Bacaan dan Arti Dzikir Subhanallahi Wa Bihamdihi, Ringan di Lisan dengan Pahala Berlimpah

Kalimat ini sarat dengan makna tauhid dan pengagungan kepada Allah SWT.

Diterbitkan 23 Agustus 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Arti dzikir subhanallahi wa bihamdihi adalah "Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya", bacaan yang begitu ringan diucapkan. Namun, di balik itu ada keistimewaan yang begitu besar.

Kalimat ini sarat dengan makna tauhid dan pengagungan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW menyebut dua kalimat yang ringan di lisan namun berat di timbangan (pahala) (HR. Bukhari no. 6682 dan Muslim no. 2694).

Ibnu Hajar RA menjelaskan bahwa sabda Nabi ini mengandung empat pesan penting: pertama, untuk menyemangati umat berdzikir dengan kalimat yang sangat ringan; kedua, karena kedua kalimat ini dicintai oleh Allah Yang Maha Pengasih; ketiga, karena amat mudah diucapkan tanpa kendala; dan keempat, untuk menunjukkan betapa besarnya pahala yang dijanjikan Allah.

Dr. Abdullah bin Hamod Al-Forih dalam Sunnah dan Dzikir Harian Nabi SAW menempatkan dzikir ini sebagai salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan untuk diamalkan setiap hari. Beliau mengutip sabda Nabi SAW yang menyebutkan bahwa barang siapa membaca Subḥānallāhi wa biḥamdihī seratus kali dalam sehari, maka dosa-dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan. Ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah yang melimpah melalui amalan yang tampak sederhana.

Bacaan Dzikir Subhanallahi Wa Bihamdihi Teks Arab, Latin dan Artinya

Berikut adalah bacaan dzikir yang diajarkan Rasulullah SAW, lengkap dengan teks Arab, latin, dan terjemahannya:

Teks Arab: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

Latin: Subḥānallāhi wa biḥamdihī

Artinya: "Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya."

Selain bentuk dasar ini, terdapat pula variasi bacaan yang dianjurkan, yaitu dengan tambahan pengagungan:

Teks Arab: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Latin: Subḥānallāhi wa biḥamdihī, Subḥānallāhil-'Aẓīm

Artinya: "Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya, Mahasuci Allah Yang Maha Agung."

Terdapat pula variasi dengan doa:

Teks Arab: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Latin: Subḥānallāhi wa biḥamdihī 'adada khalqihī, wa riḍā nafsihī, wa zinata 'arsyihī, wa midāda kalimātihī

Artinya: "Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya, sebanyak jumlah makhluk-Nya, sejauh keridaan-Nya, seberat timbangan 'Arsy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-kalimat-Nya."

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: "Sungguh sebaik-baik perkataan di sisi Allah adalah Subḥānallāhi wa biḥamdihī" (HR. Muslim). Dalam riwayat lain, beliau bersabda: "Barang siapa mengucapkan Subḥānallāhi wa biḥamdihī seratus kali dalam sehari, niscaya diampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan" (Muttafaq 'alaih).

Makna Mendalam Subḥānallāhi wa Biḥamdihī Menurut Ulama

Para ulama telah menguraikan makna mendalam dari dzikir yang agung ini. Berikut penjelasannya berdasarkan tuntunan para ulama:

1. Pensucian Allah dari Segala Kekurangan (Tasbih)

Kata Subḥānallāh berasal dari akar kata sabḥa yang berarti menjauhkan atau menyucikan. Maknanya adalah menyucikan Allah dari segala kekurangan, aib, dan sifat-sifat yang tidak layak bagi keagungan-Nya.

Dalam Sunnah dan Dzikir Harian Nabi SAW, Dr. Abdullah bin Hamod Al-Forih menjelaskan bahwa tasbih adalah pengakuan bahwa Allah Mahasempurna dari segala sisi——tidak ada cela, tidak ada kelemahan, dan tidak ada kekurangan pada diri-Nya.

2. Pujian atas Kesempurnaan Allah (Hamd)

Frasa wa biḥamdihī berarti "dan dengan memuji-Nya." Ini mengandung makna bahwa tasbih disertai dengan pujian kepada Allah atas segala nikmat dan kesempurnaan-Nya. Syaikh Abdurrazzaq al-Badr menjelaskan bahwa menggabungkan tasbih dan tahmid dalam satu kalimat menunjukkan kesempurnaan ibadah, menyucikan Allah dari kekurangan sekaligus memuji-Nya atas keagungan dan karunia-Nya.

3. Gabungan Tauhid dan Syukur

Dzikir ini menggabungkan dua aspek penting dalam ibadah: tanzih (pensucian) dan tsana' (pujian). Tanzih berarti mengakui bahwa Allah terbebas dari segala kekurangan, sedangkan tsana' berarti mengakui bahwa Allah memiliki segala kesempurnaan. Gabungan ini mencerminkan iman yang seimbang——takut akan keagungan Allah sekaligus berharap pada rahmat-Nya.

4. Pengakuan Ketergantungan kepada Allah

Dengan mengucapkan dzikir ini, seorang hamba mengakui bahwa dirinya lemah dan hanya Allah-lah yang Mahasempurna. Ini adalah bentuk kerendahan hati di hadapan Pencipta dan pengakuan bahwa segala pujian hanya layak ditujukan kepada-Nya.

Cara dan Waktu Terbaik Mengamalkan Dzikir

Cara Mengamalkan • Dengan Penuh Penghayatan: Membaca dzikir sambil merenungkan maknanya—mensucikan Allah dari segala kekurangan dan memuji-Nya atas segala kesempurnaan.

