Liputan6.com, Sukabumi: Gelombang air pasang setinggi tujuh meter berkali-kali menghantam desa di Kecamatan Cisolok dan Kecamatan Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (18/5). Akibatnya, sebanyak 164 rumah di Kecamatan Cisolok rusak parah. Gelombang air pasang juga menghancurkan tempat pelelangan ikan dan membuat pohon-pohon bertumbangan serta jalan-jalan tergenang. Sejauh ini tak ada laporan tentang korban jiwa, namun kerugian diperkirakan mencapai miliaran rupiah [baca: Semakin Banyak Rumah Dihantam Gelombang].
Gelombang air pasang dari Samudra Hindia ini pertama kali muncul pada pukul 05.30 WIB. Terjangan gelombang air mencapai 50 meter dari bibir pantai. Warga pun dibuat panik dan takut. Siang hari, laut sempat tenang.
Menduga gelombang air tak datang lagi, tim relawan mendatangi rumah-rumah guna memeriksa keadaan penghuninya. Namun dugaan itu salah. Gelombang air pasang kembali muncul dan langsung menghantam rumah-rumah. Akibatnya seorang relawan, Lilis, terluka tertimpa bagian bangunan.
Saat berita ini disusun, gelombang air setinggi lima meter muncul lagi. Akan tetapi tak sampai menghantam daratan. Diperkirakan, sekitar pukul 19.00 WIB bakal ada lagi gelombang air pasang yang lebih tinggi.
Tingginya gelombang air laut Pantai Pelabuhan Ratu membuat ribuan warga dari delapan kecamatan di sekitar Pantai Selatan Sukabumi terpaksa mengungsi. Saat ini, mereka ditampung di pos koordinasi pengungsian di Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Sukabumi. Warga akan diungsikan sampai kondisi benar-benar aman. Namun tidak semua warga mengungsi. Ada sebagian warga lainnya yang merasa masih aman enggan untuk meninggalkan rumahnya.
Di Pantai Pandansimo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, rusak parah diterjang gelombang pasang.Menurut warga, gelombang setinggi tiga meter terjadi sejak kemarin. Riswanto, anggota tim search and rescue (SAR) Bantul, meminta warga waspada. Jika perlu warga mengungsi untuk sementara waktu sampai gelombang laut kembali normal. Namun permintaan itu ditolak dengan alasan ekonomi.
Hingga petang ini, sejumlah warga terlihat mengemasi barang-barangnya agar tak hanyut diterjang air. Sejumlah peralatan nelayan, seperti perahu dan jaring juga didapati rusak berat. Akibatnya mereka tidak bisa lagi melaut.
Gelombang besar juga melanda Kota Padang, Sumatra Barat, dan Nanggroe Aceh Darussalam. Di Aceh, gelombang pasang memutus jalur jalan Aceh Besar-Aceh Jaya. Sedangkan di Padang, lebih dari 100 rumah nelayan rusak diterjang gelombang air setinggi tiga meter.
Tingginya gelombang menyebabkan nelayan tidak berani melaut. Nursa, seorang nelayan, menyebutkan, fenomena ini merupakan siklus lima tahunan dan akan berlangsung selama satu pekan. Setidaknya 400 nelayan yang bermukim di sepanjang pantai ini diperkirakan merugi hingga ratusan juta rupiah [baca: Ombak Besar Menghantam Pesisir Padang].
Sementara itu, ratusan pengungsi korban gelombang air pasang di Pantai Parupuk Tabing, Padang, ternyata tidak tertangani oleh pemerintah daerah setempat. Emi, misalnya, pingsan karena tidak kuat menahan lapar. Ia dilarikan ke rumah warga guna mendapatkan pertolongan, terutama makanan untuk mengisi perutnya. Emi bersama puluhan warga lainnya sejak Kamis malam hingga Jumat siang perutnya belum terisi makanan.
Menurut seorang warga, Sejak tinggal di tenda darurat mereka baru mendapat makan sekali, yakni pada kemarin petang. Setelah itu bantuan makanan belum datang lagi. Warga berharap Pemda segera mengirimkan bantuan makanan.
Adapun data sementara mencatat, rumah yang rusak diterjang gelombang pasang di Parupuk mencapai 124 unit, 74 di antaranya hancur. Para penghuninya yang berjumlah sekitar 500 jiwa kini mengungsi ke rumah saudara maupun ke tenda penampungan.
Gelombang pasang juga menghantam kawasan wisata Kuta, Bali. Begitu tingginya gelombang sehingga mencapai jalan raya yang berjarak cukup jauh dari bibir pantai. Tak adanya informasi dari Badan Meteorologi dan Geofisika setempat mengenai bakal datangnya gelombang ini membuat para pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir pantai kaget dan panik. Akibatnya, banyak barang dagangan yang basah karena terseret gelombang laut [baca: Gelombang Setinggi Dua Meter Menerjang Kuta].
