kembali boleh dijual.

“Mungkin karena sudah diuji dan dinyatakan aman,” katanya pelan.

Resa sendiri tak sepenuhnya paham. Yang dia tahu, pekerjaannya menata, menjual, dan menjaga etalase.

Sepinya Rak Beras Alfamidi

Sejak kabar beras oplosan mencuat, suasana minimarket tempat Resa bekerja tak lagi sama. Rak beras yang dulu tak pernah sepi, kini justru sepi pembeli.

"Dulu bisa terjual lebih dari 50 kilo per hari," ucapnya pelan. "Sekarang paling banyak 15 kilo."

Untuk menarik kembali kepercayaan pelanggan, toko mulai memberi potongan harga. Beras lima kilogram yang sebelumnya dijual Rp74.500, kini dibanderol Rp73.500.

“Diskon sekitar seribuan,” katanya sambil membenarkan name tag di seragamnya.

Namun, upaya diskon belum sepenuhnya berhasil. Resa mencermati perubahan selera pelanggan. Beras Sania, yang sebelumnya jadi andalan penjualan, kini tak lagi jadi pilihan utama. Pelanggan beralih ke merek lain, salah satunya beras Raja.

“Orang sekarang lebih pilih aman, kayaknya takut salah beli,” ujar Resa.

Isu Oplosan Tak Goyahkan Rak Beras Alfamidi & Indomaret

Tak jauh dari Alfamidi tempat Resa bekerja dan menghadapi pelanggan yang mulai curiga, dua minimarket lain justru tampak tenang. Alfamart dan Indomaret berdiri berdampingan di sudut jalan, menjual beras seperti biasa seolah skandal beras oplosan tak pernah ada.

“Kalau di sini, Sania paling laris,” ujar Jidan (20), karyawan Alfamart, sambil menunjuk rak berisi kemasan lima kilogram.

Dia mengaku, sempat ada penarikan beras Sania dari etalase, tapi hanya sebentar. Tak lama, produk itu kembali dipajang dan tetap jadi favorit pelanggan. Tak ada protes, tak ada keluhan.

“Pelanggan tetap beli kayak biasa,” tambahnya.

Situasi serupa terlihat di Indomaret. Asep (28), salah satu karyawannya, memastikan semua beras yang berpotensi bermasalah sudah ditarik sejak awal kabar mencuat. Kini, hanya Beras Ramos, Larrist, dan Pandan Wangi yang menghuni rak.

“Yang sekarang ini sudah aman semua,” katanya yakin.

Meski tanpa diskon atau promosi khusus, penjualan tetap stabil. Mungkin karena kepercayaan pelanggan belum sepenuhnya terkikis.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6