Sukses

13 Tahun Lalu, Kantor Majalah Playboy Diserang FPI

Liputan6.com, Jakarta - Ratusan anggota Front Pembela Islam (FPI) mendatangi Gedung AAF (Asean Aceh Fertilizer) di Jalan T.B. Simatupang, Jakarta Selatan, Rabu, 12 April 2006 silam.

Saat itu, massa melempari Kantor Redaksi Majalah Playboy edisi Indonesia dengan batu sehingga kaca gedung rusak. majalah pun dibakar. Beberapa polisi di lokasi kejadian tak bisa berbuat banyak untuk mencegah aksi anarkis itu.

Organisasi yang dipimpin Rizieq Shihab ini dari awal memang menolak penerbitan majalah tersebut. Mereka juga pernah meminta pimpinan majalah khusus orang dewasa itu menarik kembali edisi perdananya.

Menurut Rizieq, pihaknya terus memantau majalah yang berpusat di Amerika Serikat itu. Dia menambahkan, soal nama tak begitu penting, jika yang disajikan ternyata tetap saja berbau pornografi.

Penolakan terbitnya majalah berlogo kepala kelinci putih berdasi kupu-kupu itu juga berlangsung di Jawa Timur. Sejumlah pemuda dari organisasi masyarakat Islam, di antaranya Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, Pemuda Muhammadiyah Indonesia, dan Majelis Muslim Indonesia merazia Majalah Playboy di pusat perbelanjaan di Jalan Pahlawan, Surabaya.

Dalam razia itu tak ditemukan ada agen yang menjual Majalah Playboy Indonesia. Para distributor dan agen mengaku tidak berani menjual majalah bacaan kaum lelaki tersebut. Mereka khawatir akan timbul masalah. Ormas Islam di Surabaya berencana bertemu para distributor dan agen majalah agar tak menjual Playboy.

Sementara, pimpinan Majalah Playboy kala itu, Erwin Arnada menyesalkan penyerangan kantor mereka oleh FPI. Saat itu, Erwin mengaku sudah membuka pintu dialog dengan FPI.

"Pada prinsipya kita menghargai perbedaan pendapat, opini, dan prinsip. Perbedaan prinsip seharusnya dilaksanakan dengan baik-baik dan tidak mencelakakan atau merugikan orang lain. Artinya kita terbuka untuk dialog," kata Erwin Arnada saat berdialog dengan Reporter SCTV Bayu Sutiono di studio Liputan6 Kamis, 13 April 2006 silam.

Erwin mengaku, sebelum edisi perdana terbit, tim Majalah Playboy menemui Ketua FPI Habib Rizieq. Dalam pertemuan itu, tim Playboy menjelaskan kebijakan redaksi tidak menerbitkan foto, image, atau kartun telanjang.

"Playboy Indonesia beda dengan Amerika," ujar Erwin.

Selain menerima masukan dari FPI, Erwin juga mengaku telah mendapat input penting dari beberapa kelompok. Sayang, dia tidak menjelaskan detail saran tersebut.

Playboy versi Indonesia disebutkan Erwin berbeda dengan konsep aslinya. Dia dan rekanan investor mendapat izin dari pemilik Playboy di Amerika Serikat untuk mengubah 75 persen isi majalah sesuai kondisi di Indonesia.

"Sejak awal kita sudah membuat kesepakatan Playboy Indonesia tidak akan memuat foto telanjang, image, atau kartun. Juga tidak akan mengambil gambar-gambar dari Playboy dari negara mana pun," ujar dia.

Jika redaksi nekat menerbitkan Playboy versi Indonesia edisi kedua, boleh jadi mereka akan berhadapan dengan aparat hukum. Pasalnya, Kepolisian Daerah Metro Jaya sudah meminta untuk menenangkan diri agar aksi massa tidak terjadi lagi. "Kita juga meminta (Majalah Playboy) tidak beredar di Jakarta," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya saat itu, Komisaris Besar Polisi I Ketut Untung Yoga Ana.

Sejak FPI menyerbu kantor Redaksi Playboy, majalah untuk orang dewasa ini mulai raib di pasaran. Para pedagang yang ditemui SCTV rata-rata mengaku takut menjual Playboy. Mereka tentu saja ketakutan, karena FPI sempat merazia sejumlah agen majalah dan membakar segala jenis media cetak esek-esek.

