Meski Berbahaya, 2 Hal Ini Jadi Alasan Pemudik Nekat Naik Motor

Pemudik yang menggunakan roda dua atau sepeda motor diprediksi masih akan tinggi dalam arus mudik Lebaran tahun 2018 ini.

Diterbitkan 09 Juni 2018, 12:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Pemudik yang menggunakan roda dua atau sepeda motor diprediksi masih akan tinggi dalam arus mudik Lebaran 2018 ini. Direktur Lalu Lintas Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub Pandu Yunianto mengatakan, alasan kebanyakan para pemudik motor adalah untuk menjaga gengsi di kampung halaman.

Menurut Pandu, persepsi di masyarakat soal keberhasilan merantau dengan membawa kendaraan bermotor dinilai masih melekat kuat di daerah.

"Ya sulit kita pemerintah melarang yang begitu. Jadi itu masih ada persepsi di masyarakat bahwa pulang membawa motor itu lambang keberhasilan bekerja di Jakarta. Ya jadi ingin menunjukkan kerabat-kerabatnya di daerah," kata Pandu beberapa waktu lalu di Jakarta.

Pandu memprediksi akan ada 8,5 juta pemudik yang akan naik motor menuju kampung halamannya.

"Ada 8,5 juta dan ini termasuk tinggi," ucap dia.

Pandu menambahkan, selain menjaga gengsi, pemudik juga dimudahkan saat akan bersilaturahmi ke rumah saudara di kampung.

"Jadi nanti disana pemudik tidak butuh angkutan umum lagi. Jadi ini juga salah satu alasan kenapa banyak pemudik naik motor," tutur Pandu.

 

Lebih Hemat

Mudik dengan menggunakan motor jadi primadona juga karena dorongan untuk menghemat pengeluaran.

Pandu mencontohkan, pemudik dengan rute Jakarta-Solo. Jika pemudik memilih naik bus, tiap satu orang memakan biaya sekitar Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu setiap keberangkatan.

Padahal jika menggunakan motor, biaya bahan bakar diprediksi hanya Rp 200 ribu untuk pulang pergi.

"Kalau dihitung dari sisi biaya naik motor memang relatif lebih murah ya dibanding angkutan umum. Seperti Jakarta-Solo itu paling bahan bakar 10 liter ya kita hitung aja 100 ribu. Itu udah bisa angkut istri juga kan," beber Pandu.

Malahan seringkali satu motor bisa mengangkut sampai tiga orang. Dan tentu biayanya terhitung jauh lebih efisien.

"Kalau naik umum bisa sampai Rp 1 juta kan," imbuh Pandu.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6