Sukses

Menyambut Matahari Kemerdekaan di Puncak Prau

Liputan6.com, Jakarta Ada rasa puas menyaksikan panorama keindahan matahari terbit dari puncak Prau, Wonosobo, Jawa Tengah. Udara yang menusuk dingin sirna saat sinar matahari mulai berpendar bertahtakan hamparan awan putih yang dihiasi puncak-puncak gunung. Merbabu, Sumbing, Sindoro menjadi saksi yang meneguhkan; keindahan pemandangan matahari terbit di puncak Gunung Prau sungguh menawan.

Udara pada pertengahan Agustus di dataran tinggi Dieng sangat dingin meski matahari bersinar terik. Lama tak terkena hujan, lahan perkebunan wortel dan kentang para petani nampak kering. Pinggir-pinggir jalan dipenuhi debu yang berterbangan saat diterjang kendaraan lewat.

Jalan Dieng Kejajar, jalan utama menuju pos pendakian Patakbanteng, hari itu macet. Bertepatan dengan libur panjang memperingati dirgahayu kemerdekaan RI, volume kendaraan menuju dataran tinggi Dieng melonjak. Hal ini diperparah dengan adanya perbaikan gorong-gorong, sehingga petugas lalu-lintas perlu bekerja ekstra membuat kebijakan buka-tutup lajur.

Gunung Prau sebagai salah satu objek wisata unggulan terpadu yang ada di dataran tinggi Dieng sebenarnya menyediakan tiga pintu masuk utama, yaitu Dieng, Patakbanteng, dan Kali Lembu. Diantara ketiganya, Patakbanteng memang menjadi pintu masuk yang paling digemari para pendaki karena tidak perlu memakan waktu lama untuk sampai ke puncak.

“Hati-hati ada ribuan orang menuju puncak sampai malam ini, trek pasti macet. Jangan lupa pakai masker, lama tak hujan jalur pendakian debunya tebal,” ungkap Yus, salah seorang ranger Gunung Prau, sesaat setelah melapor di pos pendakian Patakbanteng.

Setelah standar prosedur keamanan pendakian dikenakan , termasuk masker, sepatu, dan headlamp, perjalanan mendaki pun dimulai. Tak perlu memaksakan diri berjalan tanpa henti, karena menikmati perjalanan mendaki ke puncak Prau di malam hari sungguh menyenangkan. Musim kemarau yang lama membuat langit malam itu cerah, bintang-bintang yang bertaburan di angkasa dapat dilihat dengan mata telanjang.

Di jalur pendakian Patakbanteng terdapat tiga pos pemberhentian, yaitu Sikut Dewo, Tanggal Walang, dan Cacingan. Menuju pos pertama, jalan yang dilalui masih lebar, sehingga para pendaki masih bisa berjalan dengan leluasa. Namun petualangan baru akan dimulai saat melewati pos Sikut Dewo, pasalnya jalan mulai sempit dan debu mulai tebal. Para pendaki perlu ekstra hati-hati, mengingat banyak jurang di sepanjang kanan-kiri jalan.

Melewati pos pemberhentian Tanggal Walang hingga mencapai puncak, karaktek trek yang dilalui masih sama, berdebu. Tidak perlu terburu-buru menggapai puncak, jalan yang santai dan berirama akan membantu menormalkan suhu tubuh dan menghindari diri dari rasa cepat lelah.

Menikmati perjalanan dan tidak terburu-buru memang menjadi resep utama saat melewati trek mendaki Patakbanteng. Selain untuk menghindari kepulan debu dari tapak kaki yang terburu-buru, berjalan santai, beristirahat, dan melihat bintang adalah satu-satunya cara menikmati perjalanan, apalagi waktu tempuh pendakian yang singkat, sayang jika dilewatkan begitu saja.

Gunung Prau Menyajikan pemandangan alam yang memukau.

Jam menunjukkan pukul 22.12 WIB saat Tim Liputan6.com sampai di puncak Prau, Minggu (16/8/2015). Tidak seperti gunung lainnya, hanya 3 jam perjalanan, para pendaki sudah bisa menapaki puncak Prau pada ketinggian 2.565 meter di atas permukaan laut.
Hembusan angin yang kencang di ketinggian membuat badan menggigil, satu per satu para pendaki terlihat mulai menebalkan pakaiannya, untuk kemudian mendirikan tenda. Puncak Prau di hari itu bagaikan pasar malam. Sepanjang mata memandang, yang terlihat hanya jejeran tenda. Para pendaki yang baru sampai bahkan kesulitan mencari lahan untuk mendirikan tenda.

Ada 6.000 pendaki yang tercatat masuk jalur Patakbanteng. Jumlah ini belum ditambah oleh para pendaki yang masuk melalui Dieng dan Kali Lembu. Maka tak heran jika puncak Prau hari itu ramai, diperkirakan lebih dari 10.000 pendaki ingin memperingati dirgahayu kemerdekaan RI dengan mengibarkan sang saka merah putih saat matahari 17 Agustus terbit.

Ada rasa puas menyaksikan panorama keindahan matahari terbit dari puncak Prau, Wonosobo, Jawa Tengah. Udara yang menusuk dingin sirna saat sinar matahari mulai berpendar bertahtakan hamparan awan putih yang dihiasi puncak-puncak gunung. Merbabu, Sumbing, Sindoro menjadi saksi yang meneguhkan; keindahan pemandangan matahari terbit di puncak Gunung Prau sungguh menawan.

Lamat-lamat matahari mulai meninggi, seraya sang saka merah putih yang terus dikibarkan. Dari kejauhan sayup-sayup lagu Indonesia Raya yang berkumandang menyadarkan kami, sesungguhnya tugas mengisi kemerdekaan bagaikan menapaki jalan panjang tak berujung. Nampaknya malu jika semangat baru menyongsong 70 tahun kemerdekaan hanya jadi sekadar seremoni belaka. (Ibo)