Sukses

Kenapa Tren Air Spa di TikTok Dituding Sebagai Perampasan Budaya?

Liputan6.com, Jakarta - Tren air spa TikTok telah mengambil alih platform, tetapi juga dikelilingi oleh beberapa kontroversi, jadi apa sebenarnya tren ini? Ada banyak tren yang jadi viral di media sosial.

Salah satu yang telah menarik perhatian banyak orang belakangan ini adalah tren air spa atau spa water trend. Tren air spa ini merupakan minuman baru yang ditemukan beberapa pengguna di TikTok.

Minuman yang juga disebut jus ini rasanya menyegarkan dan sukses menarik perhatian banyak orang. Ada juga yang menganggapnya sebagai minuman musim panas baru yang baik untuk kesehatan.

Untuk membuat minuman ini, Anda hanya membutuhkan air es, gula, mentimun, dan buah-buahan pilihan Anda. Campur semua bahan dengan baik dan minuman air spa Anda telah siap. Ribuan pengguna TikTok telah mencoba membuat minuman air spa versi mereka sendiri sehingga kini telah menjadi tren baru.

Tetapi, mengapa tren ini dikelilingi oleh kontroversi? Melansir laman New York Post, 1 Agustus 2022, air spa menjadi viral di TikTok dan menjadi viral karena alasan yang salah.

Kontroversi dimulai ketika sejumlah warganet di TikTok mulai membandingkannya dengan minuman Meksiko terkenal yang disebut aqua fresca. Minuman ini adalah campuran air es dan jus buah, biasanya nanas atau melon. Untuk menambah rasa, terkadang ditambahkan jeruk nipis, gula, dan terkadang mint. Sejumlah warganet di TikTok berpendapat bahwa minuman viral ini tidak ada bedanya dengan aqua fresca.

 

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Perampasan Budaya

Tren membuat minuman ini dimulai dari Gracie Norton, seorang TikToker yang punya lebih dari 500 ribu pengikut. Ia membuat minuman berbahan air putih dingin, mentimun, jeruk nipis, gula dan aneka buah. Ia menyebut minuman itu sebagai air spa.

Namun, kreasi Gracie Norton mengundang kritikan dari komunitas Amerika Latin. Mereka menyebut pemberian nama air spa itu termasuk cultural appropriation atau apropriasi budaya (perampasan budaya) karena racikannya sama dengan aqua fresca. Beberapa warganet menyetujui pendapat itu. Mereka bahkan membuat video tentang minuman itu dan menyebutnya sebagai aqua fresca dan tidak butuh nama lain untuk menghormati negara tempat minuman itu berasal.

Belakangan penolakan terhadap nama air spa untuk aqua fresca semakin banyak mendapat dukungan warganet. Situasi itu membuat Grace Norton akhinya meminta maaf melalui akun Instagram miliknya. Ia juga menghapus sejumlah video minuman yang diunggahnya.

"Nama yang pantas untuk minuman ini adalah Aqua Fresca, dan aslinya minuman ini milik komunitas masyarakat Amerika Latin. Saya meminta maaf dari hati saya yang terdalam kepada komunitas Latin dan mereka yang merasa tersinggung dengan video saya," ucapnya di Instagram.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

3 dari 4 halaman

Eksploitasi Budaya

Tak hanya minuman, soal fesyen juga bisa dikaitkan dengan apropriasi budaya. Misalnya, celana Balenciaga seharga 1.190 dolar AS atau setara Rp16,9 juta sempat jadi perbincangan hangat. Desainer di balik celana ini dikecam beberapa pakar mode dan sejarah orang kulit hitam karena disebut lancang menggunakan budaya orang lain.

Dilansir dari CNN, Senin, 13 September 2021, sweatpants Balenciaga berwarna abu-abu itu menampilkan boxer yang mengintip di bagian atas celana. Celana ini memicu kontroversi usai pengguna TikTok mengunggah video singkap pada 2 September 2021 soal celana itu.

"Ini terasa rasis. Mereka menjahit boxer di dalam celana," kata seseorang di video yang diunggah oleh pengguna Tiktok @mr200m__ saat mereka memegang celana Trompe-L'Oeil.

Profesor Studi Afrika di California State University, Northridge Marquita Gammage juga terganggu oleh item dari Balenciaga itu. Hal itu dikatakannya sebagai eksploitasi "Budaya kulit hitam dengan harapan mendapatkan keuntungan," katanya kepada CNN lewat email.

Gammage adalah penulis "Cultural Appropriation as 'Agency Reduction'" yang diterbitkan dalam International Journal of Africana Studies pada 2018. Di dalamnya, ia menulis tentang penyalahgunaan budaya kulit hitam dan bagaimana hal itu merusak kecerdikan, fungsionalitas, dan keindahan ekspresi budaya kulit Hitam sekaligus mendelegitimasi pengalaman ketidakadilan orang Kulit Hitam untuk keuntungan modal.

4 dari 4 halaman

Gaya Rambut

Gaya rambut pun bisa termasuk dalam apropriasi budaya. Hal itu pernah dialami Justin Bieber yang sudah beberapa kali mengubah gaya rambutnya. Di tahun lalu, Bieber mengubah potongan rambutnya menjadi gimbal.

Selain berambut gimbal, penyanyi itu juga tampak mengenakan kacamata hitam, kaus kotak-kotak berwarna merah muda dan hitam, celana pendek hitam serta kaus kaki putih dan kalung mutiara berwarna merah muda. Bukan pujian yang didapat, kebanyakan warganet justru mencibirnya. 

Dilansir dari People, warganet menuding Justin telah melakukan cultural appropriation atau apropriasi budaya. Bieber dianggap "menggunakan" secara bebas rambut gimbal yang identik dengan orang kulit hitam. Rambut gimbal juga identik dengan gerakan Rastafarian, di mana gerakan ini menganggap gimbal sebagai simbol pemberontakan orang Jamaika terhadap dominasi kolonial kulit putih di negara mereka.