Penerimaan Cukai Tembus Rp122,9 Triliun di Tengah Gejolak Ekonomi Global

Menkeu menegaskan, APBN tetap bekerja keras untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tantangan global.

Diperbarui 26 Juni 2025, 20:38 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • APBN tetap stabil jaga ekonomi nasional di tengah tantangan global.
  • Penerimaan bea cukai capai Rp122,9 triliun, tumbuh 12,6% didorong bea keluar.
  • Bea Cukai lakukan 12.582 penindakan, nilai barang sitaan capai Rp6,9 triliun.

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah tekanan ekonomi global akibat ketegangan geopolitik dan risiko inflasi, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mencatat kinerja positif dalam penerimaan negara dan pengawasan hingga Mei 2025.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers APBN KiTa, Selasa, menegaskan bahwa APBN tetap bekerja keras untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tantangan global.

“APBN tetap terjaga dan terus melaksanakan tugasnya untuk menjaga perekonomian dan masyarakat,” ujar Sri Mulyani.

Kepala Subdirektorat Humas dan Penyuluhan Bea Cukai, Budi Prasetiyo, menyampaikan bahwa hingga Mei 2025, penerimaan kepabeanan dan cukai telah mencapai Rp122,9 triliun atau 40,7 persen dari target APBN. Angka tersebut tumbuh 12,6 persen secara tahunan (year-on-year), didorong oleh kinerja penerimaan dari bea keluar dan cukai.

“Pengawasan Bea Cukai menunjukkan kinerja positif terutama dalam efektivitas penindakan, sebagai bentuk upaya untuk melindungi masyarakat dan mengamankan perekonomian nasional dari barang ilegal dan penyelundupan,” kata Budi.

Budi mencatat, hingga Mei 2025, Bea Cukai telah melakukan 12.582 penindakan di bidang kepabeanan dan cukai, dengan estimasi nilai barang hasil penindakan mencapai Rp6,9 triliun. Angka ini meningkat 146,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

 

Catat Pertumbuhan Positif

Sementara itu, penindakan terhadap narkotika, psikotropika, dan prekursor (NPP) bersama aparat penegak hukum tercatat sebanyak 679 kasus, dengan barang bukti mencapai 6,5 ton, atau naik 176,8 persen secara tahunan.

Dari sisi insentif fiskal, Budi menyebut kegiatan ekonomi di kawasan berfasilitas masih mencatat pertumbuhan positif. Sampai Mei 2025, insentif kepabeanan yang diberikan mencapai Rp16,8 triliun atau tumbuh 21,3 persen. Pertumbuhan ini ditopang oleh insentif untuk kawasan berikat, kawasan ekonomi khusus (KEK), serta sektor pertahanan dan keamanan.

“Kami ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak terutama masyarakat atas kerja sama dalam mendukung kinerja APBN di sektor kepabeanan dan cukai. Kami berharap APBN dapat terus terjaga, sehingga tetap mampu menjaga perekonomian dan masyarakat,” tutup Budi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6