Guntur Meninggalkan Nilai untuk <i>SCTV</i>

Kepergian Guntur untuk selama-lamanya meninggalkan nilai yang tidak akan terlupakan untuk SCTV. Komitmen pada pekerjaan adalah hal utama, namun keselamatan adalah sesuatu yang lebih dari segalanya.

Diterbitkan 28 Februari 2007, 19:44 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Juru kamera SCTV Mochammad Guntur Syaifullah sudah pergi untuk selama-lamanya. Namun sosok pendiam dan sederhana ini tidak pergi dengan kesia-siaan. Almarhum meninggalkan nilai yang tidak akan terlupakan untuk SCTV. Komitmen pada pekerjaan adalah hal utama, namun keselamatan adalah sesuatu yang lebih dari segalanya.

Di balik sifatnya yang tak banyak bicara, almarhum menyiratkan mengapa lebih membela kamera daripada nyawanya. "Dia tetap memegang nilai yang dia anut yaitu sebuah bentuk pertanggungjawaban bahwa apa yang ada di tangannya akan diambil dalam keadaan baik akan dikembalikan dalam keadaan baik," kata Pemimpin Redaksi SCTV Rosianna Silalahi.

Simpati juga datang dari Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Ashiddiqie. Menurut Jimly, almarhum adalah sosok yang harus ditiru. Jimly menambahkan, Guntur bukan tak mementingkan keselamatannya. Namun almarhum tak menyangka kekukuhan mementingkan tugas berakibat fatal bagi nyawanya. "Apa yang dikerjakannya bagi saya sangat mengharukan," ujar Jimly.

Demikian juga menurut Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. Menurut Hidayat, almarhum yang meninggalkan tiga anak dan seorang istri ini adalah sosok yang bersih. Guntur dapat menjadi contoh bagi warga lain sehingga bangsa terbebas dari korupsi. "Kehadiran beliau dengan semangat hidup memberi bukti bahwa hidup tanpa korupsi bisa dilakukan," kata Hidayat.

Guntur kembali ke Kantor SCTV di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (28/2) pagi. Kali ini dia datang tanpa ada sapa, tanpa senyum di wajahnya. Tubuhnya dibungkus rapi di dalam peti jenazah. Semua rekan, sahabat, dan karyawan SCTV menyambut kedatangannya dalam duka. Semua mendoakan agar Guntur pergi dengan tenang.

Meski telah tiada, Guntur masih menorehkan kenangan mendalam. Itu tak lain karena keberanian dia dalam bekerja. Salah satunya saat meliput konflik akibat pengibaran Bendera Republik Maluku Selatan, April 2002. Di tengah situasi yang memanas dedikasi Guntur ditunjukan untuk meliput dampak dari konflik ini dengan sisa sisa kehancuran kota. Pun demikian saat meliput tsunami di Aceh.

Guntur tidak pernah menolak liputan apa pun. Ke daerah konflik pun dijabaninya. Kamera yang disandangnya selalu dijaganya. Sayang, saat kritis di tengah perairan waktu Kapal Motor Levina I tenggelam, Guntur juga enggan melepas kameranya. Lelaki kelahiran 11 Maret 45 tahun silam ini tenggelam dan ditemukan dalam keadaan tak bernyawa.

Kepergian Guntur untuk selamanya menyisakan kenangan mendalam pada setiap orang yang pernah mengenalnya. Kepribadiannya yang bersahaja dan dedikasinya yang besar pada pekerjaan menjadikan Guntur tak sekadar rekan kerja. Namun sahabat bagi banyak orang termasuk mantan kru Liputan 6 SCTV [baca: Mas Guntur, Guru yang Tidak Menggurui].(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6