Sukses

Cantiknya Tapis Lampung yang Tuai Pujian di Olimpiade 2016

Liputan6.com, Jakarta Berbagai kekecewaan yang diungkapkan banyak orang dengan seragam kontingen Indonesia untuk berlaga di Olimpiade 2016 Rio de Jenairo seperti terobati lewat pujian dunia dengan kostum tradisional saat parade upacara pembukaan Sabtu pagi, (6/8/2016). 

Salah satu yang menarik perhatian adalah hiasan kepala warna emas yang menjulang tinggi seperti pagoda. Termasuk dengan kemewahan pakaian tradisional asal Lampung yang dipakai atlet renang Yessy Yosaputra.

Pakaian yang membuat banyak orang di seluruh penjuru terpukau adalah tapis Lampung. Seperti apa tapis Lampung? Simak beberapa hal yang menarik untuk diketahui dari tapis Lampung. 

Tapis adalah salah satu kain tradisional masyarakat Lampung yang biasanya digunakan untuk pakaian wanita. Kain tapis berbentuk sarung yang terbuat dari tenun benang kapas dengan motif atau hiasan bahan sugi, benang perak, atau benang emas. Kain ini biasanya digunakan sebagai penutup tubuh bagian bawah, dari pinggang hingga mata kaki.

Kontingen Indonesia di defile Olimpiade 2016. (REUTERS/Kai Pfaffenbach)

Tapis Lampung dianggap sebagai salah satu kerajinan tradisional karena semua peralatan yang digunakan masih sederhana dan dikerjakan secara manual oleh si pengrajin. Para pengrajin biasanya adalah wanita, baik ibu rumah tangga, maupun gadis-gadis belia dengan tujuan mengisi waktu luang dan memenuhi tradisi yang masih dianggap sakral.

Kontingen atlet Indonesia saat mengikuti parade upacara pembukaan Olimpiade 2016 di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, Brasil (5/8).Kostum yang digunakan para kontingen merupakan paduan jas dan batik. (FRANCK FIFE / AFP)

Motif yang diaplikasikan pada kain tapis Lampung umumnya mengangkat tema tentang alam, terutama flora dan fauna. Namun ada pula kain yang mengangkat tentang kehidupan rumah tangga.

Kontingen atlet Indonesia saat parade upacara pembukaan Olimpiade 2016 di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, Brasil (5/8). Kostum Indonesia yang didesain Prima Suci Ariani tersebut kali pertama diperkenalkan pada 15 Juli 2016. (PEDRO UGARTE / AFP)

Menurut para ahli sejarah, orang Lampung telah melakukan kegiatan menenun kain sejak abad ke-2 sebelum Masehi untuk menyelaraskan kehidupan mereka. Baik dengan lingkungan sekitar maupun dengan pencipta. Maka dari itu, kemunculan kain tapis ini melalui tahap-tahap yang mengarah pada kesempurnaan teknik tenun dan cara memberikan ragam hias sesuai dengan perkembangan kebudayaan masyarakat.

Kain Tapis Lampung

Karena proses pengerjaan yang terbilang rumit dan membutuhkan waktu lama, serta filosofi yang tinggi, kain tapis memiliki harga yang relatif mahal.

Kuliner Malam Jumat: Menyantap Kelezatan 40 Lauk di Nasi Kapau Uni Upik

Tutup Video
Loading