Belanja Anjing Impor di Pinggir Jalan

Para pedagang anjing di kawasan Taman Lawang bisa mengantongi laba yang lumayan dalam sehari. Sayang, ada yang tak peduli dengan kondisi dagangannya.

Diterbitkan 23 Oktober 2000, 13:14 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Warga Jakarta yang ingin memelihara anjing jenis impor bisa mendatangi Jalan Lattuharhari, Jakarta Pusat. Sebab, di lokasi yang tak jauh dari kawasan Taman Lawang itu, Anda bisa menemukan berbagai jenis anak anjing, baik murni impor maupun blasteran. Harganya pun bervariasi, mulai dari Rp 200 ribu sampai jutaan rupiah.

Anjing yang ditawarkan di sana antara lain jenis Labrador, Bigel, Dalmatians, Pointer, dan Rodwell. Umumnya, sejumlah hewan tersebut berusia rata-rata sekitar dua hingg lima bulan. Ketika gigi binatang tersebut sudah lengkap, mereka bisa dipisahkan dari induknya dan siap dijual. Para penjual kebanyakan memasok anak-anak anjing itu dari peternakan di Bandung atau Semarang.

Bagi para pembeli, disarankan mengetahui harga anak anjing tersebut sesuai jenisnya. Pasalnya, para pedagang biasanya mematok penawaran awal dengan harga selangit. Contohnya, jenis Bigel yang harganya sekitar Rp 250 ribu bisa ditawarkan dengan Rp 450 ribu. Selain itu, para pembeli juga harus mengetahui ciri-ciri anjing tersebut, apakah murni, impor atau blasteran. Sebab, tak jarang para pedagang melego anjing blasteran dengan harga yang melambung.

Untuk menjual anjing, para pedagang harus menyediakan dana sekitar Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu per hari. Biaya itu digunakan untuk membeli hati ayam dan nasi sebagai makanan untuk 10 ekor anjing. Kendati sebagian pedagang hanya memberi makan sekali dalam sehari, namun mereka menolak dikatakan tak sayang dengan anjing dagangannya.

Untuk bisnis ini, dalam sehari, para pedagang yang telah berprofesi selama 20 tahun itu, bisa meraup keuntungan berkisar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Namun, jumlah tersebut masih harus dibagi untuk lima orang. Selain itu, laba mereka bakal berkurang bila ada anjing jualannya mati karena kepanasan atau terserang penyakit.(PIN/Mira Permatasari dan Nurwanto)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6