Sukses

Pesawat US Bangla Airline Jatuh di Bandara Bangladesh, 38 Penumpang Tewas

Liputan6.com, Jakarta Kepulan asap membubung tinggi di sekitar lokasi jatuhnya pesawat penumpang Bangladesh milik maskapai US Bangla di Bandara Internasional Tribhuvan, Kathmandu, Nepal. Tim tanggap darurat beserta petugas medis terus berjibaku memadamkan kobaran api dan menyelamatkan para kru serta penumpang.

Laporan sementara menyebutkan korban tewas mencapai 38 orang namun petugas baru berhasil mengevakuasi 12 jenazah. Sedangkan 23 korban luka telah dilarikan ke rumah sakit.

Pesawat jenis "bombardier dash 8" buatan Kanada ini mengangkut 67 penumpang dan empat kru terbang dari Kota Dhaka, Bangladesh. Belum dipastikan penyebab kecelakaan maut ini. tetapi seorang saksi mata menuturkan pesawat naas tersebut terlihat tak stabil ketika hendak mendarat hingga akhirnya jatuh terbakar.

Berita itu mengawali Jendela Dunia dalam Liputan6 Malam SCTV, Selasa (12/3/2018).

Sementara itu, sebuah helikopter jatuh di Sungai Timur Kota New York, Amerika Serikat Minggu malam waktu setempat. Helikopter jenis The Red Eurocopter AS-350 ini jatuh terbalik hingga tenggelam ke sungai karena baling-balingnya menghantam permukaan air.

Menurut keterangan Departemen Kepolisian New York satu-satunya yang berhasil selamat hanyalah sang pilot. Dua penumpang tewas ditempat, tiga lainnya dalam kondisi kritis. Sayang nyawanya tidak tertolong ketika di rumah sakit.

Helikopter naas milik perusahaan perjalanan wisata Liberty Helicopters ini dalam rangka tur wisata keliling Kota New York. Badan keselamatan transportasi nasional masih menyelidiki penyebab kecelakaan.

Di Suriah, kurun waktu dua hari terakhir, militer Suriah intensifkan serangan ke wilayah timur Ghouta baik melalui udara maupun darat. Jet-jet tempur serta puluhan tank Suriah membombardir kantong-kantong kelompok oposisi. Media militer Suriah mengklaim, pasukannya telah menguasai daerah Misraba dan Madyara.

Kelompok relawan pencarian dan penyelamatan White Helmet membantu proses pengungsian ratusan warga sipil khususnya wanita-anak-anak dan lansia untuk keluar dari wilayah Ghouta. Lebih dari 1.000 nyawa melayang sejak pemerintah suriah menggelar operasi militer di wilayah timur Ghouta 18 Februari lalu.

Data PBB menyebutkan, masih ada 40 ribu warga sipil yang terjebak pertempuran di Ghouta dan mereka kesulitan mendapat bantuan pangan dan obat-obatan.