Jangan Percaya Medsos, Riset Simpulkan Bibir dengan Proporsi Alami Lebih Atraktif Ketimbang Filler Berlebih

Para peneliti memperingatkan bahwa media sosial bukan satu-satunya penyebab tren mengenai filler berlebih.

Diterbitkan 28 Juli 2025, 03:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Prosedur filler bibir kini semakin populer di kalangan masyarakat. Apalagi tampilan bibir lebih penuh dan bervolume kini menjadi tren di media sosial. Hanya saja, kadang prosedur pembesaran bibir dilakukan secara berlebihan.

Dilansir dari The Korea Times, Minggu (27/7/2025), sebuah studi terbaru dari American University of Beirut  menunjukkan temuan menarik yang mungkin mengubah perspektif ini. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa proporsi bibir alami, bukan bibir yang besar berlebihan, justru dianggap paling menarik oleh sebagian besar responden.

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal internasional Plastic and Reconstructive Surgery – Global Open ini, tim peneliti menggelar riset ini dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) untuk menghasilkan gambar wajah perempuan kulit putih dengan berbagai rasio bibir atas dan bawah serta tingkat penuhnya bibir yang berbeda. Survei kemudian digelar terhadap 200 orang dewasa sebagai responden. 

Data dari Responden

Ke-200 orang yang disurvei ini kemudian diminta memberi peringkat pada gambar-gambar ini berdasarkan daya tarik yang mereka rasakan. Bentuk bibir yang dianggap paling estetis adalah yang memiliki rasio atas/bawah antara 0,618:1 dan 1:1. Artinya, bibir bawah sedikit lebih penuh, atau bibir atas dan bawah yang seimbang. Bibir atas yang lebarnya 25 persen dari lebar setengah bibir (hemi-lip width) mendapat nilai tertinggi.

Sebaliknya, gambar dengan bibir yang terlalu besar dianggap tidak estetis dan tampak tidak alami. Penilaian ini terutama pada dua bibir yang membesar, atau ketika bibir atas melebihi 30 persen dari hemi-lip width. 

Dari Seleb dan media Sosial

Studi ini juga menyoroti kekhawatiran yang berkembang terkait standar kecantikan yang banyak dibentuk oleh budaya selebritas dan media sosial. Platform-platform ini seringkali menampilkan citra ideal yang terkadang tidak realistis, memicu keinginan untuk prosedur estetika yang dramatis.

Prosedur estetika, termasuk filler bibir, kini semakin dinormalisasi dan seringkali dianggap setara dengan perawatan rutin seperti potong rambut atau manikur.

Akibatnya, banyak pasien datang ke klinik dengan membawa foto referensi dari influencer atau seleb favorit mereka, berharap mendapatkan hasil serupa. 

Kecenderungan Psikologis

Para peneliti memperingatkan bahwa media sosial bukan satu-satunya penyebab tren ini. "Permintaan berlebihan dari beberapa pasien tidak bisa sepenuhnya dikaitkan dengan pengaruh media sosial," tulis studi tersebut.

Ditambahkan, "Kemungkinan besar itu adalah hasil dari media sosial yang dikombinasikan dengan faktor predisposisi pribadi lainnya." Hal ini termasuk distorsi citra tubuh dan kecenderungan psikologis seperti perfeksionisme atau neurotisisme.

Karena itulah, peneliti menekankan agar para praktisi memberikan konseling menyeluruh kepada pasien agar ekspektasi mereka selaras dengan standar kecantikan alami, bukan sekadar mengikuti tren yang sedang viral.Â