Sukses

Rayuan Maut Partai Nasdem Dekati PKS dan Anies Baswedan

Liputan6.com, Jakarta - Partai Nasdem mulai bergerilya. Meski masih tergabung dalam koalisi pendukung Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin, Partai Nasdem tak malu tebar pesona.

Partai besutan Surya Paloh ini mulai menjalin komunikasi politik dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Tak hanya PKS, Gubernur Anies Baswedan juga didekati Nasdem.

Pertemuan antara petinggi Nasdem dan PKS akhirnya telaksana pada Rabu 30 Oktober 2019 lalu. Ketum Nasdem Surya Paloh menyambangi Presiden PKS, Sohibul Iman di DPP PKS, Jakarta. Paloh dan beberapa anak buahnya mendapat sambutan hangat dari Sohibul Iman dan para kader PKS.

Ketika itu, Paloh datang dengan wajah semringah dan langsung bersalaman hangat. Tak lupa keduanya cipika-cipiki.

"Apa kabar Adinda?" sapa Surya kepada Sohibul di lokasi.

"Alhamdulillah," jawab Sohibul.

Mereka pun langsung melakukan pertemuan internal yang digelar secara tertutup. Mendampingi Surya Paloh, tampak hadir Sekjen sekaligus Menteri Kominfo Jhonny G Plate. Selain itu ada pula Bendahara Umum DPP Nasdem Ahmad Ali dan Ketua DPP Nasdem Rachmad Gobel.

Usai pertemuan tertutup itu, kedua pimpinan parpol itu masih malu-malu mengungkapkan kemungkinan koalisi.

Sebagai tuan rumah, Sohibul Iman menyebut bahwa pertemuannya dengan Paloh dan petinggi Partai Nasdem masih sebatas tahap penjajakan.

Sohibul menyebut, pihaknya akan terus membuka ruang diskusi dan komunikasi dengan Nasdem. Ia berharap, komunikasi tersebut akan menghasilkan konsolidasi untuk Pilkada 2020 mendatang.

"Nanti kita akan komunikasi, nah dari komunikasi itu mungkin nanti ada peluang untuk kita bekerja sama, misal di Pilkada gitu. Tapi itu belum kami bicarakan hari ini," ungkap Sohibul di Kantor DPP PKS, Jakarta, Rabu 30 Oktober 2019.

Sohibul melanjutkan, tidak ada pembicaraan khusus mengenai sikap politik kedua partai. Menurutnya, masih terlalu jauh mengaitkan PKS bakal berkoalisi dengan Nasdem pada Pilpres 2024.

"Kita belum berbicara tentang bagaimana langkah selanjutnya apalagi berbicara pilpres. Tadi adalah menyamakan persepsi tentang bangsa, tentang berbagai persoalan negeri, jadi baru membangun kesepahaman," jelas dia.

2 dari 5 halaman

Masih Malu-malu

Di sisi lain, Paloh menyebut, partainya dan PKS belum menyepakati koalisi. Padahal, Paloh dan Sohibul menunjukkan keakraban saat pertemuan berlangsung.

"Belum, belum ada (ingin buat koalisi), itu belum, kita bahas proses pendidikan politik dulu," kata Paloh.

Paloh menegaskan, pertemuannya dengan petinggi PKS hanya membahas sebuah agenda besar untuk Indonesia. Ia pun menyebut, rencana koalisi dengan PKS masih terlalu dini untuk dibicarakan.

"Kita bicara bagaimana agenda besar untuk bersama memajukan negeri ini," ucap dia.

Paloh menyebut, silaturahmi dengan PKS ini merupakan pendidikan politik bagi masyarakat. Ia ingin, masyarakat menilai pertemuan Nasdem dan PKS sebagai bagian dari tatanan kehidupan berbangsa yang baik.

"Salah satu bagaimana lebih menekankan proses pendidikan politik, itu yang kami bicarakan tadi. Politik yang mengandung nilai dan etika moralitas bagi tatanan kehidupan kebangsaan kita, kalau itu hal yang prinsip dan mendasar," tutur Paloh.

