Sukses

Pentas Teater Kelas Dunia I La Galigo Siap Digelar Lagi di Jakarta

Liputan6.com, Jakarta - Pertunjukan teater kelas dunia ‘I La Galigo’ akan kembali digelar di Jakarta. Pementasan ini dipersembahkan oleh Ciputra Artpreneur yang bekerjasama dengan Yayasan Bumi Purnati.

Setelah sukses menggelar pertunjukan kelas dunia dari luar negeri seperti The Sound of Music dan Beauty and the Beast, Ciputra Artpreneur Theater akan menggelar pentas teater ‘I La Galigo’ yang naskahnya diadaptasi dari ‘Sureq Galigo’.

Pementasan ini terwujud setelah pertemuan Presiden Direktur Ciputra Artpreneur, Rina Ciputra Satrawinata dengan Restu Imansari Kusumaningrum selaku produser independen yang menjadi direktur artistik I La Galigo.

Rina yang tertarik menggelar pementasan I La Gailigo menanyakan keberadaan dari kostum-kostum pertunjukan tersebut yang sempat disimpan di Milan, Italia.  Menurut Rina, properti pementasan teater tersebut bisa dikirim ke Jakarta untuk disimpan di Ciputra Artpreneur.

Saat 'I La Galigo' dipentaskan di Bali di pembukaan Annual Meetings IMF-World Bank Group 2018, Rina mengakuinya sebagai pementasan yang megah dan modern.

"Dengan didukung manajemen yang baik, digital yang baik, dan sistem yang baik, pertunjukan ini bisa sukses. Waktu saya bertemu lagi Bu Restu, saya bilang ini harus dibawa ke Jakarta," jelas Rina saat jumpa pers di Ciputra Artpreneur, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis, 21 Maret 2019.

Acara tersebut juga dihadiri Tanri Abeng selaku pendiri sekaligus pembina Yayasan I La Galigo. Lalu ada Rhoda Grauer, yang menggarap cerita dan naskah I La Galigo serta dua pemain utamanya, Gentille Andilolo dan Sri Qadariatin.

Dalam kesempatan itu, Tanri Abeng menceritakan pengalaman menarik saat Wakil Presiden Jusuf Kalla terpukau dengan pementasan tersebut. Saat itu 'I La Galigo' pentas perdana di Singapura pada 2003 dan ia menyakinkan Jusuf Kalla agar menontonnya.

"Pak JK Ini kan paling susah diajak nonton dan ternyata dia mau. Setelah menonton, dia kan juga paling susah memuji. Tapi lalu dia bilang kalau 'I La Galigo' ini hebat dan bagus sekali," tutur Tanri Abeng pada Liputan6.com.

2 dari 2 halaman

Sukses di New York

Saat itu, tim pertunjukan 'I La Galigo' memang produksinya dari orang asing, baik sutradara maupun penulis naskah. Namun hampir 80 persen pemainnya berasal dari Makassar.

Menurut mantan Menteri Negara Pendayagunaan BUMN itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun pernah menonton pertunjukan 'I La Galigo' saat masih menjadi Presiden dan ikut memberi pujian. Tanri juga mengapresiasi hasil kerja Robert Wilson. Saat pertunjukan di New York, Amerika Serikat, pada 2005. Selama dua malam 2000 kursi penonton penuh semua.

"Begitu selesai, penonton standing ovation. Nama Robert Wilson ternyata sudah dikenal orang-orang New York dan pertunjukannya selalu dipuji dan tiket sold out jauh-jauh hari,"  kenang Tanri.

I La Galigo atau La Galigo sendiri adalah sebuah karya sastra yang terbentang sepanjang zaman. Epos yang panjangnya melebihi dan bahkan sudah ada sebelum Mahabharata ini berisi kisah asal-usul manusia.

I La Galigo dulunya merupakan tradisi lisan masyarakat Sulawesi Selatan yang diturunkan dari generasi ke generasi sebelum dikenalnya aksara. Cerita I La Galigo kemudian dituliskan oleh suku Bugis dengan maksud untuk mengabadikan cerita tersebut dari kepunahan. Namun karya sastra ini kini hanya dikenal di kalangan akademisi.

Padahal, La Galigo punya kekuatan yang mengejutkan dan terbukti kalau dproduksi dengan baik bisa meraih sukses sampai ke luar negeri. Pertunjukan 'I La Galigo' akan menampilkan 12 adegan dalam durasi 2 jam 15 menit. Tiketnya dibanderol mulai daari Rp 475 ribu sampai Rp 1.850.000.

Saksikan video pilihan d bawah ini:

Loading