Sukses

Jumlah Pelaku UMKM Kuliner Bandung Terdigitalisasi Meningkat 60 Persen dalam 3 Bulan

Liputan6.com, Jakarta - Pemanfaatan digitalisasi dalam sektor ekonomi tak bisa dielakkan di masa pandemi Covid-19. Di masa pembatasan mobilitas, penggunaan teknologi digital mampu membantu mempertahankan laju usaha, khususnya bagi para pelaku UMKM kuliner di Bandung.

Berdasarkan survei Tokopedia, jumlah UMKM kuliner Bandung yang bergabung di Tokopedia Nyam meningkat 60 persen di kuartal II/2021, dari kuartal sebelumnya. "Ini menunjukkan bagaimana UMKM siap untuk tumbuh dan tangguh dengan memanfaatkan platform digital," kata Kepala Divisi Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Tokopedia, Emmiryzan, Kamis, 23 September 2021.

Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana mengakui pandemi melemahkan daya beli warga. Namun, ia meminta agar para pengusaha UMKM tidak berhenti berinovasi dan berkreasi agar ekonomi bisa terus berjalan. Di samping, pemerintah menyiapkan berbagai stimulus untuk mendukung keberlanjutan usaha.

"Pemerintah di Kota Bandung berbagi peran meski ada keterbatasan anggaran. Disperindag di uji mutu, sertifikasi halal dibayari oleh kami, digitalisasi marketing. Kemudian, kerja sama dengan sembilan mal besar di Kota Bandung untuk lakukan kegiatan pasar kreatif," kata dia.

Yana mengungkapkan cukup banyak produk kreatif tercipta dari para pelaku UMKM kuliner di masa pandemi. Namun, ia menyadari keterampilan mereka masih perlu ditingkatkan, terutama di pengemasan, branding, dan pemasaran. Digitalisasi diakui membantu para pengusaha memperluas akses pasar mereka.

"UMKM ini jenis yang paling tahan terhadap, mau krisis atau pandemi. Mudah-mudahan dengan ini (digitalisasi), pertumbuhan ekonomi bisa meningkat terus," sambung dia.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Modifikasi

Pengalaman berusaha di tengah pandemi dibagikan pemilik Daging Sapi Diasapin, Bagja Putra. Mengaku tak punya banyak modal, produsen se'i sapi itu akhirnya memutuskan untuk berjualan online sejak pertama kali berbisnis.

Keputusannya dinilai tepat, terlebih di era pandemi. Namun, preferensi konsumen juga ikut berubah karenanya. Ia menyebut masyarakat lebih takut ke luar rumah dan mencari makanan beku.

"Saya modifikasi makanan-makanan kita gimana caranya bisa tahan lama dan bisa kirim ke mana aja ke seluruh Indonesia," sambung dia.

Tak hanya itu, ia juga aktif berpromosi dan memaksimalkan chanel penjualan yang ada dengan foto menarik. Ia juga memiliki tim yang mengelola itu. Namun, tak semua UMKM punya kapasitas yang sama.

"Ada beberapa kendala yang dihadapi pelaku UMKM di Bandung. Enggak semua makanan enak ada di Tokopedia. Ada seller-nya yang udah berusia lanjut sehingga kesulitan. Harapannya (tim Tokopedia) turun langsung ke lapangan, kasih training ke mereka," ucapnya.

3 dari 4 halaman

Jenis Makanan Populer

Head of Category Development Tokopedia, Pranidhana Mahardhika menerangkan perubahan perilaku konsumen di lapangan akhirnya mendorong para pengusaha UMKM kuliner mau tak mau terjun ke digital. Terbukti, jumlah penjual kategori makanan dan minuman dari Bandung meningkat.

"Secara spesifik, transaksi naik dua kali lipat di kuartal II kemarin dibandingkan kuartal sebelumnya. Ini jadi tolak ukur, ada peningkatan minat," sambung dia.

Dari sederet pilihan, ia pun memetakan produk-produk yang laku. Madu, batagor kuah, pisang bolen, seblak menjadi kategori yang paling laku di pasaran. Sedangkan, kopi menjadi minuman yang paling laris.

4 dari 4 halaman

Diplomasi Indonesia via Jalur Kuliner