Menurut Paloh, kerja sama yang akan dibangun oleh Nasdem dan PKS ini tidak melihat pilihan politik kedua partai. Ia yakin, Nasdem dan PKS bisa menyisihkan perbedaan untuk kepentingan bangsa.

"Artinya memang kerja sama itu kan dilakukan pada semua dan para pihak, tidak terbatas pada satu, dua institusi politik, semuanya," tutupnya.

Sementara, Ketua DPP Partai Nasdem, Willy Aditya menyebut, partainya akan kembali menggelar pertemuan dengan PKS. 

"Itu yang kemudian kita sama-sama diapresiasi dan kemudian diturunkan dalam langkah konkretnya akan ada semacam pertemuan lanjutan yang bersifat di lapangan antara elite Partai Nasdem dan PKS. Kader dan fungsionaris PKS dan Partai Nasdem bersama-sama dengan rakyat untuk melihat ada aksi bersama di beberapa titik," kata Willy di Kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu 2 November 2019.

Willy mengatakan, pertemuan itu menunjukkan meski berbeda partai politik juga bisa bersatu. Terutama untuk membangun bangsa Indonesia.

"Ini menunjukkan bahwasanya perbedaan itu suatu keniscayaan, tapi kerja sama politik membangun negara besar itu kewajiban," ungkapnya.

Sementara itu, Juru Bicara PKS Ahmad Fathul Bari menilai, wajar jika ada pertemuan lanjutan antara PKS dan Nasdem. Sebab, kata dia, dunia politik sangat dinamis.

"Jadi kalau dinamika ke depan ada pembicaraan-pembicaraan lain tentu itu juga bukan merupakan, bisa jadi tidak secara langsung merupakan sambungan dari pertemuan kemarin tapi hal yang wajar dari sistem demokrasi," ucap Ahmad.

3 dari 5 halaman

Dekati Anies Baswedan

Rabu 24 Juli 2019 siang, Surya Paloh mengundang Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan bersantap bersama di DPP Partai Nasdem, Gondangdia, Jakarta. Sejumlah masakan hingga buah potong tergelar di meja. 

Paloh menyebut, tidak ada yang istimewa tentang pertemuan tersebut. Dia mengatakan, pertemuan itu sebagai kunjungan adik dan kakak. Diskusi dan bertukar cerita menjadi sajian utamanya. 

Sebagai kakak, Surya Paloh menyarankan Anies Baswedan agar mengoptimalkan kualitasnya dalam memimpin Ibu Kota. Bahkan, Surya menyatakan siap mendukung Anies mengoptimalkan potensinya dalam ranah yang lebih besar lagi.

"Tugas Abang dengan niat baik, nawaitu, berikan dukungan, dorongan, agar potensi dirinya belum dikeluarkan semuanya ini, sudah saatnya ke depan. Doa dan harapan ini mengiringi perjalanan dia, agar bisa memberikan suatu hal yang lebih berarti bagi kemaslahatan kita sebagai satu bangsa," ujar Paloh kala itu.

Nasdem, siap mendukung Anies di Jakarta baik secara politik, lahiriah dan bathiniah. Paloh juga akan mendukung Anies jika maju pada Pilpres 2024.

"Insya Allah semuanya sejalan dengan arah partai. Insya Allah apabila semua seperti kita harapkan, dukungan tidak hanya datang dari satu kelompok, termasuk satu institusi partai politik seperti Nasdem," ujar Surya.

Namun, Nasdem tidak bisa sendirian mengusung Anies untuk maju sebagai calon presiden. Perlu ada dukungan partai politik lain.

"Kita mengharap dukungan para pihak untuk anak-anak bangsa yang memenuhi kapasitas dan kapabilitas pemimpin negeri ini," kata dia.

Sementara, Anies memuji Surya yang memiliki banyak pengalaman sebagai politikus dan pengusaha.

