Sukses

Syahdu, Kisah Cinta Para Pencari Suaka di Kamp Pengungsian Matamoros

Liputan6.com, Jakarta - Ribuan imigran yang berharap mendapatkan tempat tinggal di Amerika Serikat harus menghadapi kenyataan pahit. Mereka menunggu berbulan-bulan di Meksiko, membangun kamp  pengungsian sebagai tempat tinggal sementara sambil menunggu permintaan mereka ditindaklanjuti.

Bertahan hidup di pengungsian menyisakan kenangan sedih. Mereka harus bertahan hidup di tengah segala kekurangan dan ketidakpastian.

Hidup mereka bergantung pada sumbangan. Mereka juga terperangkap dalam bayang-bayang ketakutan akan penculikan dan kekerasan jika pergi terlalu jauh dari kamp pengungsian.

Banyak imigran yang melarikan diri dari Amerika Tengah dan berharap dapat tinggal di Amerika Serikat. Namun di bawah pemerintahan Trump, sangat sedikit yang berhasil mewujudkan harapannya.

Dalam situasi mengerikan itu, sepasang muda-mudi menemukan cintanya. Kamp yang tampak menyedihkan dapat menjadi lebih baik dengan kehadiran orang yang tepat.

Dilansir dari buzzfeednews.com, Rabu, 19 Februari 2020, pasangan itu membuktikan bahwa di tengah segala keterbatasan, hidup akan terasa lebih bahagia bila bertemu dengan orang yang tepat. Pasangan pertama yang merajut cinta di Kamp Pengungsian Matamoros adalah Adania dan Adrian. 

Adania, perempuan berusia 18 tahun dari El Salvador, Amerika Tengah jatuh cinta dengan Adrian, seorang laki-laki Meksiko berusia 19 tahun. Adania menggambarkan kepedihan yang ia rasakan di kamp.

"Tidak mudah berada di sini, terkadang Anda tidak punya cukup makanan," kata Adania.

Namun, semuanya terasa lebih mudah saat ia menemukan seseorang yang dapat mengurangi kesedihannya. "Ada orang yang membuat Anda lupa bahwa Anda sedang mengalami saat yang buruk dalam hidup Anda atau bahwa Anda sedang depresi. Mereka membantu Anda lupa bahwa Anda tidur di pengungsian," sambungnya.

Mereka bertemu pada November tahun lalu ketika Adania memasak sarapan tradisional khas Amerika Tengah. Dia melihat Adrian dan mengagumi tato di lengannya serta arloji vintage.

Mulanya Adania merasa kesal dengannya karena ia menolak makan pisang goreng, kacang-kacangan, dan telur. Tetapi beberapa hari kemudian, mereka malah mereka melangsungkan kencan pertama.

Jauh dari kata mewah, kecan pertama itu diisi dengan duduk di tepi Sungai Rio Grande yang dingin. Mereka duduk di hammock dan bertukar cerita hingga jam empat pagi. Momen itu membuat Adania lupa bahwa mereka tinggal di pengungsian.

"Dia bertanya apakah dia bisa menciumku," kata Adania. Kemudian pada awal Januari, Adrian mengajaknya ke bioskop terdekat. Jaraknya sekitar 25 menit dengan berjalan kaki dari kamp dan di sana Adrian ​​melamar Adania.

2 dari 5 halaman

Kehamilan Tak Terduga

Kini, Adania tengah hamil sekitar lima minggu. "Saya sangat senang ketika kami tahu dia hamil karena saya akhirnya memiliki sesuatu yang hanya milik saya dan dengan orang yang sangat saya cintai," ujar Adrian.

Pasangan muda ini meminta agar nama belakang mereka tidak digunakan demi keamanan. Sampai saat ini, mereka belum berani pergi jauh dari perkemahan di Matamoros. Meski begitu, mereka tetap membuat kencan dan momen romantis bersama. Seperti pasangan normal yang hidup bahagia, Adania akan menata rambut dan rias wajahnya lalu mereka akan berjalan-jalan malam ke taman 20 menit.

