Dugaan Keluarga Ina Terinfeksi Flu Burung Menguat

Suhu tubuh Indah, Ilham, dan Bintang tinggi disertai sesak napas. Gejala ini menguatkan dugaan terinfeksi flu burung apalagi mereka pernah kontak dengan Ina Solati. Penularan virus dari manusia ke manusia makin diwaspadai.

Diterbitkan 03 November 2005, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menilai, gejala-gejala pada tiga anggota keluarga almarhumah Ina Solati mengarah pada virus flu burung. Indikasi terinfeksi flu burung sangat kuat karena ketiga pasien pernah kontak langsung dengan Ina. Sekarang suhu tubuh mereka panas tinggi disertai pneumonia. Kini, Indah, Ilham, dan Bintang terbaring di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Suroso, Sunter, Jakarta Utara.

Siti Fadilah saat ditemui di Jakarta, Kamis (3/11) mengaku, khawatir menguatnya kemungkinan virus avian influenza subtipe H5N1 pada keluarga Ina berpotensi pandemik (meluas) karena menular dari manusia ke manusia. Jika indikasi itu benar, maka kasus Ina Solati adalah kasus kelima terjadi di Indonesia [baca: Flu Burung Kembali Menelan Korban].

Kendati Menteri Kesehatan sudah melontarkan kecurigaannya, sayangnya, pihak RPSI terkesan santai. Standar perawatan ruangan isolasi pasien flu burung terlihat tidak diterapkan pada Indah, Ilham, dan Bintang.

Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan tentang pandemik influenza. Sejauh ini, flu burung alias avian influenza telah merenggut lebih dari 60 jiwa di dunia. Kekhawatiran timbul pandemik global jika virus flu burung itu bermutasi menjadi virus yang dapat ditularkan oleh manusia. Sebelumnya, avian influenza hanya menyerang unggas atau kadang-kadang spesies lain, termasuk babi dan manusia.

Sekadar informasi, pandemi flu terjadi berulang-ulang. Di dunia sudah tiga kali terjadi wabah tersebut. Pertama wabah flu Spanyol pada tahun 1918, kemudian flu Asia sekitar 1957, dan terakhir flu Hongkong pada tahun (1968).

Yang perlu diwaspadai, pandemi flu terjadi semudah flu biasa, yaitu melalui batuk-batuk dan bersin. WHO memandang dunia boleh jadi, kini berada di ambang pandemi baru. Pasalnya, flu burung menular cepat di sejumlah negara Asia, antara lain Hongkong, Kamboja, Indonesia, Thailand, dan Vietnam.

Jika tidak segera diberantas semua negara bisa terserang karena waktu penyebaran virus sangat singkat: hanya tiga bulan. Sementara pada kasus-kasus terdahulu lamanya penyebaran bisa enam sampai sembilan bulan.

Penyakit akhir-akhir ini mudah meluas karena kekebalan manusia menurun, keterbatasan tenaga medis, fasilitas dan perlengkapan untuk menangani wabah. Kondisi terburuk dipastikan akan dialami negara-negara berkembang mengingat untuk mendapat fasilitas kesehatan memadai butuh uang banyak.

Untuk mencegahnya perlu dipelajari faktor-faktor penyebab orang meninggal dengan cepat akibat pandemi itu. Pertama, jumlah orang yang terinfeksi. Contohnya, Indonesia di mana flu burung sudah menelan lebih dari lima korban jiwa dalam tempo satu tahun [baca: Flu Burung Dinyatakan Kejadian Luar Biasa]. Faktor kedua kemampuan penyebaran virus, ketiga mudah atau tidaknya masyarakat tertular. Terakhir, efektif atau tidaknya langkah-langkah preventif pandemi. Dampak terhadap gangguan ekonomi dan sosial juga perlu diperhatikan.

WHO sudah menyatakan perang terhadap flu burung. Setiap negara diingatkan melaksanakan langkah strategis mengatasi ancaman pandemi flu. WHO juga intensif mengadakan pertemuan dengan menteri-menteri kesehatan dan berbagai organisasi kesehatan. Dunia dianggap WHO sudah memasuki tahap peringatan ketiga dari enam tahap peringatan. Di mana sebuah virus telah menimbulkan infeksi, tetapi kemungkinan menyebar dari manusia ke manusia tinggal menunggu waktu. Jika sudah masuk tahap itu, WHO akan mengeluarkan peringatan lebih tegas.(KEN/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6