"Setiap kali ngobrol dengan beliau pasti banyak hikmah-hikmah yang beliau ceritakan dari pengalaman perjalanannya," ucap Anies yang berada di samping Surya Paloh.

Beberapa bulan setelah santap siang di Gondangdia, Nasdem akhirnya mengirimkan undangan ke Anies untuk datang ke kongres partai.

Kongres Nasdem rencananya akan digelar pada 8 hingga 11 November 2019 mendatang. Ketua DPP Partai Nasdem, Willy Aditya menjelaskan, alasan partainya mengundang Anies. Menurut dia, Anies Baswedan hanya akan memberikan ucapan selamat datang pada peserta kongres.

"Iya Pak Anies kan Gubernur DKI, sebagai gubernur dia wajarlah memberikan sambutan dan memberikan ucapan selamat datang kepada peserta kongres yang dari Sabang sampai Merauke datang ke Ibu Kota," kata Willy di Kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu 2 November 2019.

"(Sudah kasih undangan?) Sudah," sambung dia.

Willy mengatakan, salah satu hal yang dibahas dalam kongres Nasdem yaitu Pemilu 2024. Namun, dia menegaskan, kedatangan Anies Baswedan tidak ada hubungannya dengan Pemilu 2024.

"Oh tentu, Pemilu 2024 kita bahas. Tapi yang menjadi penting tidak hanya Mas Anies ya, ada Bu Khofifah juga kita undang dan beberapa Gubernur yang dari Nasdem, tapi memang Mas Anies membuka selaku Gubernur DKI," kata Willy.

Gayung pun bersambut. Anies mengaku, akan memenuhi undangan kongres Partai Nasdem. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut juga menegaskan undangan dari partai pimpinan Surya Paloh tak ada bedanya dengan undangna partai lainnya.

"Insyaallah selalu datang. Jadi sama juga ketika diundang sekarang juga, Insyaallah saya datang. Sama seperti undangan-undangan yang lain," jelas Anies kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (3/11/2019).

Anies menyebut, undangan kongres Partai Nasdem tersebut tak terkait dengan Pilpres 2024. 

"Sekarang tahun berapa, sekarang ini kan Pilpres 2019 kan," kata Anies.

4 dari 5 halaman

Bersiap Oposisi?

Usai pelantikan Jokowi dan Ma'ruf sebagai presiden dan wakil presiden, Partai Nasdem memberikan sinyal siap menjadi oposisi.

Sinyal tersebut diberikan langsung oleh Paloh usai menghadiri pelantikan Jokowi-Ma'ruf di Gedung Kura-Kura, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Minggu 20 Oktober 2019.

Menurut dia, bila semua partai politik mendukung pemerintah, Partai Nasdem siap menjadi oposisi. "Kalau tidak ada yang oposisi, Nasdem saja yang jadi oposisi," kata Paloh.

Sementara Ketua DPP Partai NasDem Irma Suryani Chaniago memberikan klarifikasi soal berita Ketua Umumnya yakni Surya Paloh mengaku siap jadi partai oposisi pemerintah. Menurut dia, Paloh siap jadi oposisi jika sudah tidak ada lagi partai yang mau menjadi oposisi di Indonesia.

"(Surya Paloh bilang NasDem siap jadi oposisi?) Kan kalo tidak ada yang mau jadi oposisi," kata Irma pada merdeka.com, Senin 21 Oktober 2019. 

Irma menjelaskan, saat ini partainya tidak akan keluar dari koalisi pemerintahan. Sebab, masih ada partai yang menjadi oposisi.

"NasDem tetap dukung pemerintah dan tetap di koalisi, enggak mungkin dong kami meninggalkan apa yang sudah kami menangkan? Jika masih ada yang bisa jadi check and balance kenapa harus berada di luar?," ujarnya.

5 dari 5 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Anies Capres Terkuat Versi Survei, PDIP DKI: Janji Benahi Jakarta Belum Tuntas
Artikel Selanjutnya
Sandiaga Uno dan Anies Baswedan, Siapa Paling Unggul di 2024 Versi Survei