Sukses

Live Report:PENGUMUMAN KABINET JOKOWI JILID II

Kampung Asei Jayapura, Surganya Pelukis Kulit Kayu

Liputan6.com, Papua Kampung Asei Besar yang terletak di Kabupaten Jayapura-Papua adalah surga bagi pelukis kulit kayu. Pasalnya, kampung yang berpenduduk sekitar 75 kepala keluarga ini memiliki tradisi melukis di atas kulit kayu, tidak terkecuali kaum muda dan anak kecil.

 

Salah satu pelukis kulit kayu setempat, Corry Ohee (54) menuturkan tradisi melukis di atas kulit kayu telah dimulai sejak tahun 1600-an.

 

Tradisi ini sempat punah dengan perkembangan jaman kelengkapan hidup, misalnya berbagai busana dalam bahasa setempat disebut malo beralih ke bahan dasar kain dan tekstil lainnya.

 

“Namun pada tahun 1975, antropolog asli Papua, Arnold Ap dan Danielo Constantino Ayamiseba menggerakkan kembali tradisi mengukir atau melukis kulit kayu, ukiran asli Suku Asei dan hingga saat ini trasisi tersebut masih terus dilanjutkan, hingga diperkenalkan ke manca negara seperti di sejumlah negara di Eropa,” ujarnya kepada Liputan6.com, saat berkunjung ke pulau tersebut, Kamis (11/9/2014).

 

Bahkan sejumlah lukisan asli kulit kayu miliki Suku Asei masih tersimpan rapi di sejumlah museum besar di daratan Eropa.

 

Salah satu budayawan berkebangsaan Eropa, Prof Jac Hoogerbruge berhasil mengumpulkan foto-foto lukisan tersebut di sejumlah negara Eropa dan membuat buku tentang lukisan kulit kayu itu.

2 dari 5 halaman

Motif Bernuansa Kekayaan Alam dan Kearifan Lokal

Motif-motif kulit kayu yang biasanya diukir atau dilukis oleh warga setempat adalah motif yang bernuansa kekayaan alam, kearifan lokal dan keadaan di sekitar lingkungan warga tersebut.

 

“Artinya setiap lukisan yang dihasilkan disetiap lembar kulit kayu pasti memiliki makna bagi keberlangsungan kehidupan warga setempat,” jelasnya.

 

Dalam bahasa setempat, motif-motif ini disebut dengan Yoniki yang berlambang kebesaran dan keagungan seorang raja atau ondofolo. Bisa berupa gelang batu, perangkat lunak laki-laki, jari-jari dan daun palem.

 

“Motif Yoniki adalah motif tertinggi untuk seluruh Ondofolo di Sentani,” paparnya.

 

Sementara motif lainnya adalah Fow yang melambangkan ikatan bersama dalam kekeluargaan dan biasanya berbentuk bulat. Kemudian juga ada motif Aye Mehele, Iuwga, Kino dan beberapa motif lainnya.

3 dari 5 halaman

Warna Dasar Hitam

Sedangkan warna dasar atau dominan yang terdapat dalam lukisan kulit kayu itu adalah warna hitam warna yang dihasilkan dari jelaga atau arang periuk, kemudian warna putih yang dihasilkan dari pinang sirih, dan warna merah yang dihasilkan dari batu kapur merah.

 

“Warna-warna ini kemudian bisa dicampur dengan bahan lainnya, misalnya untuk menghasilkan warna putih bisa dicampur getah sukun, kemudian warna kapur merah dicampur dengan air dan warna hitam dicampur dengan minyak kelapa,” katanya.

 

Karena meningkatkan permintaan dan banyaknya kunjungan turis ke kampung ini, maka saat ini warna-warna tersebut kadang dicampur dengan cat sintetis lainnya.

 

“Namun jika ada permintaan lukisan kulit kayu dengan menggunakan bahan-bahan pewarna asli, maka bisa kami sediakan juga, tentu harganya akan berbeda dengan pewarna sintetis,” jelasnya.

 

Untuk bahan dasar lukisan kulit kayu ini sendiri menggunakan khombouw yang diperoleh dari jenis pohon yang bergetah seperti pohon beringin, sukun dan nangka.

 

Proses pengolahan kulit kayu tersebut dilakukan dengan cara menguliti tipis-tipis kulit pohon yang telah ditebang sebelumnya, lalu ditumbuk, dibilas dan dijemur hingga kering. Setelah itu baru dapat digunakan untuk melukis atau mengukir.

4 dari 5 halaman

Peran Pemerintah Setempat

Peran pemerintah dalam ekonomi kreatif Suku Asei ini juga dapat dirasakan lewat perhatian langsung yang diberikan oleh pemerintah setempat, di antara dengan dilakukan pelatihan dan modal yang dikucurkan bagi kelompok-kelompok pelukis.

 

Setiap kelompok biasanya berisi 10 orang dan dana yang diberikan oleh pemerintah berkisar Rp 20 juta.

 

“Dana itu terus digulirkan dari dana pengembangan kampung,” ungkap dia.

5 dari 5 halaman

Menjajakan Lukisan Kulit Kayu

Lebih lanjut, hingga saat ini, warga setempat menjajakan lukisan kulit kayu di lapangan kampung tersebut dengan cara dijejer di atas tanah.

 

Setiap harinya, warga setempat bisa menghasilkan Rp 100 ribu dari hasil penjualan kulit kayu.

 

“Selain melukis, kegiatan warga lainnya adalah nelayan dan juga pegawai negeri sipil. Kulit kayu juga bisa dibuat topi, tas dan perlengkapan wanita dan pria lainnya.
Kami sengaja tak menjual lukisan ini keluar dari kampung, agar wisatawan juga dapat mengunjungi pulau kami. Jikapun ditemukan lukisan kulit kayu dipasaran, itu bukan asli ukiran atau lukisan dari Suku Asei,” kata Yosephina Ongge (45) salah satu pembuat topi dari kulit kayu. (Katharina Janur/Ars)

Loading