Cerita Pendaki Lihat Langsung Salju Abadi Pegunungan Jayawijaya Papua yang Sekarat

Menipisnya salju abadi Pegunungan Jayawijaya Papua menandai ancaman ekologis yang serius.

Diterbitkan 13 November 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Berhasil menjejakkan kaki di puncak tertinggi Oseania, Pegunungan Jayawijaya, Papua, adalah sebuah pencapaian luar biasa. Perasaan yang muncul begitu kompleks. 

"Senang bisa melihat langsung salju di negara sendiri. Salah satu keajaiban di dunia, ada salju di negara tropis. Ini adalah sebuah privilese, menyaksikan fenomena alam yang sangat langka," kata seorang pemadu pendakian Abdul Kholik pada Lifestyle Liputan6.com, Rabu, 12 November 2025.

Namun, euforia itu bercampur kenyataan pahit. Ia mengaku miris mendapati salju abadi semakin menipis dan diprediksi akan menghilang. Kondisi ini mengubah ekspedisinya jadi "momen sekali seumur hidup" yang mendesak.

Bagi seorang pendaki, cara terbaik merayakan keindahan Jayawijaya adalah dengan menyaksikan langsung. Foto dan video yang diambil Adul, sapaan akrabnya, pada 29 Oktober 2025, dari ketinggian 4,2 ribuan mdpl jadi ramai setelah diunggah di akun Instagram-nya, @kangadulll.

"Melihat langsung gletser yang masih ada dengan cara mendakinya dan mengabadikan momennya untuk kelak bernostalgia jika memang nanti gletsernya benar-benar menghilang. Setidaknya saya pernah melihat dan mengabadikan momennya seumur hidup sekali," katanya.

Daya tarik utamanya tidak terbantahkan. Ini adalah "gunung tertinggi di Indonesia, bahkan termasuk jajaran tujuh summit dunia," kata Adul.

Namun, prestise ini datang dengan harga yang sepadan, baik dari segi finansial maupun mental. Untuk menyelesaikan ekspedisi ke Carstensz, persiapan yang dibutuhkan tidak main-main. "Perkiraan durasi waktu yang harus disiapkan antara 8─10 hari, dengan biaya kisaran Rp 90─100 juta," katanya.

Tantangan Berat Menuju Puncak Jaya

Angka yang fantastis ini mencerminkan kompleksitas logistik, perizinan, dan risiko yang harus dikelola. Ini bukanlah perjalanan yang bisa dilakukan secara impulsif.

Bahkan bagi pendaki berpengalaman, Carstensz bisa memberikan tantangan berat. Menurut Adul, perjalanan ini menuntut ketangguhan.

Ia mengaku pernah gagal menuju punjak Jayawijaya. "Pertama kali pada 2021, tapi gagal, akhirnya saya mengulanginya kembali tahun 2025 dan Alhamdulillah berhasil sampai puncak Jayawijaya," ujarnya.

Pendakian ke Puncak Jayawijaya sangat berbeda dari pendakian gunung berapi populer di Indonesia. Ini adalah ranah mountaineering teknis yang menuntut keahlian spesifik. Persyaratannya pun ketat, termasuk perihal pengalaman mendaki gunung-gunung yang terbilang sulit di Indonesia.

Pengalaman Pendaki Puncak Jaya

Adul mengatakan bahwa seorang calon pendaki Pegunungan Jayawijaya harus sudah berpengalaman mendaki beberapa gunung di Indonesia dalam kategori "lumayan sulit," serta memiliki kemampuan panjat tebing.

Keahlian ini mutlak diperlukan karena medan yang dilalui adalah dinding batu raksasa yang cukup miring dan terjal. Untuk menghadapi medan ini, perlengkapan standar pendakian tidaklah cukup.

Pendaki wajib membawa perlengkapan panjat tebing khususnya ascending dan descending untuk memanjat tebing dan menuruninya. Selain itu, cuaca ekstrem menuntut persiapan khusus, seperti "sistem layering tidur atau pakaian ekstra hangat, mengingat cuaca disana sangat dingin," jelasnya.

Bahkan untuk mencapai titik awal pendakian bukanlah hal mudah. Saat ini, salah satu akses untuk bisa sampai di titik start pendakian Pegunungan Jayawijaya  adalah hanya bisa menggunakan helikopter.

Sejak Awal Pendakian Puncak Jaya

Pengalaman ini menambah lapisan petualangan tersendiri, sebuah tantangan mental bahkan sebelum pendakian dimulai.

"Sedikit takut campur grogi ketika saat mulai menaiki helikopter, karena bagi saya pribadi, baru kali itu saja mencoba terbang menggunakan helikopter, selalu merasa takut jatuh dan nabrak," Adul bercerita.

Perubahan iklim membuat salju abadi di Puncak Jaya terus mengalami pencairan. Hal tersebut sempat diungkap Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) saat itu, Dwikorita Karnawati, 22 Agustus 2023.

"Ekosistem yang ada di sekitar salju abadi menjadi rentan dan terancam. Perubahan iklim juga berdampak pada kehidupan masyarakat adat setempat yang telah lama bergantung pada keseimbangan lingkungan dan sumber daya alam di wilayah tersebut," katanya, rangkum kanal Regional Liputan6.com.