"Kecepatannya Luar Biasa"

Firdaus yang selamat dalam terbakarnya pesawat Garuda jurusan Jakarta-Yogyakarta mengaku pesawat mendarat dalam kecepatan tinggi. Pilot sejak lepas landas terus meminta penumpang mengenakan sabuk pengaman.

Diterbitkan 07 Maret 2007, 13:21 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Yogyakarta: Pesawat Garuda GA 200 menunjukkan tanda-tanda tidak beres sejak berangkat dari Jakarta sebelum akhirnya terbakar saat mendarat di Bandar Udara Adi Sucipto, Yogyakarta, Rabu (7/3). Bahkan saat mendarat, laju pesawat tidak terkendali dan menghantam pagar pembatas dalam kondisi terbakar. "Kecepatannya juga luar biasa," tutur korban selamat bernama Firdaus dalam telewicara di Liputan 6 Siang.

Firdaus menambahkan, pesawat sempat beberapa kali terguncang saat mengudara. Untuk itu pilot berkali-kali meminta penumpang untuk selalu mengenakan sabuk pengaman. Sejak itu pula sejumlah penumpang menyadari ada yang salah dalam pesawat bernomor registrasi PKGZT tersebut. "Pesawat itu zigzag semacam memasuki ruang hampa udara," tambah Firdaus yang sedang dirawat di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta.

Penumpang semakin khawatir saat pesawat mulai turun untuk mendarat di landasan 09 Bandara Adi Sucipto. Terlebih terlihat percikan api di bagian kanan pesawat. Di antara teriakan ketakutan para penumpang, pesawat mendarat dengan posisi condong ke depan [baca: Pesawat Garuda Terbelah Dua].

Ketika ban pesawat menyentuh landasan, Firdaus mengaku mencium asap seperti sesuatu yang terbakar. Kepanikan pun semakin jadi, terutama di kabin bagian depan yang merupakan tempat duduk penumpang kelas bisnis. "Yang di depan itu sangat crowded (sesak) sekali," ungkap Firdaus.

Di antara kepanikan yang luar biasa itu Firdaus dan rekannya yang bernama Agus masih mencoba untuk berpikir jernih. Mereka akhirnya bisa membuka pintu darurat pesawat dan menyelamatkan diri. "Saya seret juga satu atau dua orang perempuan," kata Firdaus.

Keterangan Firdaus tak jauh berbeda dengan penuturan penumpang lain yang selamat bernama Reny. Menurut perempuan ini, pesawat sempat miring sebelum mendarat dan terbakar. "Sempat meledak lima kali kalau enggak salah," tutur wanita berkerudung ini.

Kepanikan di dalam pesawat berpenumpang 133 orang itu tergambar dalam penuturan Reny. Dalam suasana hiruk pikuk dan saling berebut, Reny berhasil menyelamatkan diri kendati tak bisa berjalan. "Saya ngesot ke sawah. Dalam hati saya bilang, saya mati nih, Allahu akbar," kata wanita berkacamata minus ini.

Berbeda dengan keterangan Reny dan Firdaus, seorang penumpang bernama Agus Sutrisno mengaku tak merasakan kejanggalan sejak pesawat lepas landas. Dia baru menyadari pesawat tidak stabil setelah pilot menyatakan pesawat akan mendarat.

Agus duduk di kursi darurat. Saat menyadari pesawat tidak stabil, dia langsung membungkukkan tubuh dan berdoa. Guncangan dahsyat dan benturan keras terjadi saat pesawat mendarat. Ketika itulah puncak kepanikan penumpang terjadi. Lampu padam, pesawat pun terbelah dengan barang-barang berhamburan. "Asap pesawat menyelimuti kepala saya. Semua pada teriak Allahu akbar," kata Agus yang dirawat di RS Bethesda Yogyakarta.(YAN/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6