Sukses

Ibunda: Gayatri Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Ambon

Liputan6.com, Jakarta - Nurul Idawati berangkat dari rumahnya di Maluku, Ambon ke Ibukota untuk menjemput jenazah sang putri tercinta, Gayatri Wailissa. Buah hatinya yang dikenal sebagai Duta ASEAN itu mengembuskan napas terakhir di usia belia, 19 tahun, pada Kamis 23 Oktober 2014 malam.

Jenazah Gayatri kini telah dibawa dari RS Abdi Waluyo ke RSPAD Gatot Subroto, Jakarta untuk diautopsi. Setelah autopsi rampung dia bakal membawa Gayatri ke kampung halaman di Ambon.

"Mau dibawa ke Ambon. Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan," kata Nurul di RS Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (24/10/2014).

Nurul tidak menjelaskan secara jelas kapan anaknya akan dimakamkan. Dia hanya bisa memastikan, jasad Gayatri langsung dimakamkan begitu tiba di Ambon.

Sementara itu, seorang petugas keamanan RS Abdi Waluyo, Empid, mengatakan Gayatri telah dirawat sejak Senin, 19 Oktober 2014 lalu. Almarhumah dirawat di ruang ICU selama 5 hari dengan penjagaan dari beberapa anggota TNI.

Sampai saat ini, belum diketahui penyebab pasti meninggalnya Gayatri. Pihak RS Abdi Waluyo belum memberikan keterangan apapun terkait kondisi Gayatri yang sebenarnya.

Semasa hidupnya, Gayatri dikenal sebagai bocah poliglot yang mahir berbicara berbagai bahasa. Tak kurang ada 14 bahasa yang dikuasai putri pasangan Deddy Darwis Wailissa, seorang perajin kaligrafi, dan Nurul Idawati itu.

Ketertarikan Duta ASEAN ini pada bahasa dimulai sejak usia 7 tahun. Di tingkat SD saja sudah 6 bahasa dikuasainya secara otodidak.

Di antara bahasa-bahasa yang bisa dikuasai gadis ajaib itu, selain bahasa Indonesia, yakni bahasa Inggris, Italia, Spanyol, Belanda, Mandarin, Arab, dan Jerman. Gayatri juga mahir menggunakan bahasa Prancis, Korea, Jepang, India, Rusia, dan bahasa Tagalog Filipina. (Yus)