Harta Karun &quotSatria Piningit&quot untuk Membayar Utang

Soenoso Goroyo Soekarno ingin ikut melunasi utang negara. Caranya, ia mengaku memiliki emas murni batangan dan obligasi yang bernilai triliunan rupiah. Harta karun ini hasil bertapa selama beberapa tahun.

Diterbitkan 17 Mei 2003, 08:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Utang luar negeri pemerintah masih menjadi masalah klasik. Himpitan utang yang menumpuk tak pelak membuat Indonesia terpuruk dalam krisis ekonomi berkepanjangan. Sudah banyak upaya dilakukan untuk mengantisipasi pembengkakan utang. Sayang, hingga kini belum membuahkan hasil yang positif. Adalah Soenoso Goroyo Soekarno yang menawarkan ide untuk membayar utang. Lelaki yang menyebut dirinya "satria piningit" ini mengaku mempunyai harta karun hasil bertapa. Jumlahnya tak sedikit, mencapai triliunan rupiah. Bahkan sebagian di antara hartanya berupa obligasi dan emas batangan. Dia mengaku ingin menyumbangkan kekayaannya untuk membayar utang negara.

Baru-baru ini, Soenoso mengundang wartawan untuk memperlihatkan harta karun miliknya. Melihat banyak kuli tinta yang datang, ia pun berpakaian putih mirip baju dinas bupati plus lambang negara di dada kiri. Di hadapan pers, Soenoso mempertontonkan emas murni batangan, platinum atau emas putih, sertifikat deposito, dan obligasi. Dia mengaku memiliki empat surat obligasi, satu di antaranya berasal dari National Bank de Nedherland bernilai US$ 870 juta. Sedangkan tiga surat obligasi lainnya berasal dari Creditte Suisse Bank, masing-masing bernilai US$ 265 juta, US$ 172 juta, dan US$ 570 juta. Tak lupa, ia juga memperlihatkan surat-surat yang mendukung keaslian dan kepemilikan barang berharga itu.

Soenoso mengaku, berhasil mengumpulkan harta karun tersebut setelah bertahun-tahun bertapa di beberapa tempat "keramat". "Ini saya peroleh di tiga lokasi. Gunung Lawu, Lumajang [Jawa Timur], dan terakhir di daerah Palembang [Sumatra Selatan} di Mehsuci," kata Soenoso. Pria bertampang kelimis ini juga mengaku memiliki tongkat yang digunakan oleh mantan Presiden Soekarno.

Anehnya, Soenoso berkeras tak bersedia menyebutkan jati dirinya. Ia hanya ingin menyumbangkan seluruh harta tersebut untuk membantu pembayaran utang luar negeri Indonesia. Saat ini Soenoso berharap agar pemerintah bisa menjamin keamanan dirinya serta seluruh harta yang dimiliki.

Boleh jadi Soenoso ini terinspirasi oleh Menteri Agama Said Agil Husein Al Munawar yang juga sempat mempercayai adanya harta karun peninggalan kerajaan zaman dulu. Bahkan, Menag juga sempat menyuruh kuli bangunan membongkar Situs Batutulis di Bogor, Jawa Barat [baca: Menag Kembali Meminta Maaf]. Namun upaya itu tak berlanjut setelah ditentang sejumlah kalangan dan masyarakat Pasundan. Dan akhirnya Menag pun meminta maaf dan menyadari perbuatannya adalah kekhilafan seorang manusia biasa.(DEN/Dian Wignyo dan Gatot Setiawan)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6