Sukses

Maknyus, Berendam Air Panas di Tengah Sejuknya Green Forest

Liputan6.com, Jakarta Green Forest yang ada di kawasan Cimanggu, Kabupaten Bandung, berkembang menjadi salah satu destinasi wisata instagramable yang mengusung nomadic tourism. Banyak wahana wisata seru yang bisa menjadi tempat liburan bersama keluarga tercinta, salah satunya adalah tempat pemandian air panas.

Agus Tuteng, Marketing Green Forest, saat ditemui Liputan6.com di Bandung beberapa waktu lalu mengatakan, wahana pemandian air panas sementara baru dibangun tiga kolam. Bagian paling bawah dikhususkan untuk anak-anak. Air pemandian sendiri berasal dari air belerang yang langsung dialirkan dari kawah.

“Ini airnya punya banyak khasiat, khususnya untuk penyakit kulit. Mengandung sulfur belerang tanpa menggunakan penjernih,” ungkap Agus.

 

2 dari 3 halaman

Hanya Rp 25 Ribu

Agus menjelaskan, pemandian air panas ini dahulu bentuknya bilik-bilik kamar. Namun karena peraturan konservasi tidak boleh mengubah bentang alam, tempat pemandian air panas ini dibuat menjadi bentuk seperti yang sekarang.

“Turis asing malah lebih suka tempat-tempat seperti ini. Nah, pelan-pelan kami tanamkan juga informasi ini lo, ternyata banyak manfaat kesehatan yang didapat dari berendam air belerang,” kata Agus menambahkan.

Dikelola langsung oleh swasta, untuk masuk ke tempat pemandian air panas ini, setiap wisatawan hanya perlu membayar Rp 25 ribu untuk weekdays, dan Rp 27 ribu untuk akhir pekan. Ongkos tersebut sudah termasuk penghasilan bukan pajak yang dibayarkan kepada pihak konservasi.

 

3 dari 3 halaman

Momadic Tourism

Sejauh ini, dengan adanya wahana pemandian air panas, pengunjung Green Forest masih berada di kisaran ratusan orang dalam sepekan. Ke depan, menurut penuturan Agus Tuteng, di sekitar kawasan pemandian air panas akan dibangun lokasi kemping dengan fasilitas vila portabel. Hal ini sesuai dengan arahan Kementerian Pariwisata agar tiap daerah mengembangan unsur Nomadic Tourism.

Camping Ground sedang dibuat di belakang. Kalau sudah jadi, pemandian ini akan dibuka 24 jam. Jadi kapan pun orang bisa berendam di tempat ini. Kalau tidak melanggar, kita juga mau membangun air terjun buatan di sekitar pemandian, tapi ini kan harus ada izinnya dulu, karena ini kan kawasan konservasi,” kata Agus Tuteng menambahkan.

 

Simak juga video menarik berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Menemukan Kopi Sunda, Si Anak Hilang yang Mulai Hits Kembali
Artikel Selanjutnya
Menanti Pendaki Perempuan Pertama yang Berhasil Gapai Puncak Trikora