Sukses

Cerita di balik Punahnya Jajanan Khas Yogyakarta (Bagian 1)

Liputan6.com, Yogyakarta- Jajanan khas daerah lokal kini mulai sulit ditemui. Selain pembuatnya semakin sedikit, pangsa pasarnya pun semakin terbatas. padahal, peminat jajanan lokal ini masih ada. Serbuan jajanan asing serta kontemporer membuat pasar makanan lokal semakin terdesak. Liputan6.com menelusuri pembuatan jajanan tradisional khas Yogyakarta yang sudah mulai langka ini dan mencari tahu cara pembuatannya hingga latar belakang mengapa jajanan ini semakin menghilang dari peredaran kekayaan kuliner nusantara.

Bumen Purbayan kotagede Jogjakarta menjadi salah satu tempat pembuatan jajanan asli dari Kotagede yang masih ada. Di rumah Bu Sadimah (72) ini jajanan Kembang Waru dibuat. Panganan yang menjadi primadona sejak dahulu hongga saat ini. Kepada Liputan6.com dirinya sudah membuat jajanan asli Kotagede ini selama 30 tahun. Jajanan yang mirip dengan Bolu basah ini terbuat dari telur ayam, tepung terigu, gula pasir, soda vanili, dan susu, dengan hasil akhir yang berbentuk seperti bunga waru berwarna Kuning coklat agak merah. Bu Sadimah membutuhkan waktu dua jam untuk membuat kembang waru.

"Nggak pakai pewarna dan pemanis. Dulu nggak pakai terigu tapi tepung ketan. Sekarang nggak pakai ketan karena mahal. Dulu juga telurnya telur ayam kampung. Jadi rasanya enak banget," ujar Sadimah, awal pekan ini.

Sadimah menceritakan, sejak dahulu keluarganya termasuk yang membuat panganan khas Kotagede ini. Saat itu Kembang Waru bukan makanan biasa. Kembang Waru termasuk makanan mewah dan hanya keluar saat ada perayaan tertentu. "Dulu mewah bukan makanan harian. Biasanya punya gawe khitanan, mantu, syukuran. Ini bukan makanan harian. Sekarang banyak untuk pengajian arisan dan rapat," ujarnya.

Pembuat makanan Kembang Waru menurut Sadimah juga mulai berkurang. Di kelompok yang dipimpinnya hanya tinggal dua orang saja yang masih membuat kembang waru. Namun begitu diluar kelompok juga ada yang membuat kembang waru tapi jumlahnya juga tidak banyak.

Dikatakan Sadimah, jika dahulu perhatian pemerintah sangat peduli dengan pembuat makanan traditional namun saat ini perhatian tersebut mulai berkurang. Dulu para pembuat makanan tradisionia ini sering dipantau dan dibina dan memberi modal namun sekarang perhatian itu sudah tidak ada lagi. Bahkan banyak yang sudah tua dan meninggal, semnetara keterampilan mereka berhenti tak sampai ke keturunannya. "Dulu banyak sak niki pun (sekarang audah) berkurang tua dan meninggal. Awalnya 11 orang tinggal 2 orang. Iya karena saya sama anak anak ga boleh. Paling pesenan saja jadi nggak ada yang meneruskan. Mbah Prawirorejo juga ga ada yang meneruskan," ujarnya.

Kembang waru ini saat ini dihargai Rp 1.400 perbuah untuk ukuran sedang, semnetara ukuran yang lebih besar harganya Rp 1.500. Walaupun saat ini sudah mulai banyak makanan kembang waru di daerah lain namun yang asli dari Kotagede mempunyai rasa yang khas. "Rasanya beda kan dari Kotagede ngocoknya asli pakai tangan. Rasanya memes atau empuk kalo pakai kocokan. Yang baru pakai mesin jadi beda rasanya," ujar Sadimah.



Sementara itu pembuat makanan tradisionil lainnya, Mulyadi, mengatakan bahwa makanan khas Kotagede ini syarat dengan makna filosofi. "Kembang waru. Kembangnya Mesti delapan. Nasihat daripada pendahulu tentang delapan jalan utama atau Hasto broto yaitu 8 jalan utama. Diibaratkan 8 elemen penting yaitu matahari, bulan, bintang, mega (awan), tirta (air), kismo (tanah), samudra, dan maruto (angin). Oleh karena itu siapa yang makan kembang waru harus bisa menjiwai dan mengamalkan 8 delapan jalan utama," ujarnya.

Mulyadi mengatakan delapan elemen yang syarat makna ini sangat dalam jika diketahui masyarakat. Namun menurutnya tidak banyak yang mengetahui arti dan makna dari makanan khas tradisional khas Kotagede Yogyakarta. "Bintang bisa untuk pedoman Mega menghalang panas terik semuanya bermanfaat bagi orang, lain dicontohkan dengan 8 jalan utama. Angin udara itu dibutuhkan keadaan orang itu bisa diharapkan kedatangannya. Air sifatnya mengalir wong urip ki apike koyo banyu mili (orang hidup itu seperti air mengalir). Air itu yang didatangi selalu yang rendah. Sebagai pejabat itu harus selalu mencari yang dibawah," ujarnya.

Loading