Sukses

Mengenal Desa Wisata Aeng Tong-tong, Asal Pembuat Keris Suvenir untuk Delegasi G20

Liputan6.com, Jakarta - Presidensi G20 Indonesia dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mengangkat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif lokal. Salah satunya dengan memilih suvenir khas yang akan diberikan kepada para delegasi. Setelah jam tangan kayu, kini giliran keris dari Desa Wisata Aeng Tong-tong yang diangkat.

Desa wisata itu berada di Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Pada 2014, Desa Wisata Aeng Tong-tong dinobatkan UNESCO sebagai satu-satunya desa wisata dengan empu keris terbanyak di dunia.

Dalam rilis yang diterima Liputan6.com, Selasa, 24 Mei 2022, keris telah hadir sejak abad ke-19 dan menjadi senjata pamungkas para prajurit kala itu. Keterampilan membuat produk kriya itu terus dilestarikan oleh masyarakat desa.

"Keris ini akan menjadi suvenir yang akan ditampilkan, salah satunya untuk perhelatan G20. Ini merupakan penghargaan kami kepada negerinya para empu," ujar Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno saat berkunjung ke desa wisata itu.

Ia mengaku sudah berkoordinasi dengan Bupati Sumenep terkait pesanan keris tersebut. Mengingat waktu pembuatannya cukup panjang, pihaknya memesan 20 buah keris dulu, mewakili jumlah negara yang hadir di ajang internasional itu.

"Tapi nanti, mungkin disesuaikan supaya bisa dibawa sebagai suvenir yang tidak merepotkan dan memberatkan dan tidak dilarang ketika naik pesawat," kata Menparekraf.

Desa wisata itu menjadi yang pertama dikunjungi Sandiaga dalam rangka visitasi 50 desa wisata terbaik Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022. Ajang itu digelar sebagai upaya mendorong pemulihan ekonomi melalui pengembangan desa, agar tercipta lapangan kerja dan mendorong kebangkitan ekonomi.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Proses Pembuatan

Proses pembuatan keris memakan waktu cukup panjang, antara satu hingga enam bulan untuk satu keris. Hal itu tergantung dari ukuran dan motif yang dibentuk. Panjang keris di Pulau Madura normalnya antara 37--38 cm.

Proses pembuatan dimulai dari pemilihan besi lalu penempaan, pembentukan bilah, kinatah (ukir besi jika keris ukir), dan warangka (pembuatan sarung kering yang terbuat dari kayu. Proses diakhiri dengan mewarangi, yakni mengoleskan atau mencelupkan campuran cairan arsenikum dan air jeruk nipis ke keris.

"Pembuatan keris ini menandakan dinamika kehidupan masyarakat. Bahwa kita mulai dari ditempa, diukir, dibengkok-bengkokkan, akhirnya menjadi produk yang membanggakan bagi bangsa," kata Menparekraf.

Hafeni, salah satu pengrajin keris mengungkapkan hanya bisa menjual sekitar lima hingga tujuh keris dalam sebulan lantara proses produksi yang cukup panjang. "Produk keris kami ini juga sudah kami ekspor ke luar negeri seperti Malaysia, Singapura, dan Taiwan, karena hanya orang-orang tertentu saja yang tertarik dan paham akan produk keris ini," katanya.

3 dari 4 halaman

Promosi via Film

Desa Wisata Aeng Tong-tong memiliki galeri khusus keris untuk memajang produk-produk keris mereka. Salah satu yang menarik perhatian adalah koleksi keris leluhur yang berusia 300 tahun. Galeri ini juga diperuntukkan sebagai tempat berkumpulnya para empu, kolektor, hingga pemerhati keris.

Di desa wisata itu juga terdapat ritual pencucian keris dan ziarah kubur kepada leluhur empu yang disebut dengan Penjamasan Keris. Acara tersebut biasanya dimeriahkan dengan pesta rakyat yang menampilkan kesenian tradisional seperti saronen dan macopat.

Sebagai perwakilan pemerintah yang mengelola kriya sebagai subsektor ekonomi kreatif, Menparekraf mengusulkan agar produk keris ditampilkan lewat film-film nasional Indonesia, seperti Gundala dan Gatot Kaca. Hal itu untuk mendorong keris agar lebih dikenal masyarakat, terutama generasi milenial.

"Kita akan membumikan keris ini supaya kalangan milenial juga tertarik dengan keris. Mudah-mudahan nanti programnya dapat dikemas dalam bentuk yang lebih minimalis, agar bisa dibawa dan dijadikan sovenir," kata Menparekraf.

"Dan bisa memiliki karakter IP rights, misalkan film Gundala atau Gatot Kaca bisa kita padukan dengan keris dari Desa Wisata Aeng Tong-tong. Dengan begitu, keris-keris ini akan menjadi ikon ikon dari para heroes kita," sambung dia usai dinobatkan sebagai Bapak Keris Aeng Tong-tong.

4 dari 4 halaman

Halal Hub

Selain mengunjungi desa wisata itu, Sandiaga juga meresmikan Gedung UMKM Halal Hub di Taman Tajamara, Sumenep. Gedung UMKM Halal Hub itu menyediakan fasilitas konsultasi pengembangan produk dengan dinas terkait.

Di tempat itu juga tersedia ruang khusus untuk memberikan pelatihan pengemasan hingga pemasaran produk UMKM. Beragam produk kemasan juga ditampilkan di gedung tersebut.

"Semoga fasilitas ini akan membawa berkah, membangkitkan ekonomi, membuka lapangan kerja, melahirkan ide-ide dan inovasi baru agar Indonesia semakin sejahtera," kata Menparekraf.

Menparekraf didampingi Bupati Sumenep Ahmad Fauzi juga berkesempatan untuk meletakkan batu pertama pembangunan Rumah Kemasan yang nantinya difungsikan sebagai rumah kreatif dalam mengoptimalkan produk UMKM Sumenep. Kemasan merupakan hal yang pertama dilihat dan mampu menarik minat wisatawan untuk membeli sebuah produk.

Lebih lanjut Menparekraf menjelaskan, pihaknya memiliki beberapa program yang dapat dikolaborasikan, seperti program BEDA'KAN (Bedah Desain Kemasan Kuliner Nusantara), dimana pelaku ekonomi kreatif diberikan pelatihan dan pendampingan dalam menciptakan desain kemasan yang kreatif, sehingga terdapat nilai tambah dan daya tarik terhadap produk yang dihasilkan.

"Kita perlu meningkatkan dari segi kemasan produk hingga pemasaran dengan kerja sama bersama dengan Kemenparekraf," kata Menparekraf.