Sukses

Kapolda Baru, Lembaga Pengamat Polisi: Ada 9 Tugas Berat!

Liputan6.com, Jakarta - Lembaga pengamat polisi Indonesia Police Watch (IPW), memprediksi tugas Kapolda Metro Jaya yang baru akan lebih berat dibandingkan dengan yang sebelumnya. Setidaknya ada sembilan tugas berat yang harus ditangani Irjen Dwipriyanto, yang mulai pekan depan akan menduduki jabatan Kapolda Metro Jaya.

"Kesembilan tugas berat kapolda baru itu adalah: Pertama, mengatasi kemacetan lalu lintas yang kian parah, terutama di pintu masuk Jakarta, seperti Cawang, Tomang, Pluit, kawasan Pelabuhan Tanjungpriok," kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta. S. Pane dalam keterangan tertulis yang dimuat di Liputan6.com, Senin (17/3/2014)

Kedua, lanjutnya, mengungkap kasus penembakan polisi. Seperti di Tangerang Selatan dan depan KPK yang tak kunjung terungkap.

"Ketiga, kasus perampokan bersenjata api. Terutama dengan sasaran mini market, dan lain-lain yang terus terjadi," imbuhnya.

Sambung Neta, yang keempat adalah kasus brutalisme geng motor. Seperti geng motor pita kuning, geng motor yang merusak pos polisi dekat Mabes Polri dan lain-lain yang terbiarkan.

"Kelima, aksi balapan liar di 45 titik yang terus berlangsung pada Jumat, Sabtu, dan Minggu malam. Keenam, aksi-aksi premanisme yang menguasai kawasan Tanah Abang, Senayan, Roxi dan lain-lain," urainya.

Ketujuh, ungkapnya, aksi polisi yang melakukan penjebakan di 25 titik, seperti  busway, underpass, jembatan layang dan lain-lain. Kedelapan, antisipasi aksi demo menjelang Pemilu 2014.

"Kesembilan, antisipasi kekacauan dan kesemrawutan selama kampanye Pemilu 2014," bebernya.

Untuk itu, Indonesia Police Watch (IPW) berharap, Kapolda yang baru segera mengevaluasi kinerja para kapolres dan kemudian melakukan konsolidasi.

"Tujuannya agar antisipasi dini dan deteksi dini bisa dilakukan dengan maksimal, sehingga stabilitas kamtibmas ibukota Jakarta menjelang Pemilu 2014 tetap terjaga," tuturnya.

Neta juga mengatakan, bahwa Irjen Dwipriyanto jangan segan-segan mencopot Kapolres yang tidak becus dalam melakukan antisipasi dan deteksi dini.

"Sekecil apapun potensi ancaman keamanan di ibukota tidak boleh dibiarkan. Sebab potensi tsb menjadi pertaruhan bagi ancaman keamanan nasional, mengingat Jakarta menjadi barometer kamtibmas Indonesia," pungkas Neta. (Moch Harun Syah)

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS