Memahami Pemikiran Sang Penakluk dari Ciganjur

Gus Dur tak pernah setuju dengan konsep negara Islam seperti juga keteguhannya menjunjung hak asasi manusia. Penentang formalitas ini memandang ada enam kawasan muslim yang patut dibedakan dalam penyampaian ajarannya.

Diterbitkan 21 September 2006, 02:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Nama kecilnya, Abdurrahman Addakhil yang berarti Abdurrahman Sang Penakluk. Tapi masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dus, salah satu tokoh kontroversial di negeri ini. Jalan pemikiran Gus Dur memang kerap membuat banyak orang mengernyitkan kening. Namun jika dalam urusan politik, Gus Dur dikenal sebagai politisi yang licin saat bermanuver. Tapi jika sudah menyangkut pemikiran Islam, mantan presiden RI ini dikenal sebagai tokoh yang konsisten antara pikiran dengan perbuatannya. Di antara sikap yang dianggap nyeleneh oleh sebagian orang itu adalah tentang Islam dalam kacamata Gus Dur. Pengagum gerakan Al-Ikhwan al-Muslimun ini tak setuju ajaran Islam disamaratakan di berbagai negara. Karena menurut Gus Dur, ada enam kawasan muslim yang patut dibedakan. Sikap Gus Dur itu tertuang dalam bukunya yang berjudul Islam Ku, Islam Anda, Islam Kita. Kumpulan tulisan Gus Dur setelah lengser sebagai presiden ini diluncurkan pada perayaan ulang tahun kedua The Wahid Institute, besok. "Pandangan saya terhadap berbagai masalah itu berbeda dengan pandangan umum," kata Gus Dur dalam Topik Minggu Ini edisi Rabu (20/9). Jebolan Fakultas Syari`ah di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, ini menilai Islam yang benar adalah yang mengacu pada kebiasaan warga setempat. Sebab ada enam daerah yang harus dibedakan. Pertama, kawasan Afrika hitam yang terdiri dari daerah Sahara. Kedua, Afrika Utara dan Arab Saudi. Ketiga, masyarakat Islam di daerah Turki, Afghanistan, Iran, dan Persia. Islam di Asia Selatan seperti Bangladesh, Nepal, India, dan Srilanka. Selanjutnya, Islam di masyarakat Asia Tenggara. Terakhir, minoritas Islam di negara-negara kawasan industri maju. Kendati demikian, Gus Dur menentang pendirian negara Islam. Alasannya, Islam tak dimaksudkan menjadi negara. Nabi Muhammad SAW pun tak pernah mendirikan negara Islam dan hanya mendirikan masyarakat Islam. "Undang-undang dasar kok 666 ayat?" ujar pendiri The Wahid Institute. Masih menurut Gus Dur, pihak yang beranggapan perlu mendirikan negara Islam adalah salah dalam menafsirkan Alquran. Surat Al-Baqarah ayat 208 yang berarti "Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu semua dalam Islam secara keseluruhan/kaffah...", bukan mengisyaratkan untuk mendirikan sebuah negara. Kaffah di sini dalam pandangan Gus Dur adalah secara keseluruhan dalam arti akidah, akhlak, dan syariah. Sikap kenegarawanan Gus Dur terlihat dalam sikapnya itu. Kendati menentang negara Islam, cucu pendiri Nahdlatul Ulama Hasyim Asy`ari, ini akan menerimanya jika dilakukan melalui pemilihan umum. Selain tak pernah membedakan agama, etnis, atau status sosial dalam membela kebebasan, Gus Dur juga dikenal sebagai pribadi yang konsisten menjalankan pemikirannya. Ini terlihat dari sepak terjangnya yang mengecam rencana polisi membubarkan Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah kendati berbeda pendapat dengan Abu Bakar Ba`asyir. "Polisi dari dulu adalah urusannya negara bukan agama," ucap mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia. Ciri Gus Dur yang lain adalah berani melawan arus. Saat orang ramai-ramai mengecam penyanyi dangdut Inul Daratista dengan goyang ngebornya, tokoh pendiri Forum Demokrasi itu justru membela. Begitu pula saat Forum Umat Islam Bandung menjatuhkan fatwa mati atas tokoh muda NU Ulil Abshar Abdalla pada 2002. Artikel Ulil di Harian Kompas yang berjudul "Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam" dianggap melecehkan agama. Kontroversi atas kasus ini pun terus berlanjut setelah Majelis Ulama Indonesia mengharamkan umat Islam untuk mengikuti ajaran Jaringan Islam Liberal. Di tengah tekanan itu, Gus Dur tampil membela Ulil. Lewat artikel berjudul "Ulil dan Liberalismenya", sosok yang menggebrak dunia pemikiran Islam Indonesia dengan idenya mengenai pribumisasi Islam pada era 80-an itu menyatakan ketidaksetujuannya dengan penggunaan kekerasan untuk menyelesaikan perbedaan pendapat. Keteguhan Gus Dur dalam memegang prinsip juga terlihat saat menolak masuk Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia yang berdiri pada tahun 1990. Dia menganggap ICMI adalah salah satu upaya mantan Presiden Soeharto merangkul kaum Islam untuk melanggengkan kekuasaannya. Dia dengan tegas mengatakan tidak meski saat itu hanya sedikit orang yang mampu berkata seperti itu kepada Soeharto. Di antara seabrek langkah Gus Dur yang dianggap kontroversial itu, tak sedikit yang sejalan dengan ulama lain. Satu di antaranya adalah sistem perekonomian. Gus Dur memandang konsep pemanfaatan ekonomi untuk kepentingan orang banyak sangat perlu. "Adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan," ujar mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama selama tiga periode itu. Memahami jalan berpikir Gus Dur memang bukan perkara mudah. Sebagian kalangan menilai, ini terjadi karena ketidaksamaan kerangka rujukan (frame of reference) dan luasnya pengalaman (field of experience) Gus Dur. Namun ada satu pola yang bisa dibaca pada sikap Presiden Kehormatan Organisasi Internasional untuk Rekonsiliasi dan Rekonstruksi Islam-Kristen (IICORR) ini. Dia akan muncul jika ada pihak atau individu yang tersudutkan. Apalagi jika memakai cara kekerasan. Dan presiden yang dilengserkan MPR ini akan dengan legowo menerima "kekalahan" jika sesuai konstitusi. Berbicara tentang Gus Dur ibarat menyebutkan namanya dengan kata kontroversial dalam satu tarikan napas. Gus Dur adalah kontroversi dan kontroversi adalah Gus Dur. Pun demikian dengan tulisannya dalam buku Islam Ku, Islam Anda, Islam Kita. Dengan penuturan yang tanpa kalimat meledak-ledak, Gus Dur menyampaikan pikirannya dengan santun tapi argumentatif. Dalam bukunya, pria yang dianggap living wali oleh kaumnya ini seolah mengajak pembaca mengembara memasuki kekayaan khasanah pemikiran Islam. "Buku ini merefleksikan pengembaraan intelektual Gus Dur," kata Syaiful Anwar, pengamat Islam.(YAN/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6