Yang Tersisa Setelah Haji: Doa, Air Mata, dan Kerinduan Kembali ke Tanah Suci

Jemaah haji Indonesia menceritakan pengalaman dan doa mereka sebelum pulang ke Tanah Air.

Diterbitkan 03 Juni 2026, 06:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Malam itu, Minggu, 31 Mei 2026, lobi sebuah hotel jemaah di kawasan Syisyah, Makkah, telah dipenuhi koper, tas tentengan, dan wajah-wajah yang menyimpan beragam perasaan. Setelah lebih dari 40 hari menjalani ibadah di Tanah Suci, para jemaah haji kini bersiap kembali ke rumah masing-masing.

Di tengah keramaian itu, Kamisah Kamil tampak sibuk menjaga barang bawaannya. Di antara oleh-oleh yang ia siapkan untuk keluarga, terselip beberapa boneka unta.

Bukan tanpa alasan ia membawa mainan khas Arab Saudi itu hingga ke Indonesia. Semua berawal dari permintaan sang cucu.

“Cucu pesan (dibawakan boneka unta). Tetangga beli, jadi dia minta juga,” ujar jemaah Kloter BTH 01 tersebut sambil tersenyum pada tim Media Center Haji di Makkah, Minggu.

Kamisah mengaku tak sabar bertemu kembali dengan keluarga. Kerinduan itu bercampur dengan rasa bahagia karena berhasil menuntaskan ibadah haji.

Namun, ada pula kesedihan yang diam-diam ia rasakan karena harus meninggalkan Makkah dan Madinah. “Mau pulang gembira, tapi insya Allah nanti datang lagi,” katanya penuh harap.

Perasaan serupa juga dirasakan jemaah lainnya, Eva Yenida. Bagi dirinya, perjalanan haji tahun ini meninggalkan banyak kesan mendalam.

Ia mengapresiasi pelayanan yang diberikan petugas haji Indonesia meski tetap menyimpan beberapa catatan untuk perbaikan. Menurut Eva, komunikasi antarpetugas masih perlu diperkuat agar informasi yang diterima jemaah tidak berbeda-beda.

“Komunikasi lebih ditingkatkan antara karu, karom, dan pembimbing ibadah. Kadang-kadang perintahnya tidak satu suara,” ujarnya di kesempatan yang sama.

Meski demikian, ia menilai pelayanan haji tahun ini berjalan baik. Bahkan, ia secara khusus menyampaikan apresiasi pada petugas yang selalu hadir membantu jemaah.

“Yang jelas tahun ini Kemenhaj (Kementerian Haji dan Umrah) is the best,” katanya.

Sementara itu bagi Nuraini La Kantoro Saleh, ada satu perasaan yang sulit disembunyikan: sedih meninggalkan Tanah Suci. Selama berada di Makkah, Eva hampir setiap hari memanfaatkan layanan bus shalawat untuk beribadah di Masjidil Haram.

“Saya sangat sedih. Saya tidak mau meninggalkan Kota Makkah,” tuturnya.

 

 

Rindu Cucu

Tidak jauh dari keduanya, Ahmad Jaelani berdiri mengalungi boneka unta berwarna putih. Mainan itu terlalu besar untuk dimasukkan ke dalam koper sehingga harus dibawa terpisah.

Di dalam bagasinya, ternyata masih ada beberapa boneka unta lain yang sudah disiapkan untuk cucu-cucunya.

“Cucu minta khusus beli (boneka) unta. Yang di bag ada empat lagi,” ujarnya.

Pria itu mengaku memiliki lima cucu. Kerinduan pada mereka menjadi salah satu alasan yang membuatnya ingin segera pulang.

“Cucu,” jawabnya singkat saat ditanya apa yang paling dirindukan dari kampung halaman.

Meski demikian, kerinduan pada keluarga tidak menghapus kesedihan karena harus meninggalkan Tanah Suci. Ahmad bahkan khawatir perjalanan haji tahun ini menjadi kunjungan terakhirnya ke Makkah dan Madinah.

“Saya sedih. Takut ini yang pertama dan terakhir, tidak bisa sampai ke sini lagi,” katanya.

Harapan untuk kembali masih terus ia simpan. Jika diberi umur panjang dan kesehatan, ia ingin datang lagi bersama anak, istri, dan cucu-cucunya.

“Mohon doa supaya saya bisa sampai lagi ke sini, walaup tidak pergi haji, tapi pergi umrah dengan anak, istri, dan cucu-cucu,” ucapnya.

Saat mengenang momen paling berkesan selama berada di Arab Saudi, suara Ahmad mendadak melambat. Ingatannya melayang ke Raudhah, tempat yang menurutnya menghadirkan pengalaman spiritual yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

“Saya meneteskan air mata di sana,” tuturnya.

Ia mengaku datang ke Tanah Suci dengan satu tujuan sederhana: memohon ampun pada Allah atas segala kesalahan yang pernah dilakukan sepanjang hidup.

“Saya orang berdosa. Saya datang ke sini mau mohon ampun pada Allah supaya dosa-dosa saya dan keluarga diampunkan,” katanya.

Di lobi hotel yang semakin ramai menjelang keberangkatan, para jemaah tampak membawa pulang oleh-oleh yang berbeda-beda.

Namun sesungguhnya, yang mereka bawa pulang bukan hanya barang-barang dari Tanah Suci. Ada kerinduan yang belum tuntas, doa-doa yang telah dipanjatkan, dan harapan untuk suatu hari bisa kembali menginjakkan kaki di kota yang kini begitu berat mereka tinggalkan.