Warisan Fesyen Mendiang Robert Redford, Sang Ikon Gaya Klasik

Sebagian besar gaya mendiang Robert Redford telah jadi cetak biru busana pria Amerika.

Diterbitkan 18 September 2025, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketika aktor sekaligus sutradara Hollywood legendaris, Robert Redford, meninggal dunia pada Selasa, 16 September 2025, ia tidak hanya meninggalkan sejumlah film yang penting secara budaya, tapi juga warisan fesyen. Sebagian besar gayanya bahkan telah jadi cetak biru busana pria Amerika Serikat (AS).

Melansir CNN, Rabu, 17 September 2025, Redford, yang langsung dikenali dari rambutnya yang terurai tertiup angin dan kegemarannya akan penampilan santai namun berkelas, jadi ikon gaya klasik era 1960-an dan 70-an. Saat itu, ia jadi pemeran utama pria di sinema Amerika, membintangi film-film, seperti "All the President's Men" dan "The Way We Were."

Di antara pakaian Redford yang berkesan adalah setelan pastel elegan yang dikenakannya dalam drama romantis tahun 1974 "The Great Gatsby." Juga, mantel olahraga tweed herringbone, yang dilapisi di atas kemeja chambray biru, dasi wol bergaris, dan celana jins biru muda, yang ia kenakan dalam film thriller tahun 1975 "Three Days of the Condor."

Teliti Memilih Pakaian

Gaya berpakaian Redford yang klasik, seperti kemeja berkancing, kacamata hitam aviator, dan celana denim—terkadang dipadukan dengan kemeja yang serasi, menjadikannya salah satu pengadopsi awal gaya "double denim," jauh sebelum jadi tren.

Meski tampak santai, ia sangat teliti dalam memilih pakaiannya. Untuk "Three Days of the Condor," sang aktor mengajukan permintaan khusus untuk celana jinsnya, meminta "kelim Hollywood" untuk Levi's-nya yang melebar dengan memotong inseam sepanjang 36 inci dan memasang kembali manset aslinya, ungkap perancang kostum film tersebut, Joseph Aulisi, pada HTSI.

Walau ada upaya luas meniru citra sang ikon, jarang sekali yang berhasil, ungkap perancang Prancis dan pendiri merek Husbands Paris, Nicolas Gabard, yang memproduksi blazer tweed abu-abu yang dikenakan Redford dalam "Three Days of the Condor."

Inspirasi Desainer

"Semua desainer pakaian pria, pada satu titik, pernah mencoba meniru jaket ini. Bahkan Ralph Lauren, dan tidak ada yang berhasil," sebut Gabard. Baik perancang busana berpengaruh maupun penggemar mode kerap terinspirasi dari mendiang aktor tersebut.

Michael Kors, misalnya, mencontohkan penggambaran Redford sebagai pemain ski yang gagah dalam film "Downhill Racer" tahun 1969 ketika merancang koleksi pria pada 2016, yang merujuk pada gaya "apres-ski." Ralph Lauren, yang merancang kostum untuk para pemeran pria dalam "The Great Gatsby," juga mengungkap kekagumannya terhadap masa keemasan Hollywood dan gaya para aktor utama, seperti Redford.

"Robert Redford adalah bintang film Amerika, tapi komitmen pribadinya untuk melestarikan karya dan alam yang dicintainyalah yang akan jadi warisan abadi. Kita akan merindukan kegembiraan dan pandangan optimisnya tentang hidup," sebut Ralph Lauren pada CNN.

Tidak Selalu Menguntungkan

Redford, yang berkulit kecokelatan dan beruban, mengatakan di usia 82 tahun bahwa ia "terkejut" dianggap sebagai simbol gaya. "Waktu kecil, tidak ada yang pernah bilang saya tampan; saya tidak pernah mendengarnya," ujarnya pada The Telegraph pada 2018.

"Rambut saya merah dan sulit diatur, dan jambul saya bertebaran di mana-mana. Saya berbintik-bintik dan gigi saya terlalu besar. Jadi, tidak ada orang yang menghampiri saya dan berkata, 'Wah, kamu pria yang sangat tampan.' Hal itu terjadi jauh setelahnya, dan ketika itu terjadi, saya tidak siap," tambahnya.

Meski penampilan dan karisma Redford menopang kariernya dalam banyak hal, hal itu tidak selalu menguntungkannya. Aktor tersebut kehilangan peran utama dalam film komedi-romantis tahun 1967 "The Graduate" karena ia belum pernah ditolak seorang wanita.