Sukses

Ingatkan Bahaya Body Shamming, Cindercella Kampanye Lewat Rap Berbahasa Jawa

Liputan6.com, Jakarta - Potongan lagu berbahasa Jawa yang dinyanyikan beauty influencer Cindercella, akhir-akhir ini menjadi viral di platform TikTok dan Instagram. Lagu “Pretty Real” yang merupakan hasil kolaborasinya dengan musisi dan beauty vlogger Indonesia itu banyak digunakan warganet sambil menyerukan tagar #stopbodyshaming.

Sebagai penyanyi aslinya, selebgram bernama asli Marcella Febrianne Hadikusumo ini mengaku terkejut begitu potongan nyanyian rap berbunyi ”jare sopo aku ga iso” itu viral kembali setelah dirilis pada 2018 lalu. Berawal dari rasa tidak percaya dirinya saat diminta melakukan rap dalam bahasa Inggris, lirik dengan bahasa Jawa itu pun tercipta.

"Sebenernya tuh, tadinya diajaknya nge-rap bahasa Inggris, tapi gara-gara aku nggak pede pakai bahasa Inggris, jadinya aku pakai bahasa Jawa aja," ujarnya melalui pesan suara kepada Liputan6.com, Kamis (24/9/2020). Dalam pembuatan liriknya, ia dibantu oleh sahabat dekatnya, Devina Aurel, yang juga seorang selebgram.

Lagu “Pretty Real” yang digarap oleh musisi Indonesia yakni Mardial, Ramengvrl, serta empat beauty vlogger, termasuk Cindercella itu memang ingin menonjolkan isu pemberdayaan perempuan dan hak setiap pribadi untuk menjadi diri sendiri. Salah satu yang dibahas adalah perihal body shaming, yang berarti tindakan mengejek atau berkomentar negatif terhadap keadaan fisik seseorang.

Influencer yang populer dengan nama Cindercella ini mengungkapkan perasaan senangnya saat tahu lirik yang dinyanyikannya itu kembali viral setelah dua tahun dari waktu rilisnya. Rasa senangnya pun bertambah saat tahu pesan yang ingin ia sampaikan lewat lirik tersebut kembali tersampaikan ke audiensnya.

Ia memanfaatkan lagu tersebut untuk menyuarakan kembali dampak bahaya body shaming yang masih sering terjadi di Indonesia melalui media sosialnya. "Aku bikin campaign #stopbodyshaming di TikTok dan Instagram itu karena makin ke sini, semakin parah orang-orang melakukannya, dan harus diingetin lagi kalau body shaming itu berbahaya buat mental health orang-orang," katanya.

2 dari 3 halaman

Pernah Jadi Korban

Perempuan kelahiran 1995 ini mengatakan dirinya pernah menjadi korban body shaming dan sempat trauma akibat perlakuan yang diterimanya itu. "Pasti semua orang pernah ngalamin body shaming, aku juga, dan itu traumatic buat aku. Entah kenapa, ada love-hate relationship dengan tubuh aku, tapi sekarang aku sudah mulai sayang dan berterima kasih sama tubuh aku," ungkapnya.

Menurutnya, body shaming bisa menjadi masalah serius bagi kesehatan mental seseorang. Ada pula yang berujung menyakiti diri sendiri (self-harming) hingga bunuh diri. Cindercella mengungkapkan bahwa penting untuk mengedukasi masyarakat, terlebih mereka yang belum paham tentang bahaya dari tindakan itu.   

Baginya, isu ini penting untuk dibahas, terutama oleh mereka yang memiliki platform besar, seperti para influncer atau figur publik lainnya. Ia mengatakan, dengan ikut berperan untuk mengingatkan warganet tentang dampak body shaming lewat konten media sosial saja sudah cukup membantu.

"Jangan menyerah, jangan jahatin badan kalian, dan jangan lupa berterima kasih sama tubuh kalian yang selalu ada buat kalian selama ini,” pesannya kepada para korban untuk selalu bersyukur dan berterima kasih kepada diri sendiri. (Brigitta Valencia Bellion)

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: