Sukses

Gencarkan Indonesia Spice Up The World, Pemerintah Akan Bantu Modali Pengusaha Restoran Indonesia di Luar Negeri

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mengklaim keputusannya mengirimkan tim delegasi Indonesia Spice Up The World (ISUTW) ke New York menelurkan hasil optimal. Tim disebut berhasil menggelar pertemuan dengan beragam pemangku kepentingan untuk menyukseskan program tersebut, terutama antara KJRI, pengusaha restoran, dan importir bumbu.

"Taggapannya sangat antusias, walau saya harus begadang, karena acaranya dini hari waktu Indonesia," kata Menparekraf dalam Weekly Press Briefing, Senin (26/7/2021).

New York dipilih sebagai lokasi pertama peluncuran kampanye tersebut lantaran memiliki ikatan sejarah dengan Pulau Rhun di Maluku dengan Manhattan, New York. Kedua pulau itu jadi objek penukaran antara Belanda dan Inggris dalam persaingan menguasai jalur rempah-rempah.

Dalam pertemuan tersebut, menurut Sandiaga, banyak warga dan diaspora Indonesia yang tertarik untuk membuka restoran Indonesia di tempatnya masing-masing. Hanya saja, mereka terkendala pemodalan. Untuk itu, Indonesia menawarkan bantuan permodalan.

"Pembiayaannya akan merangkul baik BNI maupun lembaga pembiayaan ekspor Indonesia. Teman-teman yang sudah jalan dan ingin kembangkan usahanya, tetapi butuh pendanaan, kita akan mudahkan," ujar Sandiaga.

Pemerintah menargetkan 4.000 restoran Indonesia di seluruh dunia bisa bergabung dalam jaringan Indonesia Spice Up The World hingga 2024, baik yang sudah eksis maupun baru akan diisiniasi. Di Amerika Serikat saja, KJRI New York menyebut sekitar 100 restoran Indonesia dibuka di wilayah Pantai Timur.

"Di Pantai Barat Amerika pastinya lebih banyak karena masyarakat Indonesia lebih banyak tinggal di sana," ia menambahkan.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

2 dari 4 halaman

Fasilitas Kemitraan

Restoran Indonesia yang tergabung dalam jejaring itu akan difasilitasi pula dengan bantuan untuk mendesain ulang usahanya, jaringan penyediaan bumbu dan rempah-rempah yang dikemas dalam bentuk sachet, dan materi-materi promosi produk pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia. Sandi menyebut, Indonesia siap dari sisi suplai bumbu tersebut.

"Nanti teman-teman dunia usaha, perusahaan besar maupun pengusaha kecil, bisa jadi kontributor gerakan Indonesia Spice Up The World. Kita fasilitasi dari logistiknya, apakah Garuda, JNE, atau PT Pos," Sandi menerangkan.

Sandi juga menyatakan para pengusaha restoran akan dilatih dan didampingi untuk mengembangkan usahanya. Utamanya dengan menyiapkan chef untuk melatih mereka baik melalui virtual, hibrid, maupun luring saat situasi pandemi sudah benar-benar terkendali.

Sandiaga sebelumnya menyebutkan bahwa secara umum ekonomi Amerika Serikat bergerak bangkit. AS merupakan 20--25 persen pasar ekspor rempah-rempah Indonesia, dengan pasar terbesar adalah restoran. Program tersebut mulanya digagas Kemenko Marves dengan harapan memperluas pemasaran produk bumbu atau pangan olahan dan rempah Indonesia di beberapa negara potensial.

3 dari 4 halaman

Dubai Travel Expo

Selanjutnya, Indonesia membidik Dubai World Expo 2020 yang akan digelar pada Oktober 2021 untuk kembali mengampanyekan Indonesia Spice Up The World. Promosi bumbu dan rempah itu merupakan bagian dari diplomasi gastronomi Indonesia, sekaligus ajang mempromosikan produk kreatif Indonesia, khususnya dari subsektor kuliner.

Targetnya, ekspor bumbu dan rempah akan meningkat hingga 2 miliar dolar AS pada 2024. Hingga 2020 saja, nilai ekspor komoditas itu tercatat sejumlah 1,02 miliar dolar AS atau Rp14 triliun. 

Terkait jenis-jenis bumbu yang akan dipromosikan adalah rendang, nasi goreng, satai, soto, gado-gado, serta bumbu pendukung lainnya seperti kecap manis dan kacang tanah. Sementara, rempah prioritas untuk ekspor adalah lada, pala, cengkeh, jahe, kayu manis, dan vanilla.

4 dari 4 halaman

Diplomasi Indonesia via Jalur Kuliner