Basir baru sadar Wawan mirip dengan foto Noordin ketika polisi mendatangi rumahnya. Namun, Wawan tidak segemuk yang difoto, wajahnya klimis, kumis tipis, dan potongan rambut cepak. "Dia pakai kaca mata dan wajahnya hampir mirip dengan [foto Noordin] yang pakai topi," kata Basir.
Menurut Basir, Wawan menyewa rumahnya sejak 15 Juli hingga 13 Agustus. Namun, belum genap enam bulan, pria yang mengaku berjualan sandal dan daster ini sudah pamit ke istri Basir. "Dia bilang mau ke rumah kakaknya di Jakarta," kata Basir.
Menurut Basir, Wawan ramah, lembut, dan senang pada anak kecil. Dia juga pernah mengajak Wawan ikut siskamling (sistem keamanan lingkungan) semalaman. Dalam obrolan sepanjang ronda, Wawan berbicara dalam bahasa Indonesia. "Dia pernah keplecot bicara bahasa Melayu, tapi langsung ditutup," kata Basir. Saat itulah Basir bertanya tentang asal Wawan dan dia mengaku asli Semarang.
Advertisement
Menurut Basir, Wawan biasa keluar dengan sepeda motor. Dia selalu membawa tas hitam, memakai jaket, dan helm yang menutup muka.
Pernah suatu kali Basir masuk ke rumah kontrakan setelah mengetuk beberapa kali. Wawan yang sedang menghadap komputer menegur Basir. "Ini kan rumah saya, kenapa harus menggedor pintu," kata Basir kala itu. Wawan yang mengelak memberikan kartu tanda penduduknya ini segera mematikan komputer dan mengajak Basir bicara di luar saja.
Wawan juga pernah melihat dua karung plastik di rumah kontrakan Wawan. Dia membongkar salah satu karung yang berisi sandal. "Waktu saya mau membongkar yang satunya, nggak boleh, saya disuruh keluar," kata Basir.
Warga di sekitar kontrakan milik Basir kaget mengetahui polisi menduga Wawan adalah Noordin, gembong teroris yang masih buron. Beberapa tetangga dekat mengenal pria itu sebagai pedagang sandal. "Dia baik sekali," kata seorang warga. Mereka biasa bertemu Wawan pada saat sore atau malam.
Polisi menduga Noordin masih berkeliaran di sekitar Jateng. Beberapa orang yang dekat dengan pria yang diduga otak serangkaian pengeboman di Indonesia ini sudah ditangkap, termasuk Abdul Aziz. Abdul yang mengantarkan Wawan ketika menyewa rumah Basir.
Abdul ditangkap Tim Detasemen Khusus 88/Antiteror Markas Besar Polri beberapa waktu silam. Warga Kelurahan Poncol, Kecamatan Pekalongan Timur, ini diketahui anggota jaringan Azahari [baca: Tempat Menyimpan Bom Azahari Masih Dicari].
Noordin M. Top ternyata pernah menjadi kepala sekolah sekaligus guru dan tinggal di kompleks sebuah sekolah dasar di Johor, Malaysia. Madrasah Ibtidaiyah Lukmanul Hakim di Ulu Tiram, Johor Bahru, yang pernah dipimpin Noordin, kini telantar. Aktivitas belajar mengajar di sekolah yang pernah memiliki sekitar 300 murid ini terhenti sejak empat tahun silam.
Semula Lukmanul Hakim hanya kelompok pengajian dengan pengajarnya antara lain Noordin. Pengajian ini kemudian berkembang menjadi sekolah formal pada 1999. Noordin menjadi kepala sekolah sejak 1999 hingga 2001. Meski tidak rutin, Noordin mengajar agama.
Sekolah Lukmanul Hakim dituding sebagai sarang teroris dan mengajarkan ajaran menyimpang pada 2001. Polisi Diraja Malaysia sempat mendatangi sekolah Lukmanul Hakim untuk mencari Noordin. Namun, pria ini menghilang.
Polisi tidak menemukan benda-benda berbahaya dan mencurigakan di sekolah itu. Meski begitu, dengan pertimbangan keamanan murid-murid serta pengurus, pihak pengelola menutup sekolah Lukmanul Hakim. Sampai sekarang gedung bekas sekolah dibiarkan kosong.
Sementara itu, polisi membebaskan Agung Pramono, yang ditangkap dengan dugaan terkait pelarian Noordin. Pedagang telepon seluler ini ditahan karena mengenal kaki tangan Noordin, Hanif dan Dwi Widiyanto alias Wiwid yang diduga menyembunyikan dalang bom bunuh diri di Jimbaran, Bali [baca: Agung Pramono Dikenal Pendiam].
Agung mengenal Hanif dan Wiwid dalam urusan bisnis telepon genggam. "Saya kenal sebatas itu [urusan telepon seluler] saja," kata Agung. Dia menambahkan, seumur-umur baru dua kali bertemu Hanif dan Wiwid.
Agung memastikan tidak akan menuntut polisi terkait pemeriksaan dirinya. Meski begitu, dia mengaku khawatir penangkapan itu akan mempengaruhi bisnis jual, beli, dan servis hand phone-nya. "Relasi dan aktivitas bisnis saya bisa terhambat," ujar pria berjanggut ini.
Polisi juga masih mengejar Iwan Cahyono. Pria yang sehari-hari berdagang kunci dan distributor buku itu diburu lantaran diduga memiliki hubungan dengan Hanif dan Wiwid.
Oramg tua Iwan masih belum percaya putranya terlibat terorisme. Sang ayah, Sunardijo, yang ditemui di Semarang, Jateng, mengatakan Iwan meninggalkan rumah usai Lebaran. Dia sempat menelepon adiknya. Saat itu, Iwan mengatakan dalam kondisi sehat dan sedang mengurus pekerjaan di Jakarta.(TNA/Tim Liputan 6 SCTV)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5575337/original/085582000_1778045275-cek_fakta_-_alat_pertanian_dan_bibit_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7812129/original/049676700_1780629323-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-05T101248.112.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5515623/original/045243200_1772182225-dinas_perhubungan_-_klaim_facebook_cpns.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8336960/original/043977000_1782207955-cek_fakta_-_bibit_Ikan_lele.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/449077/original/181105btelenurdin2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262589/original/038165100_1781838673-AP26170082180731-Meksiko_vs_Korsel.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258678/original/086617800_1781400963-000_B6Z32RM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8397156/original/089293200_1782278283-AP26174690236290.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8380798/original/058541300_1782259430-Didier_Deschamps.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8393441/original/064092700_1782273896-IMG-20260624-WA0015.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8391143/original/089751400_1782271521-AP26174796770030.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8390580/original/090297700_1782270828-AP26174743606446.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8377926/original/005752900_1782255969-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389880/original/043940700_1782270022-AP26174722689391.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8369442/original/037177900_1782246021-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8359730/original/054220900_1782235074-063_2282965616.jpg)