Liputan6.com, Jakarta Mohamad Syafi’ Alieha, atau akrab disapa Savic Ali, barangkali bukan nama yang bersinar di panggung politik pasca-Reformasi. Tapi ia adalah salah satu saksi sejarah gerakan 1998 silam.
Ia bagian dari denyut gerakan mahasiswa, untuk turun ke jalan menumbangkan pemerintahan Presiden Soehato.
Kini kehidupan berubah. Savic Ali memilih menjauh dari hiruk-pikuk kekuasaan dan fokus mencerdaskan bangsa.
Advertisement
Savic menjadi aktivis jauh sebelum Mei 1998. Peristiwa berdarah 27 Juli 1996, penyerbuan Kantor DPP PDI di Jakarta yang kemudian dikenal sebagai Peristiwa Kudatuli, menjadi pemantik.
"Saya sejak kuliah terlibat aktif di pers mahasiswa jadi punya concern terhadap persoalan-persoalan sosial politik dan kekerasan negara pada zaman itu. Saya sudah terlibat sejak Peristiwa 27 Juli 1996," kata Savic memulai perbincangan kepada Liputan6.com, Kamis (22/5/2025).
Setahun kemudian, Indonesia dilanda krisis moneter, ia menyaksikan harga-harga melonjak dua kali lipat. Rupiah terperosok dari Rp 2.300 menjadi Rp 15.000 per dolar. Situasi itu menjadi titik balik.
"Gara-gara situasi eksternalnya memang buruk masyarakat semua mengeluh dengan naiknya harga-harga akhirnya memicu teman-teman aktivis mengorganisir kalangan yang lebih luas, mahasiswa-mahasiswa lain yang sebelumnya mungkin tidak punya background pergerakan," ujar dia.
Buat Agitprop
Saat itu, Savic bukan orator lapangan. Ia tidak menggedor pagar DPR atau mengomando massa dari atas truk.
Dia justru menjadi penulis rilis, perumus pernyataan sikap, dan penggerak dari balik layar. Ia ikut dalam Forum Kota perwakilan kampus yang mengikuti rapat. Forum ini tak punya struktur, tak mengenal ketua, dan tak ada pengurus tetap.
Hanya ada pertemuan-pertemuan yang berlangsung larut malam. Rapat berpindah dari ISTN, UKI, Atmajaya, Universitas Pancasila, UNJ, dan UI. Diskusi, perencanaan aksi, penggalangan dukungan.
"Jadi hampir setiap hari, hampir setiap malam itu memang rapat di kampus-kampus, pindah-pindah, mengorganisasi dari kampus ke kampus," ujar dia.
Di sinilah Savic sibuk membuat buletin, menyusun pernyataan sikap, menyebar newsletter gerakan.
Dengan latar belakang pers mahasiswa, Savic menjadi tukang ketik perlawanan. Ia tahu bagaimana mengemas kemarahan menjadi pernyataan politik yang ringkas dan tajam.
"Saya handle soal propaganda waktu itu Bikin pernyataan sikap, newsletter hal-hal yang terkait menulis. Karena saya punya background pers-mahasiwa Jadi banyak kalau terkait ada hal-hal yang perlu ditulis perlu dikomunikasikan kebanyakan saya yang ngerjain," ucap dia.
Advertisement
Puncak Perlawanan
Hidup di tengah ketegangan perlawanan terhadap rezim Orde Baru membuatnya akrab dengan represi. Ditangkap, ditahan semalam dua malam, dikejar tentara bersenjata lengkap saat demo. Tapi Savic mengaku cukup beruntung, ia tidak sampai dipukuli sampai babak belur. Tak seperti sebagian temannya yang tertembak, atau divonis penjara.
"Kekerasan ya hampir setiap demonstrasi, dulu yang dihadapi tentara-polisi bersenjata Jadi pengalaman kekerasan lazim dan sering. Memang negara pada saat itu berbicara selalu dengan kekerasan," ujar dia.
Puncak perlawanan mahasiswa terjadi pada Mei 1998, ketika ribuan mahasiswa menduduki kompleks Gedung DPR/MPR. Savic turut berada di sana, bersama lautan massa yang memaksa Soeharto mengundurkan diri.
"Saya menyaksikan bahwa rakyat Indonesia Masih peduli pada nasib negaranya dan punya keberanian untuk bergerak dan mengatakan tidak pada kekuasaannya yang dianggap sudah berlebihan. Buktinya jutaan warga bukan hanya mahasiswa dari berbagai penjuru, berbagai kota itu Ikut turun ke jalan," ujar dia.
Tuntutan gerakan 1998 sebagian besar, tercapai. Dwi fungsi ABRI dihapus. Kebebasan sipil tumbuh. Orang miskin mulai bisa berobat ke rumah sakit dengan BPJS. Anak-anak dari keluarga tak mampu bisa mengakses beasiswa, bahkan kuliah ke luar negeri lewat program LPDP. Teman-teman Tionghoa yang dulu dicegah merayakan Imlek dan bermain barongsai, kini bebas mengekspresikan identitasnya. Namun, memang belum sempurna.
