Sukses

Kartu Prakerja Gandeng UMY dan UII Jadi Asesor, Ini Tugasnya

Liputan6.com, Yogyakarta - Program Kartu Prakerja memperluas programnya dengan menggandeng UMY dan UII untuk bekerja sama. Kerja sama Manajemen Pelaksana dengan UMY dan UII melengkapi jaringan kemitraan yang sebelumnya telah dilaksanakan dengan perguruan tinggi, yakni UI, UGM, UAJY, dan Indonesia Mengajar.

Menurut Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja Denni Puspa Purbasari, disrupsi yang makin sering terjadi, baik karena ekonomi, politik, teknologi, maupun kesehatan akibat pandemi mengubah banyak hal. Di Singapura, tren umur perusahaan semakin pendek, dari semula 40 tahun jadi 10 tahun.

Warganya berganti pekerjaan rata-rata tiap lima tahun. Sementara, dunia kerja Indonesia dihadapkan pada ketimpangan antara output dunia pendidikan dengan permintaan dunia industri.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, hanya 10 persen angkatan kerja Indonesia yang pernah ikut pelatihan di luar pendidikan formal.

“Hal inilah yang membuat pemerintah berinvestasi besar dalam peningkatan kompetensi angkatan kerja, baik skilling, reskilling maupun upskilling, melalui Program Kartu Prakerja,” ujarnya seusai penandatanganan nota kesepahaman tentang Pelaksanaan Pengembangan dan Penilaian Konten Pelatihan Keterampilan Kerja dan Kewirausahaan pada Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja di UMY, Jumat (3/2/2023).

Ia berpendapat, banyaknya pihak penyedia pelatihan di ekosistem Prakerja memungkinkan adanya persaingan sehat. Sebelum masuk ekosistem, mereka diseleksi ketat.

Puluhan indikator asesmen harus dilalui, sebelum bergabung ke ekosistem Kartu Prakerja. Begitu berhasil, mereka pun belum tentu laku karena peserta bebas memilih yang cocok untuk kebutuhan mereka.

“Untuk melakukan proses asesmen ini, kami dibantu asesor pelatihan dari lembaga-lembaga pendidikan terbaik di Indonesia yang bersifat independen, termasuk UII dan UMY ini,” ucap Denni.

Penandatanganan nota kesepahaman di dua kampus di Yogyakarta dibarengi dengan kuliah umum bertema ‘Tantangan Generasi Muda Menghadapi Tsunami di Era Digital’ oleh Direktur Teknologi Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja Samsu Sempena.

Acara ini juga dihadiri tiga pimpinan lembaga pelatihan yang memberikan voucher pelatihan gratis kepada kedua kampus, yakni Direktur Utama GETI Inkubator Amalia S. Prabowo, Direktur Utama Yec.co.id M. Animna Husna, serta Direktur Utama Bebas Jam Kerja Andi Pranata.

“Banyak sekali alternatif meningkatkan pendapatan untuk para Millennial dan Gen-Z di era dunia digital, khususnya yang disebut gig economy ini,” kata Samsu.

Sayangnya, meski melek teknologi, generasi muda memiliki problem akut, antara lain sikap mudah menyerah, mentalitas instan, serta kesehatan mental yang kerap terganggu.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.