Sukses

Seberapa Pantas Suami Mengatur Keuangan Rumah Tangga?

Liputan6.com, Jakarta Mengatur keuangan keluarga adalah kewajiban ketika kita sudah berumah tangga. Namun, ada kecenderungan suami dianggap kurang cocok sebagai manajer keuangan keluarga. Istri dinilai lebih pas karena biasanya dianggap lebih teliti dan telaten mengurus uang.

Padahal, pengaturan finansial dalam keluarga bukanlah perkara gender atau jenis kelamin. Baik suami maupun istri bisa saja menjadi penanggung jawab urusan vital ini.

Dalam keluarga, intinya adalah kerja sama dan pembagian tugas. Bila tugas suami mengatur keuangan keluarga, hal itu bukanlah masalah. Berikut beberapa situasi saat kita seharusnya mempertimbangkan suami yang jadi menteri keuangan rumah tangga seperti yang dirangkum oleh Duitpintar.com

1. Aktivitas istri lebih padat
Dalam keluarga dengan suami dan istri bekerja, pembagian peran bisa lebih cair. Jadi juru masak pun bisa dilakoni suami. Terlebih bila aktivitas istri lebih padat. Misalnya pekerjaan istri memaksanya sering pergi ke luar daerah, bahkan sering menginap hingga dua-tiga hari.

Suami bisa mengambil peran manajer keuangan karena lebih sering di rumah, sehingga lebih dekat dengan keperluan yang memerlukan biaya. Aktivitas istri yang lebih padat juga bisa membuat waktu dan pikirannya tidak cukup tersisa untuk memegang 100 persen keuangan keluarga.

2. Suami dianggap lebih cakap mengelola keuangan
Mengatur keuangan keluarga bukanlah perkara mudah. Diperlukan keahlian yang mumpuni agar bahtera rumah tangga tidak goyah karena masalah finansial.

Makanya, ketika suami dianggap lebih cakap mengelola keuangan, tak ada salahnya memberikan tugas manajer keuangan kepadanya. Misalnya suami memang lulusan manajemen yang sudah akrab dengan hitung-hitungan bujet atau istri lebih impulsif dalam soal keuangan. Bisa berbahaya kalau istri pegang uang dan ternyata hobi belanja tanpa rencana.

3. Sepakat ada transparansi
Sebenarnya entah suami entah istri yang mengatur keuangan, tapi transparansi itu penting. Dalam soal suami sebagai pengelola keuangan, transparansi perlu lebih ditekankan. Suami jangan sampai menjadi diktator yang semena-mena dalam mengatur pengeluaran. Misalnya royal kalau untuk kebutuhan sendiri, tapi pelit ketika istri atau anak sedang butuh.

4. Suami tetap pegang tugas lain
Walau sudah menjabat manajer keuangan dalam keluarga, suami bukan lantas bebas dari tugas lainnya. Namanya suami, ada hal-hal yang umumnya lebih membutuhkan sentuhan tangannya ketimbang sang istri.

Untuk urusan yang lebih penting juga begitu. Misalnya dalam hal pendidikan anak. Suami tetap berperan sebagai ayah yang bertugas mendidik sang anak.
Entah oleh suami ataupun istri, keuangan dalam rumah tangga harus diatur. Jangan sampai bahtera yang dibangun berjalan autopilot alias tanpa kontrol tangan kita sendiri.

Saksikan Video Menarik Berikut Ini: