Sukses

5 Langkah Lawan Bullying di Tempat Kerja, Penting untuk Dipraktikkan

Liputan6.com, Jakarta - Gen Z adalah generasi yang sangat terbuka terhadap perbedaan. Psikolog klinis dewasa Tara de Thouars mengatakan bahwa studi McKinsey&Company menunjukkan beberapa kategori perilaku Gen Z yang membedakannya dengan generasi-generasi sebelumnya.

"Salah satunya adalah Undefined ID, di mana generasi ini menghargai setiap individu tanpa memberi label tertentu dan memiliki keterbukaan yang besar untuk memahami keunikan tiap individu. Perilaku ini tentunya akan turut mempengaruhi mereka saat mencari pekerjaan," katanya dalam webinar bertajuk "Creating Positive Vibes at Work: Tolerance is Key," pekan lalu.

Tara juga mengutip studi oleh Randstad Workmonitor pada 2022. Hasilnya menunjukkan 41 persen dari Gen Z yang tersebar di wilayah Eropa, Asia Pasifik, dan Amerika lebih memilih menganggur daripada tidak bahagia di tempat kerja. Terlihat pula bahwa salah satu tolok ukur dari kebahagiaan bagi Generasi Z adalah betapa prinsip keseteraan, keberagaman, dan inklusivitas dapat ditegakkan di tempat kerja.

Tercatat bahwa 41 persen responden mengaku tidak akan memilih tempat kerja yang tidak mempromosikan keragaman dan inklusivitas.  Hal ini jadi sebuah tantangan sekaligus peluang bagi para perusahaan saat mereka mengakuisisi talenta baru, yaitu bagaimana toleransi dapat dibangun jadi budaya di setiap level organisasi.      

Namun, intoleransi masih kerap terjadi, seperti workplace bullying. Itu merupakan serangkaian perilaku yang dilakukan secara sengaja dan berulang untuk mengintimidasi, menjatuhkan atau menyakiti orang lain di tempat kerja.

Daftarnya termasuk kekerasan fisik, verbal, pengucilan/pemboikotan, sabotase pekerjaan, dan lainnya. Workplace bullying bisa dilakukan secara langsung maupun secara online.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

3 Pihak

Tindakan ini melibatkan tiga pihak. Pertama, pelaku yang kebanyakan menyerang titik lemah target agar mereka terlihat berkuasa, sehingga menutupi ketidakmampuan atau ketidakpuasan dalam dirinya. Kemudian target, yang secara sengaja dan berulang dipermalukan sehingga berpotensi mengalami berbagai efek psikologis yang mengganggu keseharian dan produktivitas.

Ketiga, yakni saksi, yang tanpa pemahaman yang cukup mengenai cara menghadapi situasi workplace bullying sering kali hanya berdiam diri. Padahal, saksi berperan sangat penting untuk mengintervensi perilaku tidak menyenangkan tersebut.

Merespons situasi tersebut, Kristy Nelwan, Head of Communication Unilever Indonesia, mengatakan bahwa pihaknya telah menggagas Equity, Diversity, and Inclusion Board yang bertugas menjalankan dan memonitor berbagai upaya perusahaan dalam menanggapi isu tersebut.

"Seperti misalnya webinar hari ini yang bertujuan agar para mahasiswa selaku Gen Z, yang akan mendominasi angkatan kerja di masa depan, untuk semakin peka dan berani mengambil aksi nyata menindaklanjuti segala bentuk intoleransi yang mungkin mereka hadapi nanti," ia mengatakan.

 

 

3 dari 4 halaman

Merespons Ancaman Workplace Bullying

Kristy menegaskan bahwa pihaknya tidak menorelansi workplace bullying. Mereka berjanji menindak tegas perilaku langsung ataupun tidak langsung yang menyinggung, mengintimidasi, atau menghina, termasuk segala bentuk pelecehan dan perundungan, baik antar-individu maupun kolektif.

"Kebijakan ini diatur dalam kode etik berbisnis yang dinamakan Respect, Dignity, & Fair Treatment (RDFT), berlandaskan kepercayaan bahwa bisnis hanya dapat berkembang di tengah masyarakat di mana hak asasi manusia dihormati, dijunjung tinggi, dan dikedepankan," jelasnya.

Terkait penanganan workplace bullying, Unilever Indonesia memiliki jalur pengaduan khusus yang disebut Speak-Up Channel. Pengaduan itu semacam Whistleblower System dengan jaminan kerahasiaan penuh sebagai salah satu sarana bagi karyawan untuk menyampaikan penyimpangan terhadap peraturan dan ketentuan yang berlaku.

Perusahaan juga aktif mendorong karyawan untuk bertanggung jawab dan berinisiatif jika melihat potensi pelanggaran. Mereka berharap, anak muda yang sudah meniti karier dengan pengetahuan dan kemampuan untuk memilih dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih toleran, setara, dan inklusif di masa depan.

"Selain itu, semoga program seperti ini juga dapat terus menginspirasi sebanyak mungkin perusahaan maupun organisasi untuk memperkuat kebijakan-kebijakan yang berpihak pada kesetaraan, keberagaman, dan inklusivitas," ia menyambung.

 

4 dari 4 halaman

Menghadapi Workplace Bullying

Pertama, tetap tenang. Pelaku perundungan sering kali ingin memancing reaksi dan merasa senang bila target menunjukkan rasa kesal atau terluka karena tindakan mereka. Latih diri untuk memiliki batasan emosional yang sehat, sehingga tidak bereaksi dan merasa buruk terhadap diri sendiri.

Kemudian, atasi masalah secara langsung. Coba bicara dan tegaskan pendapat atau perasaan Anda saat berkomunikasi dengan pelaku. Ketiga, laporkan pada atasan atau HRD. Lakukan dengan komunikasi yang tepat, sehingga mereka dapat membantu mencari jalan keluar terbaik.

Lalu, dokumentasikan. Catat jam, lokasi, hingga siapa saja yang berada di dekat Anda saat peristiwa itu terjadi sehingga dapat membantu saat ingin melaporkan perlakuan tersebut.

Kelima, jangan ragu untuk berbicara dengan orang lain, baik itu rekan kerja, sahabat, atau terapis jika perlu. Hal ini dapat membantu kita mengatasi efek perundungan yang dirasakan.

Terakhir, jaga rasa percaya diri dan pikiran positif. Perundungan tidak merepresentasikan isu tentang targetnya, tapi merepresentasikan isu tentang pelakunya. (Natalia Adinda)