Sukses

Alasan di Balik Milenial dan Generasi Z Rentan Stres

Liputan6.com, Jakarta - Punya peranan penting dalam menghadapi persaingan global, memenuhi kompetensi dan upgrade kemampuan jadi krusial bagi milenial dan generasi Z. Tekanan sedemikian rupa membuat orang dengan rentang usia 18--35 tahun ini cenderung mudah stres.

"Salah satu faktor milenial dan generasi Z rentan stres ini karena overthinking. Semua dipikirin dan hobinya membandingkan diri dengan orang lain. Si ini sudah bisa begini, aku kok begini-begini saja," kata Psikolog Klinis Dewasa Tara Adhisti de Thouars saat pengenalan EF Ambassador 2020 di Jakarta Selatan, 5 Februari 2020.

Kultur bahwa segala apsek terpampang di media sosial kian mendorong tingkat stres berlebih. "Buka media sosial dan lihat orang lain seperti apa bisa saja bikin stres," ucap Tara.

Karenanya, cara terbaik mengendalikan stres adalah dengan berani mengambil tindakan. "Harus berani berbuat. Karena kebanyakan mikir bisa buat orang milih buat tidak ngapa-ngapain. Yang dikhawatirkan mutar-mutar di pikiran saja," sambungnya.

Tindakan ini, sambung Tara, harus dibarengi dengan pengembangan diri memadai. Menurutnya, upgrade kemampuan merupakan salah satu kamampuan dasar psikologi. Pasal, umumnya manusia, termasuk milenial dan generasi Z, butuh makna dalam menjalani hidup.

"Apalagi, generasi sekarang cenderung butuh diakui dan berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan aktualisasi diri," ucapnya.

Tara menjelaskan, pada dasarnya karakteristik milenial dan generasi Z, yakni berpikiran terbuka, suka tantangan, gampang bosan, multitasking, dan senang mengembangkan diri. Sementara, tantangan yang mereka hadapi adalah lingkungan kompetitif, informasi terbuka, dan globalisasi.

"Dari sekian banyak, komunikasi jadi soft skill paling penting, apalagi verbal. Makanya belajar bahasa, yang paling umum Bahasa Inggris, punya peran penting supaya milenial dan generasi Z lebih percaya diri," tuturnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

2 dari 2 halaman

Dorong Aktif Bicara Bahasa Inggris

Mendukung pengembangan diri lewat kemampuan dasar yang krusial, yakni aktif berbahasa inggris, English First meluncurkan kampanye EF Ambassador 2020. 12 orang terpilih merupakan siswa unggulan EF Adults berusia 18 tahun ke atas.

"EF Adults hadir untuk mengakomodir kesibukan orang di atas 18 tahun lewat metodologi khusus," jelas Head of Marketing EF English Center for Adults Evan Januli. Blended learning, yakni online dan offline, memungkinkan siswa memilih cara belajar paling sesuai.

Di samping, terdapat pula sesi privat dan grup dalam materi belajar Bahasa Inggris dengan level disesuaikan kemampuan siswa. Yang terpenting, Evan mengatakan, cara belajar bahasa paling mudah adalah dengan bicara.

"Makanya di EF ada english speaking zone yang, sesuai namanya, mengharuskan siapapun dalam area tersebut berbicara full english," terangnya. Metode ini dinilai cukup efektif untuk mendorong para siswa berani secara aktif berbicara dalam Bahasa Inggris.

Dari proses belajar menerapkan sistem learn, try, dan apply terpilihlah 12 siswa berprestasi EF Adults dari center Jakarta dan Surabaya. Kampanye yang sudah berlangsung sejak 2013 ini bermaksud menginspirasi siswa lain maupun publik untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris.

"Nantinya bakal ada event, termasuk event besar, yang akan dilakukan para brand ambassador. Juga, siswa lain melihat mereka sebagai role model," jelas Evan.

Lewat tagar EnglishHelpsMe, pihak EF percaya kemampuan berbahasa Inggris bisa membantu langsung dalam kehidupan. "Salah satunya boleh jadi mendapat pekerjaan lebih baik," tandasnya.