Tindik Tubuh, Antara Nyeri dan Seni

Body piercing dilakukan demi seni, tuntutan komunitas, mengikuti trend, melestarikan tradisi kuno hingga untuk menyakiti diri. Tindik di lidah dan pusar bisa berbahaya jika tak higenis.

Diterbitkan 25 Januari 2003, 07:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Cara orang mengekspresikan diri tak sama. Ada yang sudah nyaman dengan bergaya seperti orang kebanyakan. Tapi, tak sedikit yang lebih sreg tampil beda. Nah, tindik tubuh atau body piercing bisa disebut pilihan bagi mereka yang ingin dilihat unik.

Alasan orang menindik tubuh beragam. Mulai dari penasaran, demi seni, meneruskan tradisi nenek moyang, biar dibilang keren alias cool hingga tuntutan komunitas. Bahkan ada juga yang menindik tubuhnya dengan argumen yang rada tak biasa: senang menyakiti diri. Duh. Namun, ada yang karena trend. Sebab tidak seperti tato yang susah dihapus, jika bosan hiasan tindik bisa dilepas.

Semua orang mungkin dekat dengan tindik telinga. Tapi, di luar itu banyak sekali bagian tubuh yang bisa dilubangi. Mulai dari alis, hidung, bibir, dagu, lidah, puting, pusar dan organ yang biasa tertutup rapat. Dari sudut sejarah, tindik adalah satu cara manusia menghiasi tubuh dan penampilannya. Masing-masing negara menggunakan tradisi tua ini sesuai kebudayaan yang dianut. Sekitar lima ribu tahun lampau, di Mesir, tindik di pusar menjadi ritual, tentara Romawi menindik putingnya untuk menunjukkan kejantanan, Suku Maya menindik lidah sebagai ritual spiritual, dan anggota Kerajaan Victoria dahulu memilih menindik puting dan alat genitalnya.

Soal sakit jangan ditanya. Sebab, itu relatif, tergantung masing-masing orang. Yang pasti, proses penyembuhan tindik memakan waktu tergantung bagian tubuh yang dilubangi. Tindik di tulang rawan telinga dan pusar misalnya membutuhkan waktu empat bulan sampai setahun serta dua hingga empat bulan untuk tindik lubang hidung. Sedangkan penyembuhan tindik alat genital perempuan membutuhkan tempo empat sampai 10 minggu sedangkan alat vital pria makan tempo empat minggu sampai enam bulan.

Proses tindik bisa dibilang singkat. Tindik di pusar misalnya cuma butuh waktu 15 menit. Rio, seorang penindik mengaku tak memiliki pendidikan khusus sebagai body piercer. Keahlian yang sudah ditekuni sejak 1998 ini diasah dari internet dan pengalaman. Saking piawainya beberapa tindik di bagian tubuhnya dilakukan sendiri. Biaya penindikan berkisar antara Rp 100 ribu dan untuk anting-anting mencapai Rp 400 ribu hingga Rp 4 juta.

Di sanggar Rio, alat yang digunakan sangat sederhana. Bolpoin, alat penggaris, dan alat penindik serta alkohol untuk mengeringkan luka. Namun, dari segi kesehatan, tindik bisa berbahaya. Memang, body piercing tak mengganggu urat syaraf. "Tapi tetap membuat luka" kata dr Amaranila Drijono SpKK. Dokter spesialis kulit dan kelamin ini menjelaskan, tindik di telinga masih aman. Karena di tulang rawan, lukanya mudah dikontrol dan infeksinya bisa dilokalisir. "Tapi di pusar dan lidah, sulit mengontrol luka dari gesekan bahan-bahan yang tak higenis," kata Amaranila mengingatkan.(TNA/Esther Mulyani dan Yuli Sasmito)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6