Sukses

Suami Istri di India Tuntut Anak Sendiri Karena Belum Memberinya Cucu

Liputan6.com, Jakarta - Sepasang suami istri di negara bagian Uttarakhand, India utara, menuntut anak tunggal mereka dan istrinya karena tidak memberi mereka cucu  setelah enam tahun menikah. Sanjeev dan Sadhana Prasad mengatakan mereka menghabiskan tabungan mereka untuk membesarkan putra mereka, membayar pelatihan pilotnya, serta pernikahan mewah.

Mereka menuntut kompensasi senilai hampir 650.000 dolar AS atau Rp9,5 miliar jika tidak ada cucu yang lahir dalam waktu satu tahun. Putra mereka dan istrinya tampaknya tidak berkomentar, dilansir dari BBC, Sabtu (14/5/2022).

Gugatan yang sangat tidak biasa diajukan dengan alasan "pelecehan mental". Prasad mengatakan dia telah menghabiskan semua tabungannya untuk putranya, mengirimnya ke AS pada 2006 untuk pelatihan pilot dengan biaya 65.000 dolar AS atau Rp953 juta.

Dia kembali ke India pada 2007, tetapi kehilangan pekerjaannya dan keluarganya harus mendukungnya secara finansial selama lebih dari dua tahun, Times of India melaporkan. Shrey Sagar, 35, akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai pilot.

Orangtuanya mengatakan mereka mengatur pernikahannya dengan Shubhangi Sinha, sekarang 31 tahun, pada  2016. Mereka berharap akan memiliki "cucu untuk bermain" selama masa pensiun mereka.

Orang tua mengatakan mereka membayar untuk resepsi pernikahan di hotel bintang lima, mobil mewah senilai 80.000 atau Rp1,1 miliar dan bulan madu di luar negeri.

"Putra saya telah menikah selama enam tahun tetapi mereka masih belum merencanakan bayi," kata Prasad. "Setidaknya jika kita memiliki cucu untuk menghabiskan waktu bersama, rasa sakit kita akan tertahankan."

Pengacara pasangan itu, AK Srivastava, mengatakan kepada The National bahwa pasangan itu meminta uang itu "karena kekejaman mental". "Adalah impian setiap orang tua untuk menjadi kakek-nenek. Mereka telah menunggu bertahun-tahun untuk menjadi kakek-nenek."  Petisi pasangan itu, yang diajukan di Haridwar, diperkirakan akan disidangkan di pengadilan pada 17 Mei 2022.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Perjodohan

Pernikahan  suatu ikatan suci dan momen indah  dengan seseorang yang dicintai. Ternyata, perempuan India masih lebih memilih perjodohan. Kebanyakan perempuan India menikah dalam ikatan pernikahan yang berawal dari perjodohan.

Diberitakan Times of India, mereka beralasan karena orangtua lebih tahu yang terbaik untuknya. Dalam beberapa kasus, pernikahan dengan kekasih mereka tampak seperti mimpi.

Perempuan yang menikah dengan perjodohan merasa lebih aman dan nyaman. Di India, perempuan percaya bahwa jika mereka menikah dengan pacar mereka selama bertahun-tahun merupakan suatu berkah, tapi bukan berarti orangtua mereka tidak menyetujuinya.

Orangtua mungkin tidak sepenuhnya menentang pria yang dicintainya. Namun, mereka pasti akan lebih bahagia jika putri mereka menikah dengan pria yang telah mereka putuskan untuknya.

“Kebijaksanaan gabungan dari anggota keluarga memungkinkan remaja putri merasa lebih aman. Jika memang ada masalah, mereka menganggap seluruh keluarga akan bergerak untuk menyelesaikan masalah tersebut, ”kata Dr Nirmala S. Rao, direktur, Aavishkar Center for Self Enrichment, kepada HuffPost India.

 

3 dari 4 halaman

Terima Perjodohan

Untuk menghormati pilihan orangtua mereka, perempuan dengan sepenuh hati menyetujui ikatan yang diatur itu. Bagi mereka, perjodohan tidak kurang dari berkah.

Apa alasan di balik wanita memilih perjodohan dalam masyarakat modern dan progresif juga mulai melihat pernikahan berdasarkan cinta dalam pandangan baru. Ini bukan lagi keinginan pemberontak atau menentang, tetapi adanya kepercayaan.

Perempuan percaya dan mencintai orangtua mereka. Mereka percaya  pengalaman dan kebijaksanaan orang tua mereka sangat berarti saat menentukan pasangan seumur hidup. Mereka bahkan tidak ragu-ragu sedikit pun.

Orangtua di India lebih suka 'menggali' keluarga, latar belakang, karier, atau pengalaman masa lalu calon pengantin pria, stabilitas keuangan, perilaku di luar, dan lain-lain. Banyak konsultan pernikahan telah setuju bahwa seringkali klien mereka akan menempatkan penyelidik swasta untuk mengetahui lebih banyak tentang pengantin pria.

Dengan pengetahuan yang begitu saksama, orang akan langsung setuju. Perjodohan juga bisa dianggap sebagai 'rebound' dalam hal komitmen seumur hidup.

Wanita juga sangat takut melanggar keinginan keluarga mereka untuk menikahi pria dari kasta atau agama yang berbeda. Karena perkawinan beda kasta merupakan stigma di India, perempuan biasanya menghindari konflik tersebut kecuali mereka benar-benar ingin memperjuangkannya.

Mempercayai naluri orangtua mereka, wanita memilih untuk terus maju dan menikahi orang asing setelah beberapa bulan pacaran. Tentu, beberapa perjodohan memang berakhir tetapi kebanyakan wanita melaporkan bahwa pernikahan mereka adalah kebahagiaan dan betapa beruntungnya mereka telah mempercayai keputusan orangtua mereka tentang perjodohan.

4 dari 4 halaman

Tradisi Pernikahan Mewah

Tradisi menggelar pernikahan mewah dengan hidangan melimpah di India dinilai sebagai ekses dari film-film Bollywood. South China Morning Post melaporkan, para ahli menyebut Bollywood berperan sebagai pemicu tren pernikahan-pernikahan grande di India yang berujung pada melanggengkan kebiasaan buang-buang makanan. 

Ahli menyebut sekitar 10 juta pernikahan digelaar di India setiap tahun yang berkontribusi signifikan terhadap jumlah sampah makanan yang dihasilkan. Berdasarkan data LSM Feeding India, 10 sampai 20 persen makanan yang disajikan di pernikahan terbuang. Sementara, hasil survei pemerintah memperkirakan 67 juta ton makanan terbuang setiap tahunnya, atau bernilai 14 miliar dolar AS, setara dengan Rp207 triliun.

"Film-film India membuat patokan soal gaya hidup di India, apakah itu terkait pernikahan, perjalanan, atau fesyen," kata Aditi Rathore, seorang perencana pernikahan yang berbasis di Delhi. Ia menambahkan, berlebihan menjadi cara menunjukkan kesuksesan ala India yang baru dengan sistem nilai yang baru. Padahal saat India menganut etos sosialis, hal tersebut jelas tak bisa diterima.

Di sisi lain, negeri berpopulasi hampir 1,4 miliar orang itu masih menghadapi masalah kelaparan. Menurut Laporan Nutrisi Global 2018, sekitar 46 juta anak-anak di India mengalami malnutrisi, sepertiganya bakal tumbuh menjadi manusia kerdil. India juga menduduki ranking 102 dari 117 negara dalam Global Hunger Index 2019.