Sementara itu, keesokan harinya, ratusan aktivis Forum Umat Islam mendatangi Gedung AAF karena menyangka redaksi Majalah Playboy masih berkantor di gedung itu. Mereka menyisir seisi gedung dan tidak menemukan apa pun. Massa kemudian pergi karena mendengar informasi kantor Playboy pindah ke Gedung Fatmawati Mas, sekitar empat kilometer dari Gedung AAF.

Namun di kawasan Fatmawati Mas mereka harus kembali kecewa. Pasalnya, tidak ada seorang pengurus majalah berlambang kepala kelinci berkupu-kupu berani menghadapi mereka. Sebelum bubar, massa mengancam akan mengambil tindakan hukum bila dalam satu pekan Majalah Playboy tidak ditarik dari peredaran.

"Kita akan mendatangi mereka, sampai kita memastikan mereka menghentikan (tidak beredar lagi)," ancam koordinator pengunjuk rasa Mochammad Khaththaat.

Massa Forum Umat Islam rupanya masih tidak puas. Mereka melanjutkan aksinya ke Kantor Redaksi Majalah Popular dengan harapan bertemu pemiliknya. Meski sempat dihadang polisi, massa bisa mendekat ke Kantor Popular di Gedung Sanggraha Pelita Jaya, Jalan Jagorawi, Lebak Bulus, Jaksel. Belakangan diketahui kantor ini juga kosong.

Kontroversi penerbitan Playboy rasa Indonesia marak sejak awal tahun 2006. Sebagian masyarakat setuju majalah itu terbit, asal peredarannya diatur secara ketat. Namun tak sedikit yang juga menolak. Kemunculan Playboy bersamaan dengan tarik ulur pembahasan Rancangan Undang-undang Antipornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Sejak gelombang penolakan terus terjadi, pengelola PT Velvet Silver Media, selaku pemegang lisensi Playboy Indonesia dan dewan redaksinya sulit untuk dihubungi.

 

2 dari 2 halaman

Edisi Perdana Laris Manis

Pada 7 April 2006 silam, Majalah Playboy Indonesia dengan cover utama Andhara Early, model dan presenter acara-acara hiburan. Sebanyak 100 ribu eksemplar diluncurkan dengan harga Rp 39 ribu per majalah. Peluncuran edisi perdana kontan jadi objek buruan warga Ibu Kota yang penasaran. Para pedagang mengaku kehabisan stok. Bahkan tak sedikit mereka menuai untung karena menjual majalah di atas harga Rp 100.000.

Dewan Redaksi Majalah Playboy memang menempati janji tidak memuat foto-foto bugil. Namun foto-foto wanita dengan pakaian minim masih tampil dalam majalah itu. Selain itu, pihak Playboy juga telah melanggar janji karena mengedarkan majalah itu secara bebas.

Para agen di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, mengaku kehabisan stok. Lima ratus eksemplar Playboy di sejumlah agen ludes sejak pukul 09.00 WIB.

Hal yang sama juga terjadi di tingkat pengecer. Mereka kehabisan stok majalah khusus pria dewasa ini sejak pagi. Padahal, para pengecer menerima 50 hingga 100 eksemplar. Bahkan, beberapa pengecer mengaku tidak kebagian majalah berlogo kelinci putih ini.

Sejumlah pembeli mengaku tidak puas terhadap isi majalah yang dijual Rp 39 ribu per eksemplar ini. Impian untuk melihat gambar-gambar berbau pornografi buyar. "Ternyata tidak seheboh yang dibayangkan," seorang pria mengeluh.

Rencana penerbitan majalah Playboy Indonesia yang bergulir sejak awal tahun ini disambut pro dan kontra. Banyak orang berasumsi Playboy Indonesia melanggar pornografi, seperti halnya Playboy terbitan Amerika Serikat. Tapi, kenyataannya, dalam edisi perdana ini Playboy Indonesia yang diterbitkan PT Velvet Silver Media di antaranya berisi gambar wanita berbikini dan tulisan tentang sastrawan Pramoedya Ananta Toer.

Andhara Early yang terpilih menjadi model sampul edisi perdana Playboy tidak khawatir terhadap pandangan orang-orang yang menentang penerbitan itu. Model dan juga presenter ini mau menjadi sampul muka karena sepakat dengan konsep yang ditawarkan.

"Jauh berbeda dengan yang aku kenal brand Playboy yang identik dengan nudity," kata ibu satu anak ini. Namun Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Kiai Haji Ma`ruf Amin menyatakan sampai kapan pun pihaknya tetap akan melarang penerbitan majalah tersebut.