Tren Belanja Ramadan Berubah, AI Kini Jadi Andalan Cari Promo dan Review

Menjelang Ramadan dan Idulfitri, IBM dan NRF menilai tren ini membuka fase baru industri ritel Indonesia mulai memanfaatkan AI untuk riset produk saat belanja

Diterbitkan 27 Februari 2026, 05:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Momen Ramadan dan Idulfitri, pola belanja masyarakat di Indonesia berubah cepat. Hal ini terungkap lewat studi global IBM.

Kolaborasi dengan National Retail Federation (NRF), perusahaan mengungkap dalam laporannya 45 persen konsumen kini memanfaatkan kecerdasan buatan atau AI untuk mendukung perjalanan belanja mereka.

Sedangkan, masih ada sekitar 72 persen responden masih datang ke toko fisik. Namun mereka tidak lagi datang tanpa persiapan. Sebelumnya, konsumen lebih dulu melakukan riset tentang produk yang ingin dibeli.

Sementara itu, ada sekitar 41 persen menggunakan AI untuk mencari informasi produk. Lalu 33 persen memakainya untuk menafsirkan ulasan, dan 31 persen untuk berburu penawaran terbaik.

Managing Director IBM Indonesia, Juvanus Tjandra, melihat perubahan ini sebagai fase penting bagi industri ritel nasional.

“Industri ritel Indonesia telah memasuki fase transformatif yang penting. AI tidak lagi sekadar meningkatkan efisiensi, melainkan menjadi fondasi untuk membangun koneksi yang lebih mendalam, aman, dan cerdas, dengan konsumen semakin digital dan ingin selalu terhubung,” ujarnya.

Ia menambahkan, “pelaku ritel yang mengintegrasikan AI ke dalam strategi data dan pengalaman pelanggan akan menentukan era pertumbuhan berikutnya.”

Ini berarti, toko fisik tetap ramai akan tetapi keputusan pembelian banyak ditentukan di ponsel. Sebelum membeli, konsumen kebanyakan melakukan perbandingan harga, mengecek review, hingga menyaring promo yang tersedia sebelum akhirnya masuk ke mall.

Laporan IBM tersebut juga mengungkap, 35 persen responden masih ingin berbelanja di toko dengan tampilan menarik dan belanja tanpa antrean. Namun, ekspektasi digital terus meningkat. 

Satu dari tiga konsumen mengincar super app yang mengintegrasikan belanja dengan layanan lain. Sekitar 30 persen berharap ada ekosistem rumah pintar dengan personal shopper berbasis AI dan pengiriman otonom. Lalu 29 persen ingin proses belanja makin mudah lewat platform sosial.

Tren ini sangat relevan untuk pasar dalam negeri, di mana Indonesia saat ini menjadi pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara. Terbukti, Data International Trade Administration mencatat Indonesia menyumbang lebih dari 52 persen total volume bisnis online ASEAN.

Pada 2023, nilai pasar e-commerce Indonesia diperkirakan mencapai USD 52,93 miliar dan diprediksi akan terus melonjak menjadi USD 86,81 miliar pada 2028.

Berbekal jumlah penduduk mencapai 280 juta jiwa dengan dominasi konsumen muda akrab dengan teknologi, momentum Ramadan menjadi krusial bagi brand dan pelaku ritel untuk menguji strategi digital mereka.

 

Langkah yang Perlu Diambil Brand dan Ritel

Studi tersebut juga menyoroti sejumlah langkah penting agar brand tetap relevan di era konsumen berbasis AI.

Pertama, ritel perlu mendesain ulang perjalanan pelanggan. Identifikasi titik keputusan saat konsumen memakai AI untuk riset dan bandingkan opsi. Pastikan pengalaman digital dan fisik terhubung mulus hingga pembayaran.

Kedua, manfaatkan agen AI untuk mengurangi ketidakpastian sejak awal. Tempatkan fitur pencarian promo, interpretasi ulasan, dan rekomendasi personal sebagai bagian dari strategi penjualan.

Ketiga, prioritaskan kesiapan data. Sebanyak 54 persen eksekutif brand mengakui tantangan lintas kanal dan sistem. Sinkronisasi informasi produk dan kebijakan jadi krusial agar pengalaman konsumen konsisten.

Keempat, jaga identitas brand. Gunakan AI untuk meningkatkan relevansi dan meminimalkan hambatan, sambil mempertahankan kreativitas dan keaslian. Kelima, perkuat kapabilitas dan kemitraan AI.

Sekitar 51 persen eksekutif mengakui keterbatasan keahlian AI sebagai tantangan utama. Investasi pada talenta dan kolaborasi strategis menjadi kunci implementasi yang efektif.

 

Babak Baru Ritel di Musim Hari Raya

Momen Ramadan dan Idulfitri selama ini identik dengan lonjakan konsumsi. Kini, momentum tersebut juga menandai babak baru inovasi ritel di Indonesia.

Brand yang melihat AI sebagai penggerak inovasi akan memiliki keunggulan jangka panjang. Integrasi yang tepat dalam operasional ritel menjadi kunci, tanpa menghilangkan kedekatan budaya dan hubungan personal yang selama ini menjadi kekuatan pasar Indonesia.

Musim perayaan tahun ini bukan sekadar soal diskon dan promo. Ini tentang bagaimana teknologi membentuk ulang cara orang mencari, memilih, dan membeli produk. Dan AI sudah berada di pusat perubahan itu.