Sukses

Lukisan Hasil Kreatif Kecerdasan Buatan Juarai Kompetisi Seni, Bikin Seniman Sakit Hati

Liputan6.com, Jakarta - Kompetisi Seni Rupa Pameran Negara Bagian Colorado menuai kontroversi. Pasalnya, para juri memenangkan hasil kreatif sistem kecerdasan buatan (AI) yang dipakai peserta bernama Jason M. Allen.

Pada Agustus 2022, Allen yang berprofesi sebagai desainer gim memenangkan kontes seni pertamanya. Pria yang tinggal di Pueblo Barat, Colorado, AS itu menjadi juara 1 seniman pendatang baru dalam kategori seni digital/fotografi dimanipulasi secara digital.

Lukisannya berjudul Théâtre D'opéra Spatial itu dibuat menggunakan Midjourney, sebuah sistem kecerdasan buatan yang dapat memproduksi citra detail ketika diberi petunjuk tertulis. Ia pun berhak memperoleh 300 dolar AS sebagai hadiah.

"Aku sangat terpesona dengan gambaran ini. Aku menyukainya. Dan menurutku, semua orang harus melihatnya," kata Allen (39), kepada CNN Business dalam sebuah wawancara pada Jumat, 2 September 2022, dikutip Senin (5/9/2022).

Lukisan karya Allen terlihat cerah, perpaduan surealis antara gaya Renaissance dan steampuck. Itu adalah satu dari tiga gambar yang diikutkannya dalam kompetisi. Total 11 orang yang mengajukan 18 karya seni dalam kategori yang sama.

Kategori yang diikuti Allen itu didefinisikan sebagai karya yang menggunakan 'teknologi digital sebagai bagian dari proses kreatif atau presentasi'. Allen pun tak menutupi penggunaan Midjourney dalam proses pembuatan karya tesebut.

Midjourney adalah salah satu dari sejumlah generator gambar AI serupa. Lainnya ada Google Research's Imagen dan OpenAI's DALL-E 2. Siapa pun dapat menggunakan Midjourney melalui Discord, sementara DALL-E 2 memerlukan undangan, dan Imagen belum dibuka untuk pengguna di luar Google .

Cara-cara baru manusia menggunakan teknologi tersebut dalam memproduksi gambar/lukisan memicu perdebatan tentang apakah AI yang membuat seni atau hanya membantu manusia dalam menciptakan seni. Perdebatan itu semakin tajam setelah kemenangan Allen.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 4 halaman

Mengecewakan Seniman

Allen yang gembira atas kemenangannya itu mengunggah ceritanya di server Midjourney di Discord pada 25 Agustus 2022, beserta tiga karya yang dikirimkan ke kompetisi tersebut. Unggahan itu kemudian beredar viral di Twitter beberapa hari kemudian.

Sejumlah seniman menunjukkan kemarahannya atas kemenangan Allen karena ia menggunakan kecerdasan buatan untuk menciptakan lukisan, dikutip dari publikasi Vice pada awal pekan ini. 

"Ini menyebalkan dan untuk alasan yang sama persis, kami tidak membiarkan robot berpartisipasi dalam Olimpiade," tulis salah satu pengguna Twitter. "Ini adalah definisi literal dari 'menekan beberapa tombol untuk membuat karya seni digital'," cuit lainnya.

Karya seni AI seperti 'pisang yang ditempel di dinding' dunia digital sekarang. Namun, Allen mengelak bila karyanya tanpa usaha. Meski tidak menggunakan kuas lukis untuk menciptakan karya, prosesnya tidak sesederhana mengetikkan kata-kata dan lalu langsung memenangkan kompetisi.

Midjourney bisa saja langsung menyodorkan beberapa gambar sesuai kata perintah yang diketikkan dalam beberapa detik. Tetapi, Allen mengaku membutuhkan lebih dari 80 jam untuk mendapatkan tiga karya yang ia ajukan ke kompetisi.

3 dari 4 halaman

Rangkaian Proses

Pertama-tama, kata dia, ia akan mengolah ungkapan yang mendorong Midjourney memproduksi gambar wanita dalam gaun berenda dan helm luar angkasa. Dia mencoba memadukan kostum gaya Victoria dengan tema luar angkasa. Seiring waktu, tergantung dengan penyesuaian pada naskah tertulisnya, seperti detail pencahayaan dan harmoni warna, ia menciptakan 900 iterasi hingga menghasilkan tiga gambar terakhirnya.

Selanjutnya, Allen merapikan ketiga gambar itu di Photoshop, seperti membubuhkan kepala dengan rambut hitam bergelombang pada salah satu sosok wanita di lukisannya karena Midjourney hanya membuat versi tanpa kepala. Ia kemudian memproses  gambar melalui program perangkat lunak lain yang disebut Gigapixel AI untuk meningkatkan resolusi dan mencetak gambar di atas kanvas di toko cetak lokal.

Meski memancing kontroversi, Allen mengaku senang perdebatan soal AI dapat digunakan untuk membuat seni tersebut menarik begitu banyak perhatian.

"Daripada membenci teknologi atau orang-orang di baliknya, kita perlu menyadari bahwa itu adalah alat yang kuat dan menggunakannya untuk kebaikan sehingga kita semua dapat bergerak maju daripada merajuk tentangnya," kata Allen.

4 dari 4 halaman

Dukungan Juri

Salah seorang juri kompetisi seni itu mengaku tidak mengetahui jika sistem Midjourney yang digunakan Allen adalah kecerdasan buatan. Meski begitu, Cal Duran yang juga seorang seniman dan guru seni itu, tetap membela karya Allen.

Ia tetap pada keputusannya untuk memberikan tempat pertama dalam kategori seniman pendatang baru kepada Allen. Ia menyebutnya sebagai karya yang indah. 

"Saya pikir ada banyak hal yang terlibat dalam karya ini dan saya pikir teknologi AI dapat memberi lebih banyak kesempatan kepada orang-orang yang mungkin tidak menemukan diri mereka sebagai seniman dengan cara konvensional," katanya.

Allen belum akan mengatakan apa yang ada di balik pesan teksnya. gambar pemenang. Dia berencana untuk merahasiakannya sampai dia menerbitkan karya terkait yang lebih besar yang diharapkan bisa diselesaikan akhir tahun ini.

Meski membantu manusia, ada pertimbangan lain yang harus diperhatikan manusia saat menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Elon Musk, bos SpaceX, mengingatkan agar kecerdasan buatan dikendalikan segera agar tidak menjadi "diktator abadi" di Bumi. Jika hal itu terjadi, tidak akan ada jalan keluar bagi manusia. Kata Musk seperti dilansir Financial Express, 8 April 2018.

"Sejarah menunjukkan, diktator akan selalu mati atau berhasil ditumpaskan. Tapi, jika diktator itu adalah AI, maka ia tak akan mati. Ia akan hidup selamanya, dan kemudian Anda memiliki seorang diktator abadi, yang mana kita tidak akan pernah bisa melarikan diri darinya," ujar Musk, dikutip dari kanal Global Liputan6.com.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.