"Dwi Fungsi ABRI sudah dicabut, tetapi tidak sepenuhnya karena sekarang juga tentara aktif di sektor-sektor Sipil. Artinya sebagian terwujud, sebagian juga nggak. KKN malah menjadi-jadi, kalau dulu KKN dilakukan hanya oleh kroni Cendana, kroni Pak Harto sekarang KKN dilakukan oleh semua elit di segala level dari pusat sampai daerah," ujar dia.
"Artinya kan ini Nggak terwujud harapan Pemerintahan yang bersih clean government dan tata kelola yang baik good government tidak terwujud," timpal dia.
Pilih Jalur Berbeda
Setelah reformasi, banyak kawan seperjuangan kemudian melompat ke panggung politik. Ada yang masuk parlemen, duduk di kursi menteri, menjadi komisaris, bahkan ikut dalam lingkar kekuasaan yang dulu mereka tentang.
Savic memilih jalan berbeda. Ia membangun NU Online, menggagas salah satu media online islami, dan mengembangkan ratusan konten literasi digital untuk kalangan NU. Ia kini menjabat Ketua PBNU bidang Media dan Teknologi.
"Saya tidak cocok hidup di lingkungan politiisi yang obsesif terhadap kekuasaan. Saya lebih senang dengan dunia buku. Saya kurang cocok dengan lingkungan politik yang sarat dengan ambisi dan punya kecenderungan menghalalkan segala ajaran," ujar dia.
"Saya merasa lebih bermanfaat dengan membantu lahirnya banyak penulis-penulis muda dan intelektual Intelektual muda khususnya di lingkungan NU," sambung dia.
Pilihan itu bukan tanpa resiko. Hidupnya tak bergelimang harta seperti sebagian rekannya terjun ke dunia politik. Tapi Savic merasa cukup. Ia percaya media, literasi, dan dunia digital adalah medan baru perjuangan.
"Saya juga punya prinsip orang harus berada di tempat di mana ia bisa berkontribusi maksimal. Saya punya sedikit kemampuan bisnis, paham dunia digital, teknologi, bisa bikin aplikasi, jualan online, menerbitkan buku. Saya merasa cukup hidup dengan cara ini, tanpa harus menjadi pejabat," ucap dia.
Advertisement
Tak Merasa Kekurangan
Savic tak menampik, teman-teman yang aktif di politik hidupnya relatif lebih mapan. Tapi ia tak merasa kekurangan. Ia juga menyadari ada stereotip miring soal aktivis 1998.
"Banyak juga yang nggak aktif di politik tapi hidupnya cukup baik tapi tidak sedikit Juga yang memang hidupnya kekurangan, makanya kadang-kadang kalau ada orang ngomong jadi aktivis ntar ya ujung-ujungnya jadi politisi berengsek juga, saya kadang-kadang keberatan dengan sesuatu itu," ujar dia.
Kepada generasi muda, Savic menyampaikan nasib tidak hanya ditentukan oleh kerja keras pribadi, tapi juga oleh negara. Savic masih percaya bahwa negara punya peran besar dalam menentukan nasib generasi. Negara bisa menggagalkan mimpi. Itulah sebabnya, kata Savic, generasi muda mesti peduli pada apa yang terjadi di atas sana.
Dia mencontohkan isu kepemilikan rumah. Anak muda bisa bekerja keras, tapi jika tidak ada kebijakan negara yang berpihak, misalnya lewat subsidi atau regulasi perumahan, mereka tidak akan bisa memiliki tempat tinggal yang layak.
"Generasi sekarang harus sadar peduli dengan apa yang terjadi di level negara Karena nasib masa depan mereka dipengaruhi juga oleh baik buruknya negara. Makin baik negara, masa depan generasi juga akan makin baik tapi makin buruk negara, masa depan generasi juga akan makin buruk," dia mengakhiri.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8668432/original/066093000_1782703201-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-29T101610.906.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463779/original/049305200_1767670885-Screenshot_2026-01-06_103951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4919749/original/034086800_1723781524-000_36EC7XK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/569920/original/073763900_1744978909-20250226_142410.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4195008/original/074243500_1666066389-910f24f2-26fb-4027-8d3b-10fc907b08f6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/50717/original/027676700_1521009097-cropped-19290640.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259253/original/099827400_1781493084-AP26165774269127.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4864218/original/041026400_1718404435-AP24166759629724.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263966/original/082388400_1782038241-000_B7RC3ZV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5415752/original/060786800_1763419826-000_84BP8PA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8525155/original/017274300_1782455154-AP26176798846634.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8452334/original/003376600_1782349228-ney.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259033/original/064642600_1781436681-000_B6Z637Y.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8668326/original/051794500_1782703035-AP26179791541483.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259121/original/085743200_1781464083-063_2281573951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540213/original/078998400_1774689981-AP26086742238879.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5241643/original/000306500_1749004088-AP25154539148672.jpg)