Sukses

Menristekdikti Bentuk Universitas Siber Pantau Kuliah Online

Liputan6.com, Malang - Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) sedang membentuk tim cyber university atau universitas siber. Tim bertugas mengawasi kualitas pendidikan jarak jauh atau kuliah online yang akan diterapkan perguruan tinggi.

Menristekdikti Mohammad Nasir mengatakan, peraturan Menristekdikti tentang sistem kuliah online atau dalam jaringan (daring) bakal diterbitkan pada April 2018.

"Regulasi sudah disiapkan, semua kampus negeri dan swasta silakan bikin perkuliahan daring. Kurikulum diserahkan kampus, kami siapkan sistemnya," ujar Nasir saat di Politeknik Negeri Malang, Jawa Timur, Selasa 13 Maret 2018.

Jika peraturan Menristekdikti sudah keluar, perguruan tinggi yang ingin menerapkan sistem kuliah online bisa mengajukan diri ke kementerian. Tapi, mata kuliah yang akan di-online-kan harus direview oleh tim universitas siber.

"Tim universitas siber sudah dibentuk, target Desember sudah siap. Tugasnya mereview mata kuliah daring," ucap Nasir.

Review meliputi apakah mata kuliah itu sudah memenuhi standar kualitas, baik itu standar capaian hingga input. Jika sudah dinilai layak, mata kuliah itu bisa diterbitkan untuk kuliahan online.

"Kalau tidak begitu, bisa menjadi problem. Mutu pendidikannya harus tetap dijaga," kata Nasir.

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

 

2 dari 2 halaman

Rasio Tatap Muka

Menurutnya, saat ini dengan sistem perkuliahan tatap muka ada rasio dosen dan mahasiswa 1:20 untuk eksakta dan 1:30 untuk sosial. Dengan perkuliahan daring, kendala ruang kuliah sudah tak ada lagi. Seorang dosen bisa mengajar sampai seribu mahasiswa.

"Tak terbatas rasio, bisa mencakup lebih luas. Menjaga kualitas pendidikan dalam perkuliahan daring itu jadi tugas tim universitas siber," ujar Nasir.

Model kuliah online itu sendiri sebagai tuntutan perguruan tinggi agar siap perubahan global yang berbasis teknologi informasi. Sistem perkuliahan harus ikut berkembang, tak lagi terkendala sumber daya manusia dan infrastruktur.

"Kelas jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi informasi jadi salah satu cara mengantisipasi perubahan global itu," kata Nasir.