Sukses

Cerita Akhir Pekan: Mendekatkan Permainan Anak Tradisional Lewat Kampung Dolanan

Liputan6.com, Jakarta - Masihkah ada yang mengalami hal ini? Saat-saat bermain bersama teman di taman setelah pulang sekolah atau sore hari. Deretan anak-anak berbaris menunggu giliran bermain bete tujuh, atau berlomba menyembunyikan diri lewat permainan petak umpet.

Kesenangan bermain di luar bersama kawan untuk bermain permainan tradisional nampaknya kini sudah dilupakan. Anak zaman sekarang lebih memilih bermain game online lewat smartphone ketimbang main di luar rumah.

"Kebanyakan kami lahir di tahun 90an, jadi kami ingin melestarikan sekaligus bernostalgia dengan permainan tradisional yang ada pada saat itu," ujar Usamah, dari komunitas Kampung Dolanan, Rabu, 11 April 2019.

 

 

Kampung Dolanan merupakan satu dari sedikit komunitas yang ingin melestarikan permainan tradisional. Usamah dan teman-temannya melihat kebiasaan bermain bersama anak beralih menjadi main game online bersama.

Padahal, permainan tradisional mengandung banyak manfaat. Selain meningkatkan kemampuan berinteraksi anak dengan sekelilingnya, beragam permainan tradisional juga bisa menyehatkan fisik maupun psikis anak.

"Pemeran utamanya adalah anak-anak itu sendiri yang memainkannya. Anak-anak yang memainkannya itu juga dalam rangka melestarikan permainan tradisional sebagai identitas bangsa kita," jelasnya.

Untuk kembali mempopulerkan permainan tersebut, Kampung Dolanan banyak mengadakan acara di Car Free Day (CFD), taman kota, sekolah, atau area olahraga. Mereka membawa berbagai permainan tradisional, memperlihatkan, mengenalkan, serta bermain bersama anak-anak. Permainan yang dikenalkan seperti enggrang, bakiak, galasin, bete 7, karet, hulahup, ular tangga, gasing, dan masih banyak lagi.

 

2 dari 3 halaman

Kebiasaan Anak Sudah Berbeda

Ia mengatakan tak mudah membiasakan anak-anak zaman sekarang dengan permainan tradisional. Salah satunya adalah kebiasaan anak-anak yang kebanyakan sudah terpapar gawai. Orangtua berkontribusi atas persoalan tersebut.

"Tidak hanya anak-anak yang berperan menjaga kebiasaan bermain yang baik, tapi orangtua juga punya peran untuk mengedukasi anaknya bermain permainan yang baik dan menyehatkan," sahutnya.

Anak-anak yang datang ke acara Kampung Dolanan pun merasa senang. Usamah mengaku anak-anak yang baru mengenal terlihat ceria bermain permainan tradisional. Tak hanya anak-anak, anak kelahiran 90an serta orangtua pun ikut bernostalgia saat melihat berbagai permainan dimainkan.

"Orangtua sangat mendukung kegiatan ini, Menurut mereka, kegiatan display dan edukasi permainan tradisional mestinya diperbanyak karena memberikan pengaruh postif terhadap anak," katanya. (Fairuz Fildzah)

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Cerita Akhir Pekan: Pudarnya Permainan-Permainan di Masa Kecil
Artikel Selanjutnya
Cerita Akhir Pekan: Kain Endek Bali, dari Simbol Bangsawan hingga Penolak Bala