Tingginya terjangan gelombang air laut juga membawa korban lain. Di Pelabuhan Merak, Banten, sebuah truk yang mengangkut biskuit dan sirup terguling ke laut ketika akan masuk ke Kapal Roro Nusa Dharma. Sialnya, ratusan orang yang melihat kejadian ini bukannya menolong awak truk, namun justru berebut biskuit yang mengambang [baca: Truk Tercemplung ke Laut].(BOG/Tim Liputan 6 SCTV)
Gelombang air pasang dari Samudra Hindia ini pertama kali muncul pada pukul 05.30 WIB. Terjangan gelombang air mencapai 50 meter dari bibir pantai. Warga pun dibuat panik dan takut. Siang hari, laut sempat tenang.
Menduga gelombang air tak datang lagi, tim relawan mendatangi rumah-rumah guna memeriksa keadaan penghuninya. Namun dugaan itu salah. Gelombang air pasang kembali muncul dan langsung menghantam rumah-rumah. Akibatnya seorang relawan, Lilis, terluka tertimpa bagian bangunan.
Saat berita ini disusun, gelombang air setinggi lima meter muncul lagi. Akan tetapi tak sampai menghantam daratan. Diperkirakan, sekitar pukul 19.00 WIB bakal ada lagi gelombang air pasang yang lebih tinggi.
Tingginya gelombang air laut Pantai Pelabuhan Ratu membuat ribuan warga dari delapan kecamatan di sekitar Pantai Selatan Sukabumi terpaksa mengungsi. Saat ini, mereka ditampung di pos koordinasi pengungsian di Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Sukabumi. Warga akan diungsikan sampai kondisi benar-benar aman. Namun tidak semua warga mengungsi. Ada sebagian warga lainnya yang merasa masih aman enggan untuk meninggalkan rumahnya.
Di Pantai Pandansimo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, rusak parah diterjang gelombang pasang.Menurut warga, gelombang setinggi tiga meter terjadi sejak kemarin. Riswanto, anggota tim search and rescue (SAR) Bantul, meminta warga waspada. Jika perlu warga mengungsi untuk sementara waktu sampai gelombang laut kembali normal. Namun permintaan itu ditolak dengan alasan ekonomi.
Hingga petang ini, sejumlah warga terlihat mengemasi barang-barangnya agar tak hanyut diterjang air. Sejumlah peralatan nelayan, seperti perahu dan jaring juga didapati rusak berat. Akibatnya mereka tidak bisa lagi melaut.
Gelombang besar juga melanda Kota Padang, Sumatra Barat, dan Nanggroe Aceh Darussalam. Di Aceh, gelombang pasang memutus jalur jalan Aceh Besar-Aceh Jaya. Sedangkan di Padang, lebih dari 100 rumah nelayan rusak diterjang gelombang air setinggi tiga meter.
Tingginya gelombang menyebabkan nelayan tidak berani melaut. Nursa, seorang nelayan, menyebutkan, fenomena ini merupakan siklus lima tahunan dan akan berlangsung selama satu pekan. Setidaknya 400 nelayan yang bermukim di sepanjang pantai ini diperkirakan merugi hingga ratusan juta rupiah [baca: Ombak Besar Menghantam Pesisir Padang].
Sementara itu, ratusan pengungsi korban gelombang air pasang di Pantai Parupuk Tabing, Padang, ternyata tidak tertangani oleh pemerintah daerah setempat. Emi, misalnya, pingsan karena tidak kuat menahan lapar. Ia dilarikan ke rumah warga guna mendapatkan pertolongan, terutama makanan untuk mengisi perutnya. Emi bersama puluhan warga lainnya sejak Kamis malam hingga Jumat siang perutnya belum terisi makanan.
Menurut seorang warga, Sejak tinggal di tenda darurat mereka baru mendapat makan sekali, yakni pada kemarin petang. Setelah itu bantuan makanan belum datang lagi. Warga berharap Pemda segera mengirimkan bantuan makanan.
Adapun data sementara mencatat, rumah yang rusak diterjang gelombang pasang di Parupuk mencapai 124 unit, 74 di antaranya hancur. Para penghuninya yang berjumlah sekitar 500 jiwa kini mengungsi ke rumah saudara maupun ke tenda penampungan.
Gelombang pasang juga menghantam kawasan wisata Kuta, Bali. Begitu tingginya gelombang sehingga mencapai jalan raya yang berjarak cukup jauh dari bibir pantai. Tak adanya informasi dari Badan Meteorologi dan Geofisika setempat mengenai bakal datangnya gelombang ini membuat para pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir pantai kaget dan panik. Akibatnya, banyak barang dagangan yang basah karena terseret gelombang laut [baca: Gelombang Setinggi Dua Meter Menerjang Kuta].
Tingginya terjangan gelombang air laut juga membawa korban lain. Di Pelabuhan Merak, Banten, sebuah truk yang mengangkut biskuit dan sirup terguling ke laut ketika akan masuk ke Kapal Roro Nusa Dharma. Sialnya, ratusan orang yang melihat kejadian ini bukannya menolong awak truk, namun justru berebut biskuit yang mengambang [baca: Truk Tercemplung ke Laut].(BOG/Tim Liputan 6 SCTV)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342121/original/053138400_1788753122-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-07T104558.832.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339925/original/070710100_1788435101-HOAX__10_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302730/original/042892700_1784605254-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-21T103804.683.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9262464/original/038832300_1783158897-1001427620.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/477925/original/180507cgelombang1.jpg)