"Itu membuat saya terdengar seperti seorang diva, tetapi itu bagian dari mengganggu diri saya dan saya merasa baik," kata Adania. Adania juga merasa lebih aman berjalan dengan Adrian karena dia orang Meksiko. Sebelum bertemu dengannya, Adania mengaku tidak berani berjalan-jalan ke taman.

"Ayahku mengolok-olokku di telepon dan memberitahuku 'Kau pergi jauh ke Matamoros hanya untuk jatuh cinta dan dengan seorang Meksiko. Anda akan berakhir berbicara seperti mereka,''' kata Adania. "Aku bilang padanya aku hanya beruntung," sambungnya.

Namun menyedihkan, pasangan ini berasal dari negara yang berbeda. Kebijakan imigrasi AS bisa jadi memisahkan mereka. Setelah nomor Adrian dihubungi dan ia menyerahkan diri ke petugas CBP, ia kemungkinan tidak akan dikirim kembali ke Meksiko seperti Adania.

Orang-orang Meksiko tidak dapat dikirim kembali ke negara tempat mereka melarikan diri. Jadi, jika nomornya dipanggil dan Adania masih menunggu kasusnya dilengkapi di Meksiko, Adrian berencana akan mengizinkan orang yang mengantre di belakangnya, menyalipnya, agar ia dan Adania bisa bersama di AS.

"Itu memang membuat saya lebih khawatir tentang kemungkinan bahwa kita bisa dipisahkan," katanya.

Adania juga khawatir tentang kemungkinan berpisah. Dengan setengah bercanda, ia bertanya pada Adrian apakah dia akan memutuskannya untuk mendapatkan seorang perempuan non-Hispanik di AS. Tapi, Adrian meyakinkannya bahwa mereka akan menemukan cara untuk tetap bersama.

"Jika mereka mengatakan saya bisa pergi ke Amerika Serikat, tetapi mereka tidak bisa, saya tidak akan pergi," katanya.

 

3 dari 5 halaman

Hubungan Rahasia Brenda dan Pablo

Lain halnya dengan pasangan muda Adania dan Adrian, Brenda yang berusia 25 tahun juga merasakan kisah cinta yang manis di kamp pengungsian. Enam bulan lalu, Brenda meninggalkan rumahnya di El Salvador. Hal tersebut terjadi setelah geng-geng setempat memutuskan bahwa putranya, yang berusia 10 tahun, sudah cukup umur untuk mulai bekerja di malam hari. Putranya kemudian bergabung menjadi bagian dari pengintai mereka.

Brenda berhasil sampai ke perbatasan AS. Tetapi, nasibnya sama seperti ribuan imigran sebelumnya. Ia kembali dan dipaksa untuk menunggu di Meksiko dan harus menunggu agar status tempat tinggal barunya ditinjau.

Pada pertengahan September, beberapa hari sebelum dia dijadwalkan untuk menghadiri sidangnya di pengadilan yang berada di sebuah tenda. Setelah sekitar sembilan jam, salah satu pria mengatakan kepadanya bahwa mereka akan membiarkannya pergi jika dia menyerahkan semua uangnya.

Sebelum dia dibebaskan, kartel mengambil fotonya tersebut serta informasi biografis. Mereka juga mengancam agar Brenda jangan pernah kembali ke Nuevo Laredo, atau mereka akan dibunuh. Brenda pun memilih pergi dan meninggalkan sidangnya.

Selama berminggu-minggu setelah penculikan itu, Brenda menolak untuk keluar dari ruangan yang ia tinggali bersama wanita-wanita lain di tempat penampungan di kota perbatasan Reynosa, Meksiko.

Sementara, Pablo, seorang imigran Kuba yang mencoba masuk ke AS, mulai bercerita tentang hidupnya, mengapa ia melarikan diri dari Kuba, bagaimana ia adalah satu-satunya anak dengan orangtua yang terpisah.

Laki-laki yang bekerja di dapur penampungan juga bercerita bahwa ia juga telah diculik. Dia mengatakan kepadanya tentang mengapa dia meninggalkan El Salvador. Brenda mengenang bagaimana Pablo menguatkannya.

"Dia memberi tahu saya. 'Jangan menangis, tidak apa-apa. Segala sesuatu terjadi karena suatu alasan dan hal-hal baru akan terjadi untukmu segera,''' ujar Brenda, yang juga meminta agar nama belakangnya tidak digunakan.

 

4 dari 5 halaman

Makanan China dan Hamburger

Brenda pun tergugah dengan semangat dan optimisme Pablo. Brenda juga mengatakan laki-laki ini selalu membuatnya tertawa. Pablo juga kerap menyampaikan perhatiannya dengan membawakan makanan Cina, hamburger dari luar tempat perlindungan ketika dia terlalu takut untuk pergi mencari makan.

Akhirnya, mereka memulai hubungan cinta yang romantis. Namun, mereka merahasiakannya untuk menghindari pelanggaran aturan di tempat penampungan. Mereka mengirimkan pesan secara diam-diam dan mengatur pertemuan yang tak terlihat kamera keamanan tempat penampungan.

Saat larut malam, di kamar tidur yang terpisah, mereka tetap saling mengirim teks yang dipenuhi emoji hati, mengatakan "Aku mencintaimu," atau "Aku berharap aku ada di sebelahmu,". Namun tetap, di depan orang lain, mereka berpura-pura tidak saling kenal.

"Kami menghidupkan kembali kegembiraan yang dirasakan ketika Anda masih muda dan jatuh cinta," kata Brenda. "Menghidupkan kembali itu sangat indah," sambungnya.

Tetap saja, dia khawatir Pablo hanya tertarik padanya untuk menghabiskan waktu selama di pengungsian dan akan meninggalkannya begitu kasus mereka sudah diselesaikan.

Setelah ayah kedua anaknya meninggalkannya, Brenda membuat perjanjian dengan Tuhan. Jika dia akan sendirian selama sisa hidupnya, dia pasrah. Tetapi jika tidak, dia meminta Tuhan untuk mengirimnya seorang pria baik yang bisa dia percayai. Brenda telah membagi hati untuk putrinya yang berusia 4 tahun, di El Salvador.

"Dulu saya berbicara pada diri sendiri seperti orang gila atau berdoa, tetapi sekarang saya memiliki seseorang yang mengerti apa yang saya alami dan mendukung saya ketika kesedihan karena kehilangan anak perempuan saya membuat saya kewalahan," katanya.

Brenda pindah ke perkemahan Matamoros awal Februari, ia berusaha lebih dekat dengan seorang pengacara dan berharap membuka kembali kasus imigrasi AS-nya yang dikesampingkan akibat penculikan tersebut.

Pablo masih memperjuangkan kasus imigrasi dan berharap bahwa jika ia mendapatkan suaka. Brenda akan dapat melakukan hal yang sama atau menemukan jalan lain ke AS. Jika tidak, mereka berencana pindah ke Kota Meksiko. Sampai saat itu, Pablo berencana pindah ke kamp Matamoros bersama Brenda setelah menyelesaikan pekerjaan konstruksi di Reynosa.

"Sulit untuk bersikap optimis dan penuh harapan ketika Anda terjebak di tepi neraka dan hidup di bawah terpal," kata Brenda. "Tetapi Pablo terus melakukannya," sambungnya.

"Dia memberitahuku bahwa kita tidak bisa melihat ke belakang. Kita harus maju bersama," katanya. "Kamu di sini bersamaku dan kami tidak akan mati. Kami akan membangun kehidupan baru bersama di mana pun itu," pungkas dia. (Adhita Diansyavira)

5 dari 5 halaman

Simak Video Pilihan di Bawah Ini:

Seniman Tekstil Ubah Sampah jadi Aksesoris Selama 5 Dekade
Loading