Sukses

Megawati dan Risma Hadiri Harlah ke-93 NU di Pasuruan

Liputan6.com, Pasuruan - Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menghadiri Harlah ke-93 Nahdlatul Ulama (NU) di Pasuruan, Jawa Timur. Megawati diundang dalam kapasitas sebagai Presiden ke-5 RI dan juga putri sang penggali lahirnya Pancasila 1 Juni, Bung Karno.

Saat tiba di Surabaya, Megawati dijemput Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Budi Sulistiyono, dan Ketua DPD PDIP Jatim Kusnadi

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang juga turut dalam acara itu mengungkapkan, ada perbincangan menarik saat Megawati dijemput oleh Risma.

"Begitu duduk bersama Ibu Megawati, Bu Risma langsung menyampaikan bagaimana arahan Ibu Megawati untuk pemberantasan demam berdarah terus dilakukan. Selain membentuk pemantau jentik dengan penuh semangat Bu Risma juga menyatakan telah membeli kodok dari Kediri," ucap Hasto, Sabtu (30/4/2016).

"Ibu Megawati memang pernah menceritakan kepada Bu Risma bagaimana kodok dipelihara di Teuku Umar untuk memberantas nyamuk," kata Hasto yang bersama Ketua DPP Pranando Prabowo mendampingi pertemuan tersebut.

Hasto menambahkan, saat itu Megawati menyarankan kepada Risma agar membeli kodok dari Tabanan, Bali. Meski bentuk tubuhnya tidak besar, kodok tersebut dianggap sangat efektif dalam memberantas nyamuk.

Atas saran itu, Risma kemudian semangat menanggapinya. Dia akan memelihara kodok taman-taman kota Surabaya sehingga terasa 'nyanyian alam.

Menurut Hasto, Megawati-Risma terlihat sangat akrab. Keduanya penggemar tanaman, dan menjadikan tanaman sebagai bagian dari warna politik kemanusiaan yang menjadi perhatian utama Megawati.

"Tidak heran jika Ibu Megawati memimpin Yayasan Kebun Raya. Seluruh kepala daerah PDIP didorong untuk mencintai tanaman, dan sekiranya memungkinkan membuka kebun raya sebagaimana dilakukan kepala daerah PDIP di Kalteng, Kalbar, Kuningan, Tabanan, Jateng, dan Kota Surabaya," kata Hasto.

Ditambahkan Hasto, begitu besar perhatian Megawati terhadap tanaman, sampai hal-hal kecil pun diperhatikan.

"Sebagai contoh, kami dilarang membuang biji salak, sebab biji salak tersebut memiliki hak hidup," ujar Hasto.

Loading