• Dengan Ikhlas: Membaca kalimat ini semata-mata karena Allah, bukan karena riya' atau ingin dipuji manusia.

• Dengan Kontinyu: Syaikh al-Utsaimin menganjurkan untuk mengucapkannya secara terus-menerus (kontinyu).

• Dengan Lisan dan Hati: Mengucapkannya dengan lisan sambil menghayatinya dalam hati, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

Waktu Pengamalan

• Pagi dan Sore Hari: Waktu yang paling utama adalah di pagi dan sore hari. Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang membaca di waktu pagi dan sore, 'Subhanallah wa bihamdihi' seratus kali, maka tidak ada seorang pun yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala yang lebih baik dari pahala yang dia bawa, kecuali orang yang membaca seperti yang dia baca atau lebih banyak" (HR. Muslim).

• Setelah Shalat Fardhu: Dzikir ini termasuk amalan yang dianjurkan setelah shalat wajib.

• Setiap Hari: Dianjurkan membaca 100 kali setiap hari. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa mengucapkan Subhanallahi wa bihamdihi sebanyak 100 kali dalam sehari, niscaya akan diampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan" (HR. Muslim).

• Saat Malam Terasa Berat: Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang malam hari terasa sangat berat baginya dalam menjalaninya... maka hendaklah memperbanyak (bacaan) Subhanallahi wa bihamdihi" (HR. Ath Thabrani).

Hikmah Istiqamah Berdzikir "Subḥānallāhi wa Biḥamdihī"

1. Penghapus Dosa Meskipun Sebanyak Buih di Lautan

Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa mengucapkan Subḥānallāhi wa biḥamdihī seratus kali dalam sehari, niscaya dihapuskan dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan" (Muttafaq 'alaih). Ini adalah rahmat Allah yang luar biasa——amalan ringan yang dapat menghapus dosa dalam jumlah yang sangat besar.

2. Berat di Timbangan Amal di Hari Kiamat

Meskipun ringan di lisan, dzikir ini memiliki bobot yang sangat berat di timbangan kebaikan. Rasulullah SAW bersabda, "Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rahman, yaitu Subḥānallāhi wa biḥamdihī, Subḥānallāhil-'Aẓīm" (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menjadi bekal berharga bagi seorang hamba di hari perhitungan amal.

3. Mendapat Pohon Kurma di Surga

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhu, Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa mengucapkan Subḥānallāhi wa biḥamdihī, akan ditanamkan satu pohon kurma baginya di surga" (HR. Al-Bazzar). Setiap kali seorang hamba mengucapkan dzikir ini, ia sedang menanam pohon untuk dirinya sendiri di surga——sebuah investasi akhirat yang tak ternilai.

4. Lebih Baik daripada Infak Satu Gunung Emas

Dalam riwayat Ath-Thabrani, Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang malam hari terasa sangat berat baginya dalam menjalaninya, atau bakhil dengan harta untuk menginfakkannya, atau takut terhadap musuh untuk memeranginya, maka hendaklah memperbanyak Subḥānallāhi wa biḥamdihī karena sesungguhnya ia lebih disukai Allah daripada satu gunung emas yang dia infakkan di jalan Allah". Ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan dzikir ini di sisi Allah.

5. Dzikirnya Seluruh Makhluk dan Sumber Rezeki

Dalam riwayat An-Nasa'i dan Al-Hakim, "Aku wasiatkan kepadamu untuk selalu mengucapkan Subḥānallāhi wa biḥamdihī, sebab kalimat ini adalah shalatnya (dzikirnya) segenap makhluk, dan dengannyalah semua makhluk diberi rezeki". Ini mengajarkan bahwa dzikir ini adalah irama alam semesta, seluruh makhluk bertasbih dengan memuji Allah, dan dari sanalah keberkahan dan rezeki mengalir.

Pertanyaan Seputar subhanallahi wa bihamdihi

1. Apa arti subhanallahi wa bihamdihi?

Artinya adalah "Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya." Kalimat ini merupakan dzikir yang menggabungkan tasbih (pensucian Allah dari segala kekurangan) dan tahmid (pujian atas kesempurnaan-Nya).

2. Apa keutamaan membaca subhanallahi wa bihamdihi?

Keutamaannya sangat besar: (1) Menghapus dosa meskipun sebanyak buih di lautan jika dibaca 100 kali sehari, (2) Berat di timbangan amal di hari kiamat, (3) Mendapat satu pohon kurma di surga setiap kali membacanya, (4) Lebih baik daripada infak satu gunung emas, dan (5) Merupakan dzikirnya seluruh makhluk.

3. Berapa kali sebaiknya membaca subhanallahi wa bihamdihi?

Dianjurkan membaca 100 kali setiap hari, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Juga dianjurkan membaca 100 kali di pagi dan sore hari. Selain itu, terdapat variasi dengan tambahan "‘adada khalqihī..." yang dibaca 3 kali sebagai bagian dari dzikir pagi dan petang.

4. Apakah dzikir ini termasuk amalan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW?

Ya, dzikir ini diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW dan diriwayatkan dalam banyak hadits shahih oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, dan lainnya. Bahkan Rasulullah SAW menyebutnya sebagai "sebaik-baik perkataan di sisi Allah" dan "kalimat yang dicintai oleh Ar-Rahman".

5. Kapan waktu terbaik membaca subhanallahi wa bihamdihi?

Waktu terbaik adalah setiap pagi dan sore hari, setelah shalat fardhu, dan kapan saja sebagai dzikir harian. Tidak ada batasan waktu khusus——keistimewaannya justru terletak pada kemudahan untuk diamalkan kapan pun dan di mana pun. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Thaha ayat 130, dianjurkan untuk bertasbih dengan memuji Allah di waktu pagi dan petang.