Ditenteng PM Jepang Sanae Takaichi, Tas Kulit Lokal Seharga Rp14,7 Juta Ludes Terjual

Produsen tas kulit lokal Jepang itu bahkan meminta maaf karena pesanan pelanggan baru bisa dipenuhi pada April 2026. Viralnya tas dipengaruhi oleh Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi.

Diterbitkan 03 November 2025, 13:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bila Inggris punya Kate Effect untuk menggambarkan bagaimana lakunya produk setelah dipakai oleh Kate Middleton, Jepang kini memiliki Sanae Effect. Hal itu merujuk pada lakunya produk setelah dipakai Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, khususnya tas kulit yang ditentengnya saat muncul di publik.

Saat memasuki kediaman perdana menteri, Takaichi menenteng tas kulit hitam ukuran sedang yang setelah ditelusuri merupakan Grace Delight Tote. Tas kulit itu buatan Hamano Inc., produsen barang-barang kulit Jepang berusia 145 tahun yang produknya telah lama jadi favorit anggota keluarga kekaisaran Jepang.

Menurut situs web resmi perusahaan, meski seluruhnya berbahan kulit, berat tas itu hanya 700 gram dan dirancang untuk 'menyeimbangkan keanggunan dengan kepraktisan'. Tas seharga 136 ribu yen (sekitar Rp14,7 juta) itu pun menjadi viral, memicu banjir pesanan ke produsen yang berbasis di Nagano, Jepang tengah. 

Mengutip The Strait Times, Minggu, 2 November 2025, Hamano menerima "jumlah pesanan yang sangat banyak" setelah foto-foto Perdana Menteri dengan tas tersebut ditampilkan di media sosial dan berita, baik di Jepang maupun di luar negeri, kata perusahaan tersebut di situs tersebut.

Perusahaan akhirnya meminta maaf karena pengiriman pesanan tertunda hingga akhir April 2026, menurut situs webnya. Sementara pada unggahan tertanggal 23 Oktober 2025, mereka menyatakan sejumlah warna sudah ludes terjual. Kalaupun tersedia, jumlahnya sangat terbatas.

Siapa yang Terpengaruh Takaichi?

 

Meskipun jajak pendapat menunjukkan Takaichi sangat populer di kalangan generasi muda, tidak jelas kelompok usia mana yang meniru pilihan aksesorinya. Tas jinjing Hamano menarik bagi beragam wanita profesional yang mencari pilihan tas yang praktis untuk menampung laptop dan perlengkapan sehari-hari, tanpa menarik perhatian yang tidak perlu, menurut spesialis kemewahan dan budaya Kaori Nakano sekaligus profesor tamu di Universitas Aoyama Gakuin di Tokyo.

"Tas ini pilihan yang solid dan dapat diandalkan bagi wanita di posisi manajerial," tambahnya. "Harganya relatif terjangkau dibandingkan merek luar negeri dengan kualitas serupa."

Selain tas tersebut, Takaichi juga sering mengenakan pakaian rancangan desainer Jepang Jun Ashida, ujar Nakano. "Dengan mengenakan pakaian desainer Jepang secara mencolok dan membawa tas buatan Jepang, dia menunjukkan patriotisme dan dukungannya terhadap industri Jepang," tambah Nakano. "Ini sudah terbukti berhasil."

Pengagum Margareth Thatcher

Takaichi bukanlah politikus perempuan pertama yang pilihan busananya telah mendongkrak penjualan merek-merek yang relatif kurang dikenal. Para pembuat kebijakan perempuan cenderung berpegang teguh pada merek-merek mewah tradisional. 

Terlebih, Takaichi dikenal sebagai pengagum mantan Perdana Menteri Inggris Margareth Thatcher yang juga dikenal kerap memakai tas tangan terstruktur buatan merek Inggris, Lautner. Selain itu, mereka berdua juga punya kecintaan pada musik heavy metal, mobil, dan sepeda motor.

Sanae Takaichi mencatat sejarah pada Selasa, 21 Oktober 2025, ketika ia menjadi perdana menteri perempuan pertama Jepang. Namun, hanya beberapa jam setelah terpilih oleh anggota parlemen, tampak jelas bahwa keterwakilan perempuan di dunia politik Jepang masih akan tetap rendah, karena ia hanya menunjuk dua perempuan dalam kabinetnya.

Takaichi sebelumnya berjanji akan menghadirkan tingkat keterwakilan perempuan dalam pemerintahannya yang sebanding dengan negara-negara seperti Islandia, Finlandia, dan Norwegia.

Takaichi Galang Dukungan

Takaichi menggantikan Shigeru Ishiba, mengakhiri kekosongan politik dan perebutan kekuasaan selama tiga bulan sejak kekalahan telak Partai Demokrat Liberal (LDP) dalam pemilu Juli 2025. Ishiba, yang hanya menjabat selama satu tahun sebagai perdana menteri, mengundurkan diri bersama kabinetnya pada hari yang sama di pagi hari, membuka jalan bagi penggantinya.

Aliansi mendadak LDP dengan Partai Inovasi Jepang (Japan Innovation Party/JIP) berbasis di Osaka atau Ishin no Kai, memastikan posisi Takaichi sebagai perdana menteri karena pihak oposisi tidak bersatu. Namun, aliansi Takaichi yang belum teruji ini masih kekurangan suara mayoritas di kedua majelis parlemen dan perlu merangkul kelompok oposisi lain untuk meloloskan undang-undang apa pun — sebuah risiko yang bisa membuat pemerintahannya tidak stabil dan berumur pendek.

"Stabilitas politik sangat penting saat ini," kata Takaichi pada upacara penandatanganan kesepakatan dengan pemimpin JIP sekaligus Gubernur Osaka Hirofumi Yoshimura pada Senin, 20 Oktober 2025, seperti dilansir Associated Press. "Tanpa stabilitas, kami tidak bisa mendorong kebijakan untuk memperkuat ekonomi atau diplomasi."