Dituduh Kawan GAM, Pemilik Hotel Rajawali Ditangkap

Cut Nur Asikin dituding bekerja sama dengan GAM. Saat hendak dicokok, polisi sempat menembak seorang separatis. Di Bireun, sebuah mobil Mitsubishi L-300 dibakar enam lelaki bersenjata tanpa seragam.

Diterbitkan 21 Mei 2003, 08:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Banda Aceh: Keberadaan kawan atau lawan di Tanah Rencong, mungkin belakangan ini sulit dipastikan. Maklum, situasi di sana tengah memanas pascapemberlakuan status darurat militer [baca: Aceh Darurat Militer]. Buntutnya buat pemerintah, siapa pun yang dicurigai, mesti dicokok, demi meraih sekadar informasi. Nasib itulah yang dialami Cut Nur Asikin, yang dibekuk polisi sejak Selasa (20/5), sekitar pukul 17.30 WIB. Pemilik Hotel Rajawali itu ditangkap dengan tuduhan telah bekerja sama dengan Gerakan Aceh Merdeka. Menurut pemantauan SCTV, hingga tadi malam, tokoh wanita yang dikenal vokal tersebut masih ditahan di Markas Kepolisian Resor Kota Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam.

Kepala Polresta Banda Aceh Ajun Komisaris Besar Polisi Alfons Toluhula membenarkan ihwal penangkapan Cut Nur. Kendati demikian, dia belum merinci bentuk kerja sama yang dilakukan perempuan itu dengan kelompok separatis bersenjata di Bumi Serambi Mekah. Cut Nur diringkus di kediamannya di kawasan Lampilo Baru, yang lokasinya tak jauh dari hotel. Kebetulan saat penggerebekan, seorang anggota GAM mengetahui kedatangan polisi. Lelaki itu pun terpaksa ditembak karena berupaya buron. Akhirnya, anggota GAM itu langsung dilarikan ke rumah sakit.

Selain dikenal sebagai tokoh setempat, nama Cut Nur muncul kembali ketika sebanyak 48 anggota Komite Keamanan Bersama (JSC, Joint Security Committee) dari GAM dilaporkan menghilang dari Hotel Rajawali. Peristiwa itu terjadi hanya selang sehari setelah Juru Bicara GAM Sofyan Ibrahim Tiba dan tiga tokoh lainnya dibekuk polisi [baca: Sofyan Tiba Resmi Dijadikan Tersangka Kasus Pemboman]. Cut Nur sempat mengklarifikasi ihwal kepergian ke-48 anggota GAM yang tak jelas batang hidungnya. Menurut perempuan itu, para anggota pemantau dari GAM tersebut telah meninggalkan tempat penginapannya secara bergelombang dengan menggunakan mobil milik JSC.

Di saat yang sama, kasus kekerasan di Aceh yang dilakukan massa bersenjata masih terus berlangsung. Di kawasan Kabupaten Bireun, Aceh Utara, sebuah mobil Mitsubishi jenis L-300 dilaporkan dibakar sekelompok orang bersenjata yang menggunakan pakaian sipil. Musibah itu terjadi ketika mobil milik perusahaan travel CV Mandala itu di tengah perjalanan dari Langsa menuju Banda Aceh. Mendadak, mobil minibus yang mengangkut 12 orang--di antaranya perempuan dan anak-anak--tersebut dicegat enam orang bersenjata tanpa seragam. Untunglah tak ada korban dalam insiden pembakaran mobil itu. Saat ini, sebagian dari ke-12 orang tadi tengah berada di rumah penduduk. Sementara sebagian lainnya memilih menginap di penginapan, sebelum mendapatkan angkutan ke tempat tujuan.

Kelompok lelaki tadi sempat menanyakan, mengapa para penumpang masih nekat melakukan perjalanan di tengah situasi yang memanas. Merasa tak puas, sontak timah panas bersarang di ban mobil. Satu per satu penumpang pun diperintahkan keluar. Hanya selang beberapa saat, mobil tadi langsung dibakar, sang pelaku pun menghilang. Tak berapa lama kemudian, sebuah mobil pemadam kebakaran segera beraksi memadamkan api.

Situasi di ruas jalan raya di sepanjang jalur di Bireun memang sepi. Angkutan umum atau yang sering disebut warga setempat dengan labi-labi memilih tak beroperasi. Tak heran, bila wilayah tersebut dinilai masih rawan, meski ratusan tentara sudah diterjunkan ke sana [baca: Bireun Mencekam, TNI Menambah Kekuatan]. Sebanyak satu Batalyon Marinir yang tergabung dalam Pasukan Pemukul Reaksi Cepat diharapkan bisa mengendalikan situasi keamanan di wilayah Bireun. Panglima Daerah Militer Iskandar Muda Mayor Jenderal TNI Endang Suwarya selaku Penguasa Darurat Militer Aceh pun berencana memberlakukan jam malam di Bireun dan Pidie.

Kekacauan sejenis juga terjadi melanda sejumlah sarana fasilitas umum, seperti sejumlah gedung sekolah [baca: Gedung-Gedung Sekolah di Aceh Dibakar]. Gubernur NAD Abdullah Puteh berjanji akan segera membangun tenda-tenda darurat untuk menampung para murid yang telantar. Sejauh ini, pemerintah memang sudah menegaskan bahwa bersabar menghadapi mereka, sehingga perlu mengambil kebijakan darurat militer [baca: Presiden: Kesabaran Pemerintah Sudah Habis].(BMI/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6