Sukses

Ngopi Sambil Berwakaf di Kedai Kopi Masjid Salman Bandung

Liputan6.com, Jakarta - Dari tampilannya, Lumens Kopi Masjid tak ubahnya kedai kopi kekinian yang banyak mengusung desain interior industrial minimalis. Namun, konsepnya yang tak biasa membedakannya dengan tempat ngopi lain. Di kedai kopi yang berlokasi di area Masjid Salman.

Kedai kopi tersebut memadukan tempat ngopi dan pojok wakaf. Sejak 2019, Lumens Kopi Masjid bergabung dengan Badan Wakaf Salman ITB untuk menjalankan program wakaf produktif.

"Setiap penghasilan dari penjualan kami, memang kami share ke Wakaf Salman untuk ngedukung program-programnya Wakaf Salman ITB," kata Pandu Putra, pemilik kedai kopi tersebut, kepada Liputan6.com, Jumat, 7 Mei 2021.

Untuk mendukung kegiatan tersebut, Pandu pun membuat kampanye bahwa setiap konsumen yang membeli produk mereka, artinya ikut berdonasi untuk kegiatan wakaf. Konsumen pun bisa mencari informasi lebih lanjut soal wakaf hingga berwakaf di Wakaf Corner yang dibuka di samping kedai kopi.

Kampanye tersebut mampu membangkitkan minat konsumen. Kedai kopinya jarang sepi dari kehadiran pelanggan. Ia mengungkapkan kemitraan dengan Masjid Salman itu bukan yang pertama dijalani. Kerja sama bahkan sudah dimulai sejak  awal kedai kopi itu berdiri pada 2017.

Pandu mengungkapkan, secara personal, ia memiliki kecintaan terhadap kopi. Pada saat bersamaan, tepatnya menjelang Idul Adha, Rumah Amal Salman ITB menggelar program pemberdayaan petani kopi, yakni sebagian hasil penjualan hewan kurban yang didapat, didonasikan untuk mereka.

Ia pun tertarik membantu kampanye itu dengan membuka kedai kopi yang sebagian hasil penjualannya disumbangkan untuk petani kopi. Mulanya, kedai miliknya hanya berupa lapak yang didirikan dekat Masjid Salman. Setahun berjalan, ia menyewa tempat di lantai dua bangunan, dekat area gerbang belakang masjid, karena melihat prospek bisnis yang bagus.

"Saya ingin memperkenalkan budaya ngopi yang lebih sehat dan menepis stigma-stigma negatif tentang ngopi di lingkungan masjid. Saya juga ingin membuat orang lebih aware dengan waktu ibadah," sambung dia.

 

 

 

 

2 dari 4 halaman

Melebarkan Sayap Bisnis

Lumens, menurut Pandu, berarti aliran. Itu menggambarkan harapannya agar perjalanan bisnis kedai kopinya terus mengalir di tengah masyarakat. "Menggunakan nama Lumens Kopi Masjid karena memang kami berjualan di area Masjid Salman ITB," imbuh dia.

Sajian utamanya tentu saja kopi. Biji kopi yang digunakan adalah campuran antara Arabika dan Robusta yang dihasilkan dari perkebunan lokal di Jawa Barat. Menurut Pandu, minuman terfavorit di kedainya adalah es kopi lumens, yaitu es kopi gula aren. Anda yang tak terlalu suka kopi bisa memesan minuman signature mereka, Aqua Laguna, yaitu minuman teh bunga telah dengan lemon dan leci.

Di kedai kopi juga tersedia menu makanan, baik makanan berat maupun camilan. "Menu makanan favorit kami ada spageti tuna. Dessert favorit kami ada lumpur surga, yaitu sari pandan dengan santan. Range harganya sekitar Rp15--35 ribu," ujarnya.

Lumens Kopi Masjid kini melebarkan sayapnya dengan membuka Lumens Xpress, tepat di seberang kedai pertama mereka. Mereka menargetkan jemaah masjid, mahasiswa, dan pekerja kantoran yang berada di lingkungan itu sebagai konsumen utamanya.

Kedai kopi itu juga membuka kesempatan untuk disewa sebagai tempat foto maupun syuting video. Biayanya berkisar Rp500 ribu hingga Rp2 juta, tergantung durasi, jumlah kru, dan ruangan yang dipakai.

"Saat ini kami sedang mengurus sertifikasi halal dan CHSE," ujar Pandu.

Mengingat masih pandemi, pihaknya membatasi kapasitas pengunjung. Dari daya tampung maksimal 36 orang, dibatasi hanya 50 persen saja. Kedai tersebut buka setiap hari 15.00-21.00 WIB. (Jihan Karina Lasena)

3 dari 4 halaman

Manfaat Detoks